Antikonvulsan adalah obat digunakan terutama untuk
mencegah dan mengobati bangkitan epilepsi (Epileptic seizure ). Golongan obat
ini lebih tepat dinamakan antiepilepsi, sebab obat ini jarang digunakan untuk
gejala konvulsi penyakit lain. Bromida, obat pertama yang digunakan untuk terapi
epilepsi telah di tinggalkan karena ditemukanya berbagai antiepilepsi baru yang
lebih efektif. Fenobarbital diketahui memiliki efek antikonvulsi spesifik, yang
berarti efek antikonvulsinya tidak berkaitan langsung dengan efek
hipnotiknya. Di Indonesia fenobarbital ternyata masih digunakan, walaupun di
luar negeri obat ini mulai banyak di tinggalkan. Fenitoin (difenilhidantoin),
sampai saat ini masih tetap merupakan obat utama antiepilepsi. Di samping itu karbamazepin yang relatif lebiih
baru makin banyak digunakan, krena dibandingkan denganf enobarbital pengaruhnya
terhadap perubahan tingkah laku maupun kemampuan kognitif lebih kecil.
Epilepsi (dari bahasa Yunani Kuno ἐπιληψία Epilepsia'''')
adalah gangguan neurologisumum kronis yang ditandai dengan kejang berulang
tanpa alasan. Ini adalah tanda-tanda kejang sementara dan atau gejala dari
aktivitas neuronal yang abnormal, berlebihan atau sinkron diotak. Sekitar 50
juta orang di seluruh dunia memiliki epilepsi, dengan hampir 90% dari
orang-orang yang di negara-negara berkembang.Epilepsi lebih mungkin terjadi
pada anak-anak muda, atau orang di atas usia 65 tahun,namun dapat terjadi
setiap saat.
Epilepsi
biasanya dikontrol, tapi tidak sembuhdenganpengobatan, meskipun operasi dapat
dipertimbangkan pada kasus yang sulit. Namun, lebih dari 30% orang dengan epilepsi tidak memiliki kontrol
kejang bahkan dengan obat terbaik yang tersedia. Tidak semua sindrom epilepsi
seumur hidup - beberapa bentuk terbatas pada stadium tertentu dari masa
kanak-kanak.
Epilepsi tidak harus dipahami sebagai gangguan
tunggal, tetapilebih sebagai sindrom dengan gejala jauh berbeda tetapi semua
yang melibatkan aktivitas listrik episodik abnormal di otak.Epilepsi
adalah sebuah kondisi otak yang dicirikan dengan kerentanan untuk kejang
berulang(peristiwa serangan berat, dihubungkan dengan ketidaknormalan
pengeluaran elektrik dari neuron pada otak). Kejang merupakan manifestasi
abnormalitas kelistrikan pada otak yang menyebabkan perubahan sensorik,
motorik, tingkah laku.
B. Penyebab Terjadinya Kejang
Antara lain trauma terutama pada kepala, encephalitis (radang otak), obat,birth trauma(bayi lahir dengan cara vacuum - kena kulit kepala - trauma), penghentian obat depresan secara
tiba-tiba, tumor,demam tinggi, hipoglikemia, asidosis, alkalosis, hipokalsemia,
idiopatik. Sebagian kecil disebabkan
oleh penyakit menurun. Kejang yang disebabkan oleh meningitis disembuhkan
dengan obat anti epilepsi, walaupun mereka tidak dianggap epilepsi.
Menurut International League Against Epilepsy (ILAE), kejang dapat dikategorikan menjadi 2 kelompok
utama yaitu kejang parsial ( Partial seizures) dan kejang keseluruhan (Generalized seizures). Kejang sebagian dibagi lagi menjadi kejang
parsial sederhana dan kejang parsialkompleks. Sedangkan kejang keseluruhan
dikelompokkan menjadi petit mal seizures (Absenceseizures); atypical absences; myoclonic
seizures; tonic clonic (grand mal) seizures; tonic, clonic,atonic
seizures.Pilihan Bangkitan Epilepsi Pemilihan
obat untuk terapi masing-masing bentuk epilepsi tergantung dari
bentuk bangkitn epilepsy secara klinis dan kelainan EEG nya. Tidak ada
satupun pilahan epilepsi yang dapat memuaskan dan diterima oleh semua ahli
penyakit saraf. Pilahan epilepsy secara internasioal tidak banyak membantu
sebagai pedoman untuk pembahasan obat anti epilepsi.Untuk maksud ini digunakan
pilahan yang lazim dipakai di klinik dan berkaitan erat dengan efektivitas obat
antiepilepsi.
Pada dasarnya, epilepsi dapat dibagi menjadi 2
golongan yaitu :
1.Bangkitan Umum ( Epilepsi Umum)
yang terdiri dari
a.
Bangkitan Tonik-klonik (Epilepsi Grand mal)
b.
Bangkitan Lena (Epilepsi Petit mal atau absences)
c.
Bangkitan Lena tidak khas (Atypical
absence)
d.
Bangkitan mioklonik (Epilepsi Mioklonik)
e.
Bangkitan klonik
f.
Bangkitan tonik
g.
Bangkitan atonik
h.
Bangkitan infantil (Spasme infantil)
2.Bangkitan parsial atau focal atau local (Epilepsi
parsial atau fokal)
a. Bangkitan parsial sederhana
b. Bangkitan parsial kompleks
c. Bangkitan parsial yang
berkembang mejadi bangkitan umum misalnya bangkitan tonik-klonik,bangkitan
tonik atau bangkitan klonik saja. Epilepsi
Psikomotor atau epilepsi lobus
temporalis merupakan bangkitan parsial kompleks atau bangkitan parsial yang
berkembang menjadi epilepsi umum bilafokusnya terletak di lobus temporalis
anterior.
C. Mekanisme Terjadinya Epilepsi
Konsep terjadinya epilepsi telah dikemukakan satu abad
yang lalu oleh John Hughlings Jackson, bapak epilepsi modern. Pada fokus
epilepsi di korteks serebri terjadi letupan yang timbul kadang-kadang, secara
tiba-tiba, berlebihan dan cepat, letupan ini menjadi bangkitan umum bila neuron
normal di sekitarnya terkena pengaruh letupan tersebut. Konsep ini masihtetap
di anut dengan beberapa perubahan kecil. Adanya letupan depolarisasi abnormal
yang menjadi dasar diagnosis diferensial epilepsi memang dapat dibuktikan.
DIAGNOSA
Diagnosis epilepsi biasanya membutuhkan bahwa kejang
terjadi secara spontan. Namun,sindrom epilepsi tertentu memerlukan pencetus
tertentu atau pemicu untuk kejang terjadi. Inidisebut refleks epilepsi. Sebagai
contoh, pasien dengan epilepsi baca utama mengalami kejang dipicu dengan
membaca. Epilepsi fotosensitif dapat terbatas pada kejang dipicu oleh lampu
berkedip. Pencetus lain dapat memicu kejang epilepsi pada pasien yang
dinyatakan akan rentan terhadap kejang spontan. Misalnya, anak-anak dengan
epilepsi pada anak tidak dapat menerima hiperventilasi. Bahkan, lampu berkedip
dan hiperventilasi yang mengaktifkan prosedur yang digunakan dalam EEG klinis
untuk membantu memicu kejang untuk membantu diagnosis.
Di masa lalu, epilepsi dikaitkan dengan pengalaman
religius dan bahkan kepemilikan setan. Padazaman kuno, epilepsi dikenal sebagai
"Penyakit Suci" karena orang berpikir bahwa serangan epilepsi adalah
bentuk serangan oleh setan, atau bahwa penglihatan yang dialami oleh
orang-orang dengan epilepsi dikirim oleh para dewa.
Namun, dalam kebanyakan budaya, orang dengan epilepsy
telah stigma, dijauhi, atau bahkan dipenjarakan.
D. Mekanisme Kerja
Antiepilepsi
Terdapat 2 mekanisme antikonvulsi yang penting yaitu
(1) dengan
mencegah timbulnya letupan depolarisasi eksesif pada neuron epileptik dalam
fokus epilepsi
(2) dengan mencegah terjadinya letupan depolarisasi
pada neuron normal akibat pengeruh fokus epilepsi.
Bagian terbesar antiepilepsi yang dikenal termasuk
dalam golongan terakhir ini.Mekanisme kerja antiepilepsi hanya sedikit yang di
mengerti secara baik. Berbagai obat antiepilepsi diketahui mempengaruhi
berbagai fungsi neurofisiologik otak, terutama yang mempengaruhi system
inhibisi yang melibatkan GABA dalam mekanisme kerja
berbagai antiepilepsi.
ANTIEPILEPSI
Obat Antiepilepsi terbagi dalam 8 golongan. Empat
golongan antiepilepsi mempunyai rumus dengan inti berbentuk cincin yang mirip satu sama lain yaitu golongan
hidantoin,barbiturate, oksazolidindion dan suksinimid.Akhir-akhir ini
karbamazepin dan asam valproat memegang peran penting dalam pengobatan
epilepsy, karbamazepin untuk bangkitan parsial sederhana maupun
kompleks,sedangkan asam valproat terutama untuk bangkitan lena maupun bangkitan
kombinasi lena dengan bangkitan tonik-klonik.
a. Golongan Hidantoin
Dalam golongan hidantoin dikenal tiga senyawa
antikonvulsi, fenitoin (Difenilhidatoin),mefinitoin dan etotoin dengan fenotoin
sebagai prototipe. Fenitoin adalah obat utama untuk hampir semua jenis
epilepsy, kecuali bangkitan lena. Adanya gugus fenil atau aromatic lainnya pada
atom C penting untuk efek
pengendalian bangkitan tonik-klonik, sedangkan gugus alkilbertalian dengan efek
sedasi, sifat yang terdapat pada mefenitoin dan barbiturat, tetapi tidak
padafenitoin. Adanya gugus metal pada atom N akan mengubah spectrum aktivitas
misalnyamefenitoin, dan hasil N dimetilisasi oleh enzim mikrosom hati
menghasilkan metabolit tidak aktif.
FARMAKOLOGI
Fenitoin berefek antikonvulsi tanpa menyebabkan
depresi umum. Dosis toksik menyebabkan
eksitasi dan dosis letal menimbulkan rigditas deserebrasi.Sifat antikonvulsi
fenitoin didasarkan pada penghambatan penjalaran rangsang dari fokus ke
bagianlain otak. Efek stabilitasi membran sel oleh fenitoin juga terlihat pada
saraf tepi dan membran sellainnya yang juga mudah terpacu misalnya sel sistem
konduksi jantung. Fenitoin mempengaruhiperpindahan ion melintasi membran sel,
dalam hal ini khususnya dengan menggiatkan pompano + neuron.
FARMAKOKINETIK
Absorbsi fenitoin yang diperlukan berlangsung
lambat, 10% daridosis oral diekskresikan melalui tinja dalam bentuk utuh. Kadar
puncak dalam plasma dicapaidalam 3-12 jam. Bila dosis muatan (loading dose)
perlu diberikan, 600-800 mg, dalam dosisterbagi antara 8-12 jam, kadar efektif
plasma akan tercapai dalam 24 jam. Pemberian fenitoinmengendap di tempat
suntikan kira-kira 5 hari, dan absorbs berlangsung lambat. \ Pengikatan
fenitoin oleh protein, terutama oleh albumin plasma kira-kira 90%. Pada orangsehat,
termasuk wanita hamil dan wanita pemakai obat kontrasepsi oral, fraksi bebas
kira-kira10%, sedangkan pada pasien dengan penyakit ginjal, penyakit hati atau
penyakit hepatorenal danneonatus fraksi bebas bebas rata-rata di atas 15%. Pada
pasien epilepsi, fraksi bebas berkisarantara 5,8%-12,6%. Fenitoin terikat kuat
pada jaringan saraf sehingga kerjanya bertahan lebihlama tetapi mula kerja
lebih lambat dari fenobarbital.
INTERAKSI OBAT
Kadar fenition dalam plasma akan meninggi bila
diberikan bersama kloramfenikol, disulfiram, INH, simetidin, dikumarol, dan
beberapa sulfonamide tertentu, karna obat-obat tersebut mengambat
biotransformasi fenition, sedangkan sulfisoksazol, fenilbutazon, salisilat dan
asam valproat akan mempengaruhi ikatan protein plasma fenitoin sehingga
meninggikan juga kadarnya dalam plasma.
Teofilin menurunkan kadar fenitoin bila diberikan bersamaan, diduga karena teofilin meningkatkan biotransformasi
fenitoin juga mengurangi absorpsinya
INTOKSIKASI DAN EFEK SAMPING
a.
SUSUNAN SARAF PUSAT
Efek samping fenitoin tersering ialah diplopia,ataksia,vertigo,nistagmus,
sukar bebicara (slurred speech) disertai gejala lain ,misalnya tremor, gugup,
kantuk, rasa lelah, gangguan mental yang sifatnya berat ,ilusi,halusinasi
sampai psikotik.defisiensi folat yang cukup lama merupakan factor yang turut
berperan dalam terjadinyagangguan mental.efek samping SSP lebih sering terjaadi
dengan dosis melebihi 0,5 g sehari.
b.
SALURAN CERNA DAN
GUSI.
Nyeri ulu hati,anoreksia,mual dan muntah,terjadi
karenafenitoin bersifat alkali.Ploriferasi epitel dan jaringan ikat gusi dapat
terjadi pada penggunaan kronik ,dan menyebabkan hyperplasia pada 20% pasien .
c.
KULIT
Efek samping pada kulit terjadi pada 2-5% pasien
,lebih sering pada anak dan remaja yaitu berup aruam morbiliform.beberapa kasus
diantaranya disertai hiperpireksia,eosinofilia,dan terjadi ruam
kulit sebaiknya pemberian obat dihentikan ,dan diteruskan kembali dengan
berhati-hati bila kelainan kulit telah hilang.Pada wanita muda ,pengobatan
fenitoin secara kronik menyebabkan keratosis danhirsutisme,karena meningkatnya
aktivitaas korteks suprarenalis.
Bila timbul gejala hepatotoksisitas berupa ikterus
atau hepatitis, anemia megaloblastik (antara lain akibat defisiensi folat) atau
kelainan darah jenis lain,pengobatan perlu dihentikan. Fenitoin bersifat
teratogenik.kemungkinan melahirkan bayi dengan cacat kongnital meningkat
menjadi 3 kali , bila ibunya mendapatkan terapi fenitoin selama trimester
pertama kehamilan .cacat congenital yang menonjol ialah keiloskisis dan
palatoskisis. Pada kehamilan lanjut ,fenitoin menyebabkan abnormalitas tulang
pada neonatus . pengunaan fenitoin pada wanita hamil tetap diteruskan
berdasarkan pertimbangan bahwa bangkitan epilepsi sendiri dapat menyebabkan
cacatpada anak sedanfg tidak semua ibu yang minum fenitoin mendapat anak cacat.
INDIKASI
Fenitoin di indikasikan terutama untuk bangkitan
tonik-klonik dan bangkitan persial atau fokal. Banyak ahli penyakit saraf di
Indonesia lebih menyukai penggunaan fenobarbital karena batas keamanan yang
sempit, efek samping dan efek toksik, sekalipun ringantetapi cukup mengganggu
terutama pada anak.Indikasi lain fenitoin ialah untuk neuralgia trigerminal dan
aritmia jantung. Fenitoin juga digunakan pada terapi renjatan listrik (ECT)
untuk meringankan konvulsinya dan bermanfaat pula terhadap kelainan ekstra
piramidal iatrogenic.
SEDIAAN DAN POSOLOGI.
Fenitoin atau difenilhidantoin tersedia sebagai garam
Nadalam bentuk kapsul 100 mg dan tablet kunyah 30 mg untuk pemberian oral,
sedangkan sediaan suntik 100mg/2ml. Disamping itu juga tersedia bentuk sirup
dengan takaran 125mg/5ml.Harus diperhatikan agar kadar plasma optimal, yaitu
berkisar antara 10-20µg/ml. kadardibawahnya kurang efektif untuk pengendalian
konvulsi, sedangkan jika kadar lebih tinggi akan bersifat toksik. Dosis
fenitoin selalu harus disesuaikan untuk masing-masing individu, patokankadar
terapi antara 10-20µg/ml bukan merupakan angka mutlak karena beberapa pasien
menunjukan efektivitas fenitoin yang baik pada kadar 8µg/ml, sedangkan pada pasien
lain,nistagmus sudah terjadi pada kadar 15µg/ml.Untuk pemberian oral, dosis
awal untuk dewasa 300 mg, dilanjutkan dengan dosis penunjang antara 300-400mg,
maksimum 600mg sehari. Anak diatas 6 tahun, dosis awal sama dengan dosis
dewasa, sedangkan untuk anak dibawah 6 tahun, dosis awal 1/3 dosis dewasa,
dosis penunjang ialah 4-8 mg/kgBB sehari, maksimum 300mg. Dosis awal dibagi
dalam 2-3 kali pemberian
b. Golongan Barbiturat
Disamping sebagai hipnotik-sedatif, golongan
barbiturate efektif sebagai obat antikonvulsidan yang biasa digunakan adalah
barbiturate kerja lama (long acting
barbiturates). Disini dibicarakan efek
antiepilepsi prototip barbiturate yaitu fenobarbital dan pirimidon yang
strukturkimia nya mirip dengan barbiturate.Sebagai antiepilepsi fenobarbital
menekan letupan di fokus epilepsy. Barbiturat menghambattahap akhir oksidasi
mitokondria,sehingga mengurangi pembentukan fosfat berenergi tinggi.Senyawa
fosfat ini perlu untuk sintesis neurotransmitor misalnya Ach, dan untuk
repolarisasimembrane sel neuron setelah depolarisasi.
c. Fenobarbital
Fenobarbital, asam 5,5-fenil-etil barbiturate,
merupakan senyawa organik pertama yangdigunakan dalam pengobatan antikonvulsi.
Kerjanya membatasi penjalaran aktivitas bangkitan dan menaikkan ambang
rangsang. Dosis efektifnya relatif rendah. Efek sedatif, dalam hal ini dianggap
sebagai efek samping, dapat diatasi dengan pemberian stimulan sentral tanpa
mengurangi efek antikonvulsinya.Dosis dewasa yang biasa digunakan ialah dua
kali 100mg sehari. Untuk mengendalikan epilepsy disarankan kadar plasma
optimal. Berkisar antara 10-40µg/ml. Kadar plasma diatas40µg/ml sering disertai
gejala toksik yang nyata. Penghentian pemberian fenobarbital harussecara
bertahap guna mencegah kemungkinan meningkatnya frekuensi bangkitan kembali,
ataumalahan bangkitan status epileptikus.Interaksi fenobarbital dengan obat
lain umumnya terjadi karena frnobrbital meningkatkanaktivitas enzim mikrosom
hati. Kombinasi dengan asam valproat akan menyebabkan kadarfenobarbital
meningkat 40%.
d. Golongan Oksazolidindion
TRIMETADION
Trimetadion ( 3,5,5 trimetiloksazolidin 2,4,dion),
sekalipun telah terdesak oleh suksinimid,merupakan prototip obat bangkitan
lena. Trimetadion juga bersifat analgetik dan hipnotik.
FARMAKODINAMIK.
Pada SSP, trimetadion memperkuat depresi
pascatransmisi,sehingga transmisi impuls berurutan dihambat, transmisi impuls
satu per satu tidak terganggu.Trimetadion memulihkan EEG abnormal pada bagkitan
lena.
FARMAKOKINETIK.
Trimetadion per oral mudah di absorbsi dari saluran
cerna dan didistribusi ke berbagai cairan badan. Biotransformasi trimetadion
terutama terjadi di hati dengan demetilasi yang menghasilkan didion (5,5,
dimetiloksazolidin ,2,4, dion ). Senyawa ini masihaktif masih aktif terhadap
bangkitan lena, tetapi efek antikonvulsi nya lebih lemah.
INTOKSIKASI & EFEK
SAMPING.
Intoksikasi dan efek samping trimetadion yangbersifat
ringan berupa sedasi hemeralopia, sedang yang bersifat lebih berat berupa
gejala padakulit,darah,ginjal dan hati. Gejala intoksikasi lebih sering ttimbul
pada pengobatan kronik.Sedasi berat dapat diatasi dengan amfetamin tanpa
mengurangi efek antiepilepsinya, bahkansesekali amfetamin dapat menekan
bangkitan lena.Efek samping pada kulit berupa rua morbiliform dan kelainan
akneform, lebih berat lagiberupa dermatitis eksfoliatif atau eritema
multiformis. Kelainan darah berupa neutropenia ringan,tetapi anemia aplastik
dapat bersifat fatal. Gangguan fungsi ginjal dan hati,berupa syndromenefrotik
dan hepatitis, dapat menyebabkan kematian.
INDIKASI.
Indikasi utama trimetadion ialah bangkitan lena murni
(tidak disertai komponenbangkitan bentuk lain). Trimetadion dapat menormalkan
gambaran EEG dan meniadakankelainan EEG akibat hiperventilasi maksimal pada 70%
pasien. Bangkitan lena yang timbul padaanak umumnya sembuh menjelang dewasa.
Dalam kombinasi dengan trimetadion, efek sedasifenobarbital dan primidon dapat
memberat. Sebaiknya jangan dikombinasikan denganmefenitoin, sebab gangguan pada
darah dapat bertambah berat.Penghentian terapi trimetadion harus secara
bertahap karena bahaya eksaserbasi bangkitandalam bentuk epileptikus, demikian
pula obat lain yang terlebih dulu diberikan.
KONTRAINDIKASI.
Trimetadion di kontraindikasikan pada pasien anemia,
leucopenia,penyakit hati, ginjal dan kelainan n.opticus.
e. Golongan Suksinimid
Antiepilepsi golongan suksinimid yang digunakan di
klinik adalah etosuksimid,metsuksmid dan fensuksimid. Berdasarkan penelitian
pada hewan, terungkap bahwaspectrum antikonvulsi etosuksimid sama dengan
trimetadion. Sifat yang menonjol darietosuksimid dan trimetadion adalah
mencegah bangkitan konvulsi pentilentetrazol.Etosuksimid, dengan sifat
antipentilentetrazol terkuat, merupakan obat yang paling selektif terhadap
bangkitan lena.
Etosuksimid Etosuksimid di absorbs lengkap melalui saluran
cerna. Setelah dosis tunggal oral,diperlukan waktu antara 1-7 jam untuk
mencapai kadar puncak dalam plasma. Distribusimerata ke segala jaringan, dan
kadar cairan serebrospina saa dengan kadar plasma. Efek samping yang
sering timbul ialah mual, sakit kepala, kantuk dan ruam kulit. Gejala yanglebih
berat berupa agranulositosis dan pansitopenia. Dibandingkan dengan trimetadion.etosuksimid lebih jarang menimbulkan diskrasia
darah, dan nefrotoksisitas belum pernahdilaporkan, sehingga etosuksmid umumnya
lebih disukai dari pada Trimetadion.Etosuksimid merupakan obat terpilih untuk
bangkitan lena. Terhadap bangkitan lena padaanak, efektivitas etosuksimid sama
dengan trimetadion, 50-70 % pasien dapat dikendalikanbagkitannya. Obat ini juga
efektif pada bangkitan mioklonik dan bangkitan akinetik.Etosuksimid tidak
efektif untuk bangkitan parsial kompleks dan bangkitan tonik-klonik umum
atau pasien kejang dengan kerusakan organik otak yang berat.
f. Karbamazepin
Karbamazepin pertama-tama digunakan untuk pengobatan
trigeminal neuralgia,kemudian ternyata bahwa obat ini efektif terhadap
bangkitan tonik-klonik. Saat ini,karbamazepin merupakan antiepilepsi utama di
Amerika Serikat.Karbamazepin memperlihatkan efek analgesic selektif, misalnya
pada tabes dorsalis danneuropati lainnya yang sukar diatasi dengan analgesik
biasa. Atas perhitungan untung-rugikarbamazepin tidak dianjurkan untuk nyeri
ringan.Efek samping dari karbamazepin dalam pemberian obat jangka lama ialah
pusing,vertigo, ataksia, diplopia, dan penglihatan kabur. Frekuensi baangkitan
dapat meningkat akibat dosis berlebih. Karena potensinya untuk menimbulkan efek
samping sangat luas, makapada pengobatan dengan karbamazepin dianjurkan
pemeriksaan nilai basal dari darah danmelakukan pemeriksaan ulangan selama
pengobatan.Fenobarbital dan fenitoin dapat meningkatkan kadar karbamazepin, dan
biotransformasikarbamazepin dapat dihambat oleh eritromisin. Konversi primidon
menjadi fenobarbital ditingkatkan oleh karbamazepin,sedangkan pemberian
karbamazepin bersama asam valproatakan menurunkan kadar asam valproat.
POSOLOGI.
Dosis anak di bawah 6 tahun, 100mg sehari, 6-12 tahun,
2 kali 100mgsehari. Dosis dewasa : dosis awal 2 kali 200 mg hari pertama
selanjutnya dosis di tingkatkan secara bertahap. Dosis penunjang berkisar
antara 800-1200 mg sehari untuk dewasa atau 20-30 mg/kgBB untuk anak. Dengan
dosis ini umumnya tercapai kadar terapi dalam serum 6-8µg/ml.
g. Golongan Benzodiazepin
DIAZEPAM
Diazepam adalah turunan dari benzodiazepine
dengan rumus molekul 7-kloro-1,3-dihidro-1-metil-5-fenil-2H-1,4-benzodiazepin-2-on.
Merupakan senyawa Kristal tidak berwarna atau agak kekuningan yang tidak
larut dalam air.
Secara umum , senyawa aktif benzodiazepine dibagi kedalam 4 kategori berdasarkan waktu paruh
eliminasinya, yaitu :
1. Benzodiazepin ultra short-acting
2.Benzodiazepin short-acting, dengan waktu paruh
kurang dari 6 jam. Termasuk didalamnya triazolam, zolpidem dan zopiclone.
3.Benzodiazepin intermediate-acting, dengan waktu
paruh 6 hingga 24 jam. Termasuk didalamnya estazolam dan temazepam.
4.Benzodiazepin long-acting, dengan waktu paruh
lebih dari 24 jam. Termasuk didalamnya flurazepam, diazepam dan quazepam.
Dipasaran, diazepam tersedia dalam bentuk tablet,
injeksi dan gel rectal, dalam berbagaidosis sediaan. Beberapa nama dagang
diazepam dipasaran yaitu Stesolid®,Valium®,
Validex® dan Valisanbe®, untuk sediaan tunggal dan Neurodial®, Metaneuron®dan Danalgin®,
untuk sediaan kombinasi dengan metampiron dalam bentuk sediaan tablet.
PENGGUNAAN TERAPI:
a.
INDIKASI
Diazepam digunakan untuk memperpendek mengatasi
gejala yang timbul seperti gelisah yang berlebihan, diazepam juga dapat
diinginkan untuk gemeteran, kegilaan dan dapat menyerangsecara tiba-tiba.
Halusinasi sebagai akibat mengkonsumsi alkohol.
Diazepam juga dapat digunakan untuk kejang otot,
kejang otot merupakan penyakit neurologi. dizepam digunakan sebagai obat penenang dan dapat
juga dikombinasikan dengan obat lain.
b. KONTRAINDIKASI
1. Hipersensitivitas
2. Sensitivitas silang dengan benzodiazepin lain
3. Pasien koma
4. Depresi SSP yang sudah ada sebelumnya
5. Nyeri berat tak terkendali
6. Glaukoma sudut sempit
7. Kehamilan atau laktasi
8. Diketahui intoleran terhadap alkohol atau glikol
propilena (hanya injeksi)
EFEK SAMPING & PERHATIAN
Sebagaimana obat, selain memiliki efek yang
menguntungkan diazepam juga memiliki efek samping yang perlu diperhatikan
dengan seksama. Efek samping diazepam memiliki tiga kategori efek samping, yaitu :
1.Efek samping yang sering terjadi, seperti : pusing, mengantuk
2.Efek samping yang jarang terjadi, seperti : Depresi,
Impaired Cognition
3.Efek samping yang jarang sekali terjadi,seperti :
reaksi alergi, amnesia, anemia,angioedema, behavioral disorders, blood
dyscrasias, blurred vision, kehilangankeseimbangan, constipation, coordination
changes, diarrhea,.
PERHATIAN
Peringatan yang perlu diperhatikan bagi pengguna
diazepam sebagai berikut :
1.Pada ibu hamil diazepam sangat tidak dianjurkan karena dapat sangat
berpengaruh pada janin.
Kemampuan diazepam untuk melalui plasenta tergantung pada derajat relativitasdari ikatan protein pada ibu dan janin. Hal ini
juga berpengaruh pada tiap tingkatankehamilan dan konsentrasi asam lemak bebas
plasenta pada ibu dan janin. Efek sampingyang dapat timbul pada bayi neonatus
selama beberapa hari setelah kelahiran disebabkanoleh enzim metabolism obat
yang belum lengakp. Kompetisi antara diazepam danbilirubin pada sisi ikatan
protein dapat menyebabkan hiperbilirubinemia pada bayineonatus.
2.Sebelum menggunakan diazepam harap kontrol pada dokter terlebih dahulu.
3. Jika berusia diatas 65 tahun dosis yang diberikan tidak boleh terlalu
tinggi karena dapat membahayakan jiwa pasien tersebut. Usia lanjut dapat
mempengaruhi distribusi,eliminasi dan klirens dari benzodiazepine.
4. Obat ini tidak diperbolehkan diminum pada saat membawa kendaraan karena
obat ini menyebabkan mengantuk.
5.Pada pasien yang merokok harus konsultasi pada dokter lebih dahulu
sebelummenggunakan diazepam, karena apabila digunakan secara bersamaan dapat
menurunkanefektifitas diazepam.
6.Jangan menggunakan diazepam apabila menderita glukoma narrowangle karena
dapatmemperburuk penyakit
7.Katakan pada dokter jika memiliki alergi.
8.Hindarkan penggunaan pada pasien dengan depresi CNS atau koma, depresi pernafasan,insufisiensi
pulmonari akut,, miastenia gravis, dan sleep apnoea
9.Hati-hati penggunaan pada pasien dengan kelemahan otot serta penderita
gangguan hatiatau ginjal, pasien lanjut usia dan lemah.
10.Diazepam tidak sesuai untuk pengobatan psikosis kronik atau obsesional
states .
INTERAKSI OBAT
1.Alkohol, antidepresan, antihistamin dan analgesik
opioid pemberian bersamaan mengakibatkan depresi tambahan.
2.Simetidin, kontrasepsi oral, disulfiram,
fluoksetin, isoniazid, ketokonazol, metoprolol,propoksifen, propranolol, atau
asam valproat dapat menurunkan metabolisme diazepam,memperkuat kerja diazepam.
3.Dapat menurunkan efisiensi levodopa.
4.Rifampicin atau barbiturat dapat meningkatkan
metabolisme dan mengurangi efektifitas diazepam.
5.Efek sedatifnya dapat menurun karena teofilin.
6.Ikatan plasma dari diazepam dan DMDZ akan
direduksi dan konsentrasin obat yang bebasakan meningkat, segera setelah
pemberian heparin secara intravena.
7.Diazepam yang diberikan secara oral akan sangat
cepat diabsorbsi stelah pamberian metoclorpropamida secara intravena. Perubahan
motilitas dari gastrointestinal jugamemberikan pengaruh terhadap proses
absorbsi.
8.Benzodiazepin tidak digunakan bersamaan dengan
intibitor protease-HIV, termasuk alprazolam, clorazepate, diazepam,
estazolam, flurazepam, dan triazolam.
RUTE & DOSIS PEMBERIAN
- Antiansietas, Antikonvulsan.
1.PO (Dewasa) : 2-10 mg 2-4 kali sehari atau 15-30
mg bentuk lepas lambat sekalisehari.
2.PO (anak-anak > 6 bulan) : 1-2,5 mg 3-4 kali
sehari.
3.IM, IV (Dewasa) : 2-10 mg, dapat diulang dalam
3-4 jam bila perlu
.- Pra-kardioversi
1.IV (Dewasa) : 5-15 mg 5-10 menit prakardioversi.
- Pra-endoskopi
1.IV (Dewasa) : sampai 20 mg.
2.IM (Dewasa) : 5-10 mg 30 menit pra-endoskopi.
- Status Epileptikus
1. IV (Dewasa) : 5-10 mg, dapat diulang tiap 10-15
menit total 30 mg, programpengobatan ini dapat diulang kembali dalam 2-4 jam
(rute IM biasanya digunakanbila rute IV tidak tersedia).
2.IM, IV (Anak-anak > 5 tahun) : 1 mg tiap 2-5
menit total 10 mg, diulang tiap 2-4 jam.
3.IM, IV (Anak-anak 1 bulan – 5 tahun) : 0,2-0,5 mg tiap 2-5 menit sampai
maksimum 5mg, dapat diulang tiap 2-4 jam.
4.Rektal (Dewasa) : 0,15-0,5 mg/kg (sampai 20
mg/dosis).
5.Rektal (Geriatrik) : 0,2-0,3 mg/kg.
6.Rektal (Anak-anak) : 0,2-0,5 mg/kg
- Relaksasi Otot Skelet
1.PO (Dewasa) : 2-10 mg 3-4 kali
sehari atau 15-30 mg bentuk lepas lambat satu kalisehari. 2-2,5 mg 1-2 kali
sehari diawal pada lansia atau pasien yang sangat lemah.
2.IM, IV (Dewasa) : 5-10 mg (2-5 mg pada pasien yang
sangat lemah) dapat diulangdalam 2-4 jam.
-Putus Alkohol
1.PO (Dewasa) : 10 mg 3-4 kali pada 24 jam pertama,
diturunkan sampai 5 mg 3-4 kalisehari.
2.IM, IV (Dewasa) : 10 mg di awal, keudian 5-10 mg
dalam 3-4 jam sesuai keperluan
h. Asam Valproat
Asam valproat merupakan pilihan pertama untuk terapi
kejang parsial, kejang absens,kejang mioklonik, dan kejang tonik-klonik (11).
Asam valproat dapat meningkatkan GABAdengan menghambat degradasi nya atau
mengaktivasi sintesis GABA. Asam valproat jugaberpotensi terhadap respon GABA
post sinaptik yang langsung menstabilkan membran serta mempengaruhi kanal
kalium (10). Dosis penggunaan asam valproat 10-15 mg/kg/hari (11).Efek samping
yang sering terjadi adalah gangguan pencernaan (>20%), termasuk mual,muntah,anorexia dan
peningkatan berat badan. Efek samping lain yang mungkin ditimbulkan adalah
pusing, gangguan keseimbangan tubuh, tremor, dan kebotakan. Asamvalproat
mempunyai efek gangguan kognitif yang ringan. Efek samping yang berat dari
penggunaan asam valproat adalah hepatotoksik.
Berikut ini beberapa
jenis obat ANTIKONVULSI yang dapat menyebabkan masalah jika digunakan pada masa
kehamilan :
a. Carbamazepine, phenobarbital, phenytoin: menyebabkan
perdarahan pada bayi baru lahir. Namun dapat dicegah apabila ibu mengkonsumsi
vitamin K setiap hari sebelum persalinan berlangsung atau dengan memberikan
injeksi vitamin K pada bayi baru lahir.
b.
Valproate: dapat
menyebabkan bibir sumbing dan defek pada jantung, tengkorak, tulang belakang.
c.
Trimethadione:
menyebabkan keguguran, bibir sumbing dan defek pada jantung, tengkorak, maupun
pada organ abdomen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar