PENGERTIAN
ANTIBIOTIK
Antibiotik pertama kali ditemukan
oleh Alexander Fleming pada tahun 1928 yang secara kebetulan menemukan suatu
zat antibakteri yang sangat efektif yaitu Penisilina. Penisilina ini pertama
kali dipakai di dalam ilmu kedokteran pada tahun 1939 oleh Chain dan Florey
(Widjajanti, 1999).
Kata antibiotik berasal dari
bahasa yunani yaitu-anti (melawan) dan-biotikos(cocok untuk
kehidupan). Istilah ini diciptakan oleh Selman tahun 1942 untuk menggambarkan
semua senyawa yang diproduksi oleh mikroorganisme yang dapat menghambat
pertumbuhan mikroorganisme lain. Namun istilah ini kemudian digeser dengan
ditemukannya obat antibiotik sinetis. Penggunaan istilah antimikroba cenderung
mengarah ke semua jenis mikroba dan termasuk didalamnya adalah antibiotik, anti
jamur, anti parasit, anti protozoa, anti virus, dll.
Mikroorganisme yang dihambat oleh
antibiotik khusunya adalah bakteri. Maka dari itu antibiotik bersinosim dengan
anti-bakteri. Antibiotik berbeda dengan istilah disinfectant karena
desifektant membunuh kuman dengan cara membuat lingkungan yang tidak wajar bagi
kuman. Sedangkan kerja dari antibiotik adalah cenderung bersifat Toksisitas
Selektif dalam arti dapat membunuh kuman tanpa merugikan inang.
Antibiotik yaitu zat yang dihasilkan
oleh mikroba, terutama fungi yang dapat menghambat pertumbuhan atau membasmi
mikroba jenis lain (Anonim, 2000).
Antibiotika
ialah zat yang dihasilkan oleh mikroba terutama fungi, yang dapat menghambat
pertumbuhan atau membasmi jenis mikroba lain.
Antibiotik ( latin : anti = lawan, bios = hidup )
adalah zat-zat kimia yang dihasilkan mikro organisme hidup terutama fungi dan
bakteri tanah, yang memiliki khasiat mematikan atau mengahambat pertumbuhan banyak
bakteri dan beberapa virus besar, sedangkan toksisitasnya bagi manusia relative
kecil.
2.2 PENGGOLONGAN ANTIBIOTIK
Antibiotik dapat digolongkan menjadi beberapa golongan, yaitu :
1.
Berdasarkan
struktur kimia
2.
Berdasarkan
mekanisme kerja
3.
Berdasarkan
daya kerja
4.
Berdasarkan
spektrum kerjanya
2.2.1 PENGGOLONGAN ANTIBIOTIK BERDASARKAN STRUKTUR KIMIA
Berdasarkan
struktur kimianya, antibiotik dibagi menjadi :
· Aminoglikosida
Diantaranya amikasin, dibekasin, gentamisin, kanamisin, neomisin, netilmisin, paromomisin, sisomisin, streptomisin, tobramisin.
Diantaranya amikasin, dibekasin, gentamisin, kanamisin, neomisin, netilmisin, paromomisin, sisomisin, streptomisin, tobramisin.
· Beta-Laktam
Diantaranya golongan karbapenem (ertapenem, imipenem, meropenem), golongan sefalosporin (azteonam, sefaleksin, sefazolin, sefuroksim, sefadroksil, seftazidim), golongan beta-laktam monosiklik, dan golongan penisilin (benzyl penisilin, oksisilin, fenoksimetilpenisilin, ampisilin, amoksisilin).
Diantaranya golongan karbapenem (ertapenem, imipenem, meropenem), golongan sefalosporin (azteonam, sefaleksin, sefazolin, sefuroksim, sefadroksil, seftazidim), golongan beta-laktam monosiklik, dan golongan penisilin (benzyl penisilin, oksisilin, fenoksimetilpenisilin, ampisilin, amoksisilin).
· Glikopeptida
Diantaranya vankomisin, teikoplanin, ramoplanin dan dekaplanin.
Diantaranya vankomisin, teikoplanin, ramoplanin dan dekaplanin.
· Polipeptida
Diantaranya golongan makrolida (eritromisin, azitromisin, klaritromisin,
roksitromisin), golongan ketolida (telitromisin), golongan tetrasiklin
(doksisiklin, oksitetrasiklin, klortetrasiklin).
· Polimiksin
Diantaranya polimiksin dan kolistin.
Diantaranya polimiksin dan kolistin.
· Kinolon (fluorokinolon)
Diantaranya asam nalidiksat, siprofloksasin, ofloksasin, norfloksasin,
levofloksasin, dan trovafloksasin.
· Streptogramin
Diantaranya pristinamycin, virginiamycin, mikamycin, dan kinupristin-dalfopristin.
Diantaranya pristinamycin, virginiamycin, mikamycin, dan kinupristin-dalfopristin.
· Oksazolidinon
Diantaranya linezolid dan AZD2563.
Diantaranya linezolid dan AZD2563.
· Sulfonamida
Diantaranya kotrimoksazol dan trimetoprim.
Diantaranya kotrimoksazol dan trimetoprim.
· Antibiotika
lain yang penting, seperti kloramfenikol, klindamisin dan asam fusidat.
2.2.2 PENGGOLONGAN ANTIBIOTIK BERDASARKAN MEKANISME KERJA
·
Antibiotik yang menghambat metabolisme sel.
Antibiotik yang termasuk dalam kelompok ini
adalah sulfonamid, trimetoprim, asam p-aminosalisilat (PAS) dan sulfon. Obat
tersebut menghasilkan efek bakteriostatik, misalnya : trimetoprim menghambat
sintesis enzim dihidrofolat menjadi asam tetrahidrofolat, sulfonamid atau
sulfon membentuk analog asam folat yang non fungsional.
·
Antibiotik yang menghambat sintesis dinding sel
Dinding sel bakteri terdiri dari
polipeptidoglikan. Sikloserin menghambat sintesis dinding sel yang paling dini,
diikuti berturut-turut oleh basitrasin, vankomisin, dan diakhiri oleh penisilin
dan sefalosporin yang menghambat reaksi terakhir (transpeptidasi) dalam
rangkaian tersebut.
·
Antibiotik yang mengganggu keutuhan membran sel.
Obat yang termasuk dalam kelompok
ini ialah polimiksin, golongan polien, dan antibiotik kemoterapetik. Polimiksin
merusak membran sel setelah bereaksi dengan fosfat pada fosfolipid membran sel
mikroba, polien bereaksi dengan struktur sterol pada membran sel fagus sehingga
mempengaruhi permeabilitas selektif membran tersebut (Ganiswarna, 1995).
·
Antibiotik yang menghambat sintesis protein.
Beberapa dari antibiotik seperti
itu, tetapi mekanismenya berbeda, tetrasiklin mengganggu fungsi tRNA dan
aminoglikosid mengganggu fungsi mRNA; kloramfenikol menghambat peptydil
transferase; lincomysin bersama clindamisin mengganggu translokasi.
·
Antibiotik yang mempengaruhi sintesis asam nukleat.
Beberapa antibiotik seperti itu, tetapi berbeda
dengan mekanismenya; metronidazol dan nitrofurantoin merusak DNA, golongan
quinolon menghambat DNA gyrase, rifampisin menghambat RNA polymerase,
sulfonamid dan trimetroprim menghambat sintesis asam folat (Ganiswarna, 1995).
2.2.3 PENGGOLONGAN ANTIBIOTIK BERDASARKAN DAYA KERJA
Berdasarkan daya kerjanya, antibiotik
dibagi menjadi :
·
Bakterisid :
Antibiotika yang bakterisid secara aktif membasmi kuman, dengan kata lain antibiotik ini dapat membunuh bakteri. Termasuk dalam golongan ini adalah penisilin, sefalosporin, aminoglikosida (dosis besar), kotrimoksazol , polipeptida, rifampisin, isoniazid dll.
Antibiotika yang bakterisid secara aktif membasmi kuman, dengan kata lain antibiotik ini dapat membunuh bakteri. Termasuk dalam golongan ini adalah penisilin, sefalosporin, aminoglikosida (dosis besar), kotrimoksazol , polipeptida, rifampisin, isoniazid dll.
·
Bakteriostatik :
Antibiotika bakteriostatik bekerja dengan mencegah atau menghambat pertumbuhan atau perkembangbiakan bakteri, tidak membunuhnya, sehingga pembasmian bakteri sangat tergantung pada daya tahan tubuh. Termasuk dalam golongan ini adalah sulfonamida, tetrasiklin, kloramfenikol, eritromisin, trimetropim, linkomisin, makrolida, klindamisin, asam paraaminosalisilat, dll. Antibiotik tertentu (misalnya INH dan eritromisin) aktivitasnya dapat meningkat dari bakteriostatik menjadi bakterisid bila kadar antimikrobanya ditingkatkan melebihi kadar hambat minimal (KHM) (Ganiswarna, 1995).
Antibiotika bakteriostatik bekerja dengan mencegah atau menghambat pertumbuhan atau perkembangbiakan bakteri, tidak membunuhnya, sehingga pembasmian bakteri sangat tergantung pada daya tahan tubuh. Termasuk dalam golongan ini adalah sulfonamida, tetrasiklin, kloramfenikol, eritromisin, trimetropim, linkomisin, makrolida, klindamisin, asam paraaminosalisilat, dll. Antibiotik tertentu (misalnya INH dan eritromisin) aktivitasnya dapat meningkat dari bakteriostatik menjadi bakterisid bila kadar antimikrobanya ditingkatkan melebihi kadar hambat minimal (KHM) (Ganiswarna, 1995).
Manfaat
dari pembagian ini dalam pemilihan antibiotika mungkin hanya terbatas, yakni
pada kasus pembawa kuman (carrier), pada pasien-pasien dengan kondisi yang
sangat lemah (debilitated) atau pada kasus-kasus dengan depresi imunologik
tidak boleh memakai antibiotika bakteriostatik, tetapi harus bakterisid.
2.2.4 PENGGOLONGAN ANTIBIOTIK BERDASARKAN SPEKTRUM KERJA
·
Spektrum luas (aktivitas luas) :
Antibiotik
yang bersifat aktif bekerja terhadap banyak jenis mikroba yaitu bakteri gram
positif dan gram negative. Contoh antibiotik dalam kelompok ini adalah
sulfonamid, ampisilin, sefalosforin, kloramfenikol, tetrasiklin, dan
rifampisin.
·
Spektrum sempit (aktivitas
sempit) :
Antibiotik
yang bersifat aktif bekerja hanya terhadap beberapa jenis mikroba saja, bakteri
gram positif atau gram negative saja. Contohnya eritromisin, klindamisin,
kanamisin, hanya bekerja terhadap mikroba gram-positif. Sedang streptomisin,
gentamisin, hanya bekerja terhadap kuman gram-negatif.
2.3 INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI MASING-MASING
GOLONGAN ANTIBIOTIK
1. Golongan Penisilin
a.
Benzil Penisilin Dan Fenoksimetil Penisilin
ü Benzil Penisilin
Indikasi : infeksi saluran kemih, otitis media, sinusitis, bronchitis kronis,
salmonelosis invasive, gonore.
Kontraindikasi : hipersensitivitas ( alergi ) terhadap penisilin.
ü Fenoksimetilpenisilin
Indikasi : tonsillitis, otitis media, erysipelas, demam rematik, prpopiliaksisinfeksi
pneumokokus.
Kontraindikasi : hypersensitif terhadap sefalosforin
b.
Pensilin Tahan Penisilinase
ü Kloksasilin
Indikasi : infeksi karena stapilokokus yang memproduksi pensilinase.
Peringatan : riwayat alergi, gangguan fungsi ginjal, lesi eritematous pada
glandular fever, leukemia limfositik kronik, dan AIDS.
Interaksi : obat ini berdifusi dengan baik dengan jaringan dan cairan
tubuh. Tapi penetrasi ke dalam cairan otak kurang baik kecuali jika selaput
otak mengalami infeksi.
Kontraindikasi : hipersensitivitas ( alergi ) terhadap penisilin.
ü Flukoksasilin
Indikasi : infeksi karena stapilokokus yang memproduksi pensilinase.
Peringatan : riwayat alergi, gangguan fungsi ginjal, lesi eritematous pada
glandular fever, leukemia limfositik kronik, dan AIDS.
Interaksi : obat ini berdifusi dengan baik dengan jaringan dan cairan
tubuh. Tapi penetrasi ke dalam cairan otak kurang baik kecuali jika selaput
otak mengalami infeksi.
Kontraindikasi : hipersensitivitas ( alergi ) terhadap penisilin
c.
Pensilin Spectrum Luas
ü Ampisilin
Indikasi : infeksi saluran kemih, otitis media, sinusitis, bronchitis kronis,
salmonelosis invasive, gonore.
Peringatan :
riwayat alergi, gangguan fungsi ginjal, lesi eritematous pada glandular fever,
leukemia limfositik kronik, dan AIDS.
Interaksi :
obat ini berdifusi dengan baik dengan jaringan dan cairan tubuh. Tapi penetrasi
ke dalam cairan otak kurang baik kecuali jika selaput otak mengalami infeksi.
Kontraindikasi : hipersensitivitas ( alergi ) terhadap penisilin.
ü Amoksisilin
Indikasi : infeksi saluran kemih, otitis media, sinusitis, bronchitis kronis,
salmonelosis invasive, gonore.
Peringatan :
riwayat alergi, gangguan fungsi ginjal, lesi eritematous pada glandular fever,
leukemia limfositik kronik, dan AIDS.
Interaksi :
obat ini berdifusi dengan baik dengan jaringan dan cairan tubuh. Tapi penetrasi
ke dalam cairan otak kurang baik kecuali jika selaput otak mengalami infeksi.
Kontraindikasi : hipersensitivitas ( alergi ) terhadap penisilin
d.
Penisilin Anti Pseudomona
ü Tikarsilin
Indikasi : infeksi yang disebabkan oleh pseoudomonas dan proteus.
Kontraindikasi : hypersensitivitas
ü Piperasilin
Indikasi : infeksi yang disebabkan oleh pseoudomonas aerugenosa.
Indikasi : infeksi yang disebabkan oleh pseoudomonas aerugenosa.
Kontraindikasi : hypersensitivitas
ü Sulbenisilin
Indikasi : infeksi yang disebabkan oleh pseoudomonas aerugenosa.
Indikasi : infeksi yang disebabkan oleh pseoudomonas aerugenosa.
Kontraindikasi : hypersensitivitas
2.
Golongan Sefalosforin
a. Sefadroksil
Indikasi : infeksi baktri gram (+) dan (-)
Interaksi :
sefalosforin aktif terhadap kuman garm (+) dan (-) tetapi spectrum anti mikroba
masing-masng derrivat bervariasi.
efek samping : diare dan colitis yang disebabkan oleh antibiotic ( penggunaan dosis tinggi) mual dan mumtah rasa tidak enak pada saluran cerna sakit kepala, dll
efek samping : diare dan colitis yang disebabkan oleh antibiotic ( penggunaan dosis tinggi) mual dan mumtah rasa tidak enak pada saluran cerna sakit kepala, dll
Kontra indikasi : hipersensitivitas terahadap sefalosforin, porfiria
b. Sefrozil
Indikasi : ISPA, eksaserbasi akut dari bronchitis kronik dan otitis media.
Indikasi : ISPA, eksaserbasi akut dari bronchitis kronik dan otitis media.
Kontraindikasi : hypersensitif terhadap sefalosforin
c. Sefotakzim
Indikasi : profilaksis pada pembedahan, epiglotitis karena hemofilus, meningitis.
Kontraindikasi : hypersensitif terhadap sefalosforin
d. Sefuroksim
Indikasi : profilaksis tindakan bedah,lebih aktif terhadap H. influenzae dan N
gonorrhoeae.
Kontraindikasi : hypersensitif terhadap sefalosforin
e. Sefamandol
Indikasi: profilaksis pada Tindakan 1 pembedahan.
Kontraindikasi : hypersensitif terhadap sefalosforin.
f.
Sefpodoksim
Indikasi: infeksi saluran napas, tetapi penggunaan pada faringitis dan tonsillitis, hanya yang kambuhan, infeksi kronis atau resisten terhadap antbiotika lain.
Indikasi: infeksi saluran napas, tetapi penggunaan pada faringitis dan tonsillitis, hanya yang kambuhan, infeksi kronis atau resisten terhadap antbiotika lain.
Kontraindikasi : hypersensitif terhadap sefalosforin
3.
Golongan Tetrasiklin
a. Tetrasiklin.
Indikasi: eksaserbasi bronkitri kronis, bruselosis, klamidia, mikoplasma, dan
riketsia, efusi pleura karena keganasan atau sirosis, akne vulganis.
Peringatan:
gangguan fungsi hati (hindari pemberian secara i.v), gangguan fungsi ginjal,
kadang-kadang menimbulkan fotosintesis.
Efek samping:
mual, muntah, diare, eritema.
Kontraindikasi : Hipersensitivitas.
b. Demeklosiklin Hidroklorida
Indikasi: tetrasiklin. Lihat juga gangguan sekresi hormone antidiuretik
Perhatian :
kontaindikasi; efek samping lihat tetrasiklin.
Kontraindikasi : Hipersensitivitas.
c. Doksisiklin
Indikasi: Infeksi saluran pernafasan, saluran
pencernaan, saluran kandung empedu, saluran kemih & kelamin, kulit &
jaringan lunak, bruselosis (kombinasi dengan tetrasiklin),
sinusitis kronis , pretatitis kronis, penyakit radang perlvis (bersama
metronidazo)
Kontraindikasi : Riwayat hipersensitifitas,
fotodermatosis, kerusakan hati, kehamilan, menyusui.
d. Oksitetrasiklin
Indikasi ; peringatan; kontaindikasi; efek samping; lihat tetrasilin; hindari pada porfiria.
Indikasi ; peringatan; kontaindikasi; efek samping; lihat tetrasilin; hindari pada porfiria.
4. Golongan Aminoglikosida
a.
Amikasin
Indikasi : infeksi generatif yang resisten terhadap gentamisin.
Kontraindikasi : Hipersensitivitas.
b.
Gentamisin
Indikasi : septicemia dan sepsis pada neonatus, meningitis dan infeksi SSP lainnya.
Infeksi bilier, pielonefritis dan prostates akut, endokarditis karena Str
viridans. Atau str farcalis (bersama penisilin, pneumonia nosokomial, terapi
tambahan pad meningitis karena listeria.
Peringatan : gangguan funsi ginjal, bayi dan usia lanjut (sesuaikan dosis, awasi fungsi ginjal, pendengaran dan vestibuler dan periksa kadar plasma), hindari penggunaan jangka panjang.
Peringatan : gangguan funsi ginjal, bayi dan usia lanjut (sesuaikan dosis, awasi fungsi ginjal, pendengaran dan vestibuler dan periksa kadar plasma), hindari penggunaan jangka panjang.
Kontraindikasi: kehamilan, miastenia gravis.
Efek samping :
gangguna vestibuler dan pendengaran, netrotoksista, hipomagnesemia pada
pemberian jangka panjang colitis karena antibiotic.
c.
Neomisin Sulfat
Indikasi: Infeksi saluran pencernaan,
diare, sterilisasi usus besar sebelum operasi
Kontraindikasi : Hipersensitivitas. Penyumbatan usus.
d.
Netilmisin
Indikasi: infeksi berat kuman gram negative yang resisten terhadap gentainisin.
Kontraindikasi : Hipersensitivitas.
5. Kloramfenikol
Indikasi : hanya dianjurkan pada infeksi tifus (salmonella typhi) dan
meningitis (khusus akibat H. influenzae).
Kontraindikasi: wanita hamil, menyusui dan
pasien porfiria
Efek samping : kelainan darah yang reversible dan
irevesibel seperti anemia, anemia aplastik ( dapat berlanjut mejadi leukemia),
neuritis perifer, neuritis optic, eritem multiforme, mual, muntah, diare, stomatitis,
glositits, hemoglobinuria nocturnal.
6.
Makrolid
a.
Eritromisin
Indikasi: infeksi saluran nafas, infeksi kulit
& jaringan lunak, pneumonia (radang parenkim paru), gonore, infeksi lain
yang disebabkan oleh bakteri yang rentan terhadap Eritromisin, sebagai alternative untuk pasien yang alergi penisilin untuk pengobatan
enteritis kampilobakter, pneumonia, penyakit legionaire, sifilis, uretritis non
gonokokus, protatitis kronik, akne vulgaris, dan rpofilaksis difetri dan
pertusis.
Kontraindikasi : Hipersensitivitas.
b.
Azitromisin
Indikasi: infeksi saluran napas, otitis media, infeksi klamida daerah genital tanpa
komplikasi.
Kontraindikasi : Hipersensitivitas terhadap antibiotik makrolida.
c.
Klaritromisin
Indikasi : infeksi saluran napas, infeksi ringan dan sedang pada kulit dan jaringan
lunak; terapi tambahan untuk eradikasi helicobacter pylori pada tukak duodenum.
Kontraindikasi : Hipersensitivitas.
|
NAMA
|
DOSIS
|
|
|
|
||
|
1.1 Amoxicillin
|
Dewasa dan anak >20 kg 250-500mg,anak<20kg:30-75mg/kgBB/hari dibagi
dalam 3 dosis IV,IM,oral
|
|
|
1.2 Ampicillin
|
Dewasa dan anak >20 kg 250-500mg,anak<20kg:50-100kgBB/hari dibagi
dalam 4 dosis IV,IM,oral
|
|
|
2. Sefalosporin
|
|
|
|
2.1 Cefadroksil
|
25-50mg/kgBB/hari
dibagi dalam 2 dosis oral
|
|
|
2.2 Cefiksim
|
3-6mg/kgBB/hari
dibagi dalam 2 dosis oral
|
|
|
2.3 Cefotaksim
|
50-100mg/kgBB/hari
dibagi dalam 2-4 dosis IV
|
|
|
2.4 Ceftriakson
|
50-75mg/kgBB/hari
dibagi dalam dosis IV/IM
|
|
|
2.5 Ceftazidin
|
30-100mg/kgBB/hari
dibagi dalam 2-3 dosis IV/IM
|
|
|
2.6 Cefuroksim
|
50-100mg/kgBB/hari
dibagi dalam 3-4 dosis IV
|
|
|
3. Makrolid
|
|
|
|
3.1 Spiramisin
|
50-75mg/kgBB/hari
dibagi dalam 2-3 dosis
|
|
|
3.2 Eritromisin
|
30-50mg/kgBB/hari
dibagi dalam 4 dosis
|
|
|
4. Kloramfenikol
|
25-50mg/kgBB/hari
dibagi dalam 2 dosis oral/IV
|
|
|
4.1 Tiamfenikol
|
50mg/kgBB/hari
dibagi dalam 3-4 dosis oral
|
|
|
5.Kuinolon
|
|
|
|
5.1
Ciprofloksasin
|
10-20mg/kgBB/hari
dibagi dalam 2 dosis
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar