Selasa, 14 Januari 2014

antibiotik



PENGERTIAN ANTIBIOTIK
Antibiotik pertama kali ditemukan oleh Alexander Fleming pada tahun 1928 yang secara kebetulan menemukan suatu zat antibakteri yang sangat efektif yaitu Penisilina. Penisilina ini pertama kali dipakai di dalam ilmu kedokteran pada tahun 1939 oleh Chain dan Florey (Widjajanti, 1999).
Kata antibiotik berasal dari bahasa yunani yaitu-anti (melawan) dan-biotikos(cocok untuk kehidupan). Istilah ini diciptakan oleh Selman tahun 1942 untuk menggambarkan semua senyawa yang diproduksi oleh mikroorganisme yang dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme lain. Namun istilah ini kemudian digeser dengan ditemukannya obat antibiotik sinetis. Penggunaan istilah antimikroba cenderung mengarah ke semua jenis mikroba dan termasuk didalamnya adalah antibiotik, anti jamur, anti parasit, anti protozoa, anti virus, dll.
Mikroorganisme yang dihambat oleh antibiotik khusunya adalah bakteri. Maka dari itu antibiotik bersinosim dengan anti-bakteri. Antibiotik berbeda dengan istilah disinfectant karena desifektant membunuh kuman dengan cara membuat lingkungan yang tidak wajar bagi kuman. Sedangkan kerja dari antibiotik adalah cenderung bersifat Toksisitas Selektif dalam arti dapat membunuh kuman tanpa merugikan inang.
Antibiotik yaitu zat yang dihasilkan oleh mikroba, terutama fungi yang dapat menghambat pertumbuhan atau membasmi mikroba jenis lain (Anonim, 2000).
Antibiotika ialah zat yang dihasilkan oleh mikroba terutama fungi, yang dapat menghambat pertumbuhan atau membasmi jenis mikroba lain.
Antibiotik    ( latin : anti = lawan, bios = hidup ) adalah zat-zat kimia yang dihasilkan mikro organisme hidup terutama fungi dan bakteri tanah, yang memiliki khasiat mematikan atau mengahambat pertumbuhan banyak bakteri dan beberapa virus besar, sedangkan toksisitasnya bagi manusia relative kecil.
2.2      PENGGOLONGAN ANTIBIOTIK
                  Antibiotik dapat digolongkan menjadi beberapa golongan, yaitu :
1.    Berdasarkan struktur kimia
2.    Berdasarkan mekanisme kerja
3.    Berdasarkan daya kerja
4.    Berdasarkan spektrum kerjanya
2.2.1  PENGGOLONGAN ANTIBIOTIK BERDASARKAN STRUKTUR KIMIA
         Berdasarkan struktur kimianya, antibiotik dibagi menjadi :
·     Aminoglikosida
Diantaranya amikasin, dibekasin, gentamisin, kanamisin, neomisin, netilmisin, paromomisin, sisomisin, streptomisin, tobramisin.
·     Beta-Laktam
Diantaranya golongan karbapenem (ertapenem, imipenem, meropenem), golongan sefalosporin (azteonam, sefaleksin, sefazolin, sefuroksim, sefadroksil, seftazidim), golongan beta-laktam monosiklik, dan golongan penisilin (benzyl penisilin, oksisilin, fenoksimetilpenisilin, ampisilin, amoksisilin).
·     Glikopeptida
Diantaranya vankomisin, teikoplanin, ramoplanin dan dekaplanin.
·     Polipeptida
Diantaranya golongan makrolida (eritromisin, azitromisin, klaritromisin, roksitromisin), golongan ketolida (telitromisin), golongan tetrasiklin (doksisiklin, oksitetrasiklin, klortetrasiklin).
·     Polimiksin
Diantaranya polimiksin dan kolistin.
·     Kinolon (fluorokinolon)
Diantaranya asam nalidiksat, siprofloksasin, ofloksasin, norfloksasin, levofloksasin, dan trovafloksasin.
·     Streptogramin
Diantaranya pristinamycin, virginiamycin, mikamycin, dan kinupristin-dalfopristin.
·     Oksazolidinon
Diantaranya linezolid dan AZD2563.
·     Sulfonamida
Diantaranya kotrimoksazol dan trimetoprim.
·     Antibiotika lain yang penting, seperti kloramfenikol, klindamisin dan asam fusidat.

2.2.2  PENGGOLONGAN ANTIBIOTIK BERDASARKAN MEKANISME KERJA
·     Antibiotik yang menghambat metabolisme sel.
 Antibiotik yang termasuk dalam kelompok ini adalah sulfonamid, trimetoprim, asam p-aminosalisilat (PAS) dan sulfon. Obat tersebut menghasilkan efek bakteriostatik, misalnya : trimetoprim menghambat sintesis enzim dihidrofolat menjadi asam tetrahidrofolat, sulfonamid atau sulfon membentuk analog asam folat yang non fungsional.
·     Antibiotik yang menghambat sintesis dinding sel
Dinding sel bakteri terdiri dari polipeptidoglikan. Sikloserin menghambat sintesis dinding sel yang paling dini, diikuti berturut-turut oleh basitrasin, vankomisin, dan diakhiri oleh penisilin dan sefalosporin yang menghambat reaksi terakhir (transpeptidasi) dalam rangkaian tersebut.
·     Antibiotik yang mengganggu keutuhan membran sel.
Obat yang termasuk dalam kelompok ini ialah polimiksin, golongan polien, dan antibiotik kemoterapetik. Polimiksin merusak membran sel setelah bereaksi dengan fosfat pada fosfolipid membran sel mikroba, polien bereaksi dengan struktur sterol pada membran sel fagus sehingga mempengaruhi permeabilitas selektif membran tersebut (Ganiswarna, 1995).
·     Antibiotik yang menghambat sintesis protein.
Beberapa dari antibiotik seperti itu, tetapi mekanismenya berbeda, tetrasiklin mengganggu fungsi tRNA dan aminoglikosid mengganggu fungsi mRNA; kloramfenikol menghambat peptydil transferase; lincomysin bersama clindamisin mengganggu translokasi.
·     Antibiotik yang mempengaruhi sintesis asam nukleat.
Beberapa antibiotik seperti itu, tetapi berbeda dengan mekanismenya; metronidazol dan nitrofurantoin merusak DNA, golongan quinolon menghambat DNA gyrase, rifampisin menghambat RNA polymerase, sulfonamid dan trimetroprim menghambat sintesis asam folat (Ganiswarna, 1995).

2.2.3  PENGGOLONGAN ANTIBIOTIK BERDASARKAN DAYA KERJA
            Berdasarkan daya kerjanya, antibiotik dibagi menjadi :
·            Bakterisid :
Antibiotika yang bakterisid secara aktif membasmi kuman, dengan kata lain antibiotik ini dapat membunuh bakteri. Termasuk dalam golongan ini adalah penisilin, sefalosporin, aminoglikosida (dosis besar), kotrimoksazol , polipeptida, rifampisin, isoniazid dll.
·            Bakteriostatik :
Antibiotika bakteriostatik bekerja dengan mencegah atau menghambat pertumbuhan atau perkembangbiakan bakteri, tidak membunuhnya, sehingga pembasmian bakteri sangat tergantung pada daya tahan tubuh. Termasuk dalam golongan ini adalah sulfonamida, tetrasiklin, kloramfenikol, eritromisin, trimetropim, linkomisin, makrolida, klindamisin, asam paraaminosalisilat, dll.
Antibiotik tertentu (misalnya INH dan eritromisin) aktivitasnya dapat meningkat dari bakteriostatik menjadi bakterisid bila kadar antimikrobanya ditingkatkan melebihi kadar hambat minimal (KHM) (Ganiswarna, 1995).
Manfaat dari pembagian ini dalam pemilihan antibiotika mungkin hanya terbatas, yakni pada kasus pembawa kuman (carrier), pada pasien-pasien dengan kondisi yang sangat lemah (debilitated) atau pada kasus-kasus dengan depresi imunologik tidak boleh memakai antibiotika bakteriostatik, tetapi harus bakterisid.

2.2.4  PENGGOLONGAN ANTIBIOTIK BERDASARKAN SPEKTRUM KERJA
·            Spektrum luas (aktivitas luas) :
       Antibiotik yang bersifat aktif bekerja terhadap banyak jenis mikroba yaitu bakteri gram positif dan gram negative. Contoh antibiotik dalam kelompok ini adalah sulfonamid, ampisilin, sefalosforin, kloramfenikol, tetrasiklin, dan rifampisin.
·            Spektrum sempit (aktivitas sempit) :
       Antibiotik yang bersifat aktif bekerja hanya terhadap beberapa jenis mikroba saja, bakteri gram positif atau gram negative saja. Contohnya eritromisin, klindamisin, kanamisin, hanya bekerja terhadap mikroba gram-positif. Sedang streptomisin, gentamisin, hanya bekerja terhadap kuman gram-negatif.

2.3      INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI MASING-MASING GOLONGAN ANTIBIOTIK
         1. Golongan Penisilin
a.    Benzil Penisilin Dan Fenoksimetil Penisilin
ü  Benzil Penisilin
Indikasi : infeksi saluran kemih, otitis media, sinusitis, bronchitis kronis, salmonelosis invasive, gonore.
Kontraindikasi : hipersensitivitas ( alergi ) terhadap penisilin.
ü  Fenoksimetilpenisilin
Indikasi : tonsillitis, otitis media, erysipelas, demam rematik, prpopiliaksisinfeksi pneumokokus.
Kontraindikasi : hypersensitif terhadap sefalosforin
b.    Pensilin Tahan Penisilinase
ü  Kloksasilin
Indikasi : infeksi karena stapilokokus yang memproduksi pensilinase.
Peringatan : riwayat alergi, gangguan fungsi ginjal, lesi eritematous pada glandular fever, leukemia limfositik kronik, dan AIDS.
Interaksi : obat ini berdifusi dengan baik dengan jaringan dan cairan tubuh. Tapi penetrasi ke dalam cairan otak kurang baik kecuali jika selaput otak mengalami infeksi.
Kontraindikasi : hipersensitivitas ( alergi ) terhadap penisilin.


ü  Flukoksasilin
Indikasi : infeksi karena stapilokokus yang memproduksi pensilinase.
Peringatan : riwayat alergi, gangguan fungsi ginjal, lesi eritematous pada glandular fever, leukemia limfositik kronik, dan AIDS.
Interaksi : obat ini berdifusi dengan baik dengan jaringan dan cairan tubuh. Tapi penetrasi ke dalam cairan otak kurang baik kecuali jika selaput otak mengalami infeksi.
Kontraindikasi : hipersensitivitas ( alergi ) terhadap penisilin
c.    Pensilin Spectrum Luas
ü  Ampisilin
Indikasi : infeksi saluran kemih, otitis media, sinusitis, bronchitis kronis, salmonelosis invasive, gonore.
Peringatan : riwayat alergi, gangguan fungsi ginjal, lesi eritematous pada glandular fever, leukemia limfositik kronik, dan AIDS.
Interaksi : obat ini berdifusi dengan baik dengan jaringan dan cairan tubuh. Tapi penetrasi ke dalam cairan otak kurang baik kecuali jika selaput otak mengalami infeksi.
Kontraindikasi : hipersensitivitas ( alergi ) terhadap penisilin.
ü  Amoksisilin
Indikasi : infeksi saluran kemih, otitis media, sinusitis, bronchitis kronis, salmonelosis invasive, gonore.
Peringatan : riwayat alergi, gangguan fungsi ginjal, lesi eritematous pada glandular fever, leukemia limfositik kronik, dan AIDS.
Interaksi : obat ini berdifusi dengan baik dengan jaringan dan cairan tubuh. Tapi penetrasi ke dalam cairan otak kurang baik kecuali jika selaput otak mengalami infeksi.
Kontraindikasi : hipersensitivitas ( alergi ) terhadap penisilin

d.    Penisilin Anti Pseudomona
ü  Tikarsilin
Indikasi : infeksi yang disebabkan oleh pseoudomonas dan proteus.
Kontraindikasi : hypersensitivitas
ü  Piperasilin
Indikasi : infeksi yang disebabkan oleh pseoudomonas aerugenosa.
Kontraindikasi : hypersensitivitas
ü  Sulbenisilin
Indikasi
: infeksi yang disebabkan oleh pseoudomonas aerugenosa.
Kontraindikasi : hypersensitivitas

2. Golongan Sefalosforin
a.  Sefadroksil
Indikasi : infeksi baktri gram (+) dan (-)
Interaksi : sefalosforin aktif terhadap kuman garm (+) dan (-) tetapi spectrum anti mikroba masing-masng derrivat bervariasi.
efek samping : diare dan colitis yang disebabkan oleh antibiotic ( penggunaan dosis tinggi) mual dan mumtah rasa tidak enak pada saluran cerna sakit kepala, dll
Kontra indikasi : hipersensitivitas terahadap sefalosforin, porfiria
b.  Sefrozil
Indikasi
: ISPA, eksaserbasi akut dari bronchitis kronik dan otitis media.
Kontraindikasi : hypersensitif terhadap sefalosforin
c.  Sefotakzim
Indikasi : profilaksis pada pembedahan, epiglotitis karena hemofilus, meningitis.
Kontraindikasi : hypersensitif terhadap sefalosforin
d.  Sefuroksim
Indikasi : profilaksis tindakan bedah,lebih aktif terhadap H. influenzae dan N gonorrhoeae.
Kontraindikasi : hypersensitif terhadap sefalosforin
e.  Sefamandol
Indikasi: profilaksis pada Tindakan 1 pembedahan. 
Kontraindikasi : hypersensitif terhadap sefalosforin.
f.    Sefpodoksim 
Indikasi: infeksi saluran napas, tetapi penggunaan pada faringitis dan tonsillitis, hanya yang kambuhan, infeksi kronis atau resisten terhadap antbiotika lain.
Kontraindikasi : hypersensitif terhadap sefalosforin

3. Golongan Tetrasiklin
a.    Tetrasiklin.
Indikasi: eksaserbasi bronkitri kronis, bruselosis, klamidia, mikoplasma, dan riketsia, efusi pleura karena keganasan atau sirosis, akne vulganis.
Peringatan: gangguan fungsi hati (hindari pemberian secara i.v), gangguan fungsi ginjal, kadang-kadang menimbulkan fotosintesis.
Efek samping: mual, muntah, diare, eritema.
Kontraindikasi : Hipersensitivitas.
b.    Demeklosiklin Hidroklorida
Indikasi: tetrasiklin. Lihat juga gangguan sekresi hormone antidiuretik
Perhatian : kontaindikasi; efek samping lihat tetrasiklin.
Kontraindikasi : Hipersensitivitas.
c.    Doksisiklin
Indikasi: Infeksi saluran pernafasan, saluran pencernaan, saluran kandung empedu, saluran kemih & kelamin, kulit & jaringan lunak, bruselosis (kombinasi dengan tetrasiklin), sinusitis kronis , pretatitis kronis, penyakit radang perlvis (bersama metronidazo)
Kontraindikasi : Riwayat hipersensitifitas, fotodermatosis, kerusakan hati, kehamilan, menyusui.
d.    Oksitetrasiklin
Indikasi
; peringatan; kontaindikasi; efek samping; lihat tetrasilin; hindari pada porfiria.

4.   Golongan Aminoglikosida
a.     Amikasin
Indikasi : infeksi generatif yang resisten terhadap gentamisin.
Kontraindikasi : Hipersensitivitas.
b.     Gentamisin
Indikasi : septicemia dan sepsis pada neonatus, meningitis dan infeksi SSP lainnya. Infeksi bilier, pielonefritis dan prostates akut, endokarditis karena Str viridans. Atau str farcalis (bersama penisilin, pneumonia nosokomial, terapi tambahan pad meningitis karena listeria.
Peringatan : gangguan funsi ginjal, bayi dan usia lanjut (sesuaikan dosis, awasi fungsi ginjal, pendengaran dan vestibuler dan periksa kadar plasma), hindari penggunaan jangka panjang.
Kontraindikasi: kehamilan, miastenia gravis.
Efek samping : gangguna vestibuler dan pendengaran, netrotoksista, hipomagnesemia pada pemberian jangka panjang colitis karena antibiotic.
c.     Neomisin Sulfat
Indikasi: Infeksi saluran pencernaan, diare, sterilisasi usus besar sebelum operasi
Kontraindikasi : Hipersensitivitas. Penyumbatan usus.
d.     Netilmisin
Indikasi: infeksi berat kuman gram negative yang resisten terhadap gentainisin.
Kontraindikasi : Hipersensitivitas.

5.    Kloramfenikol
Indikasi :  hanya dianjurkan pada infeksi tifus (salmonella typhi) dan meningitis (khusus akibat H. influenzae).
Kontraindikasi: wanita hamil, menyusui dan pasien porfiria 
Efek samping : kelainan darah yang reversible dan irevesibel seperti anemia, anemia aplastik ( dapat berlanjut mejadi leukemia), neuritis perifer, neuritis optic, eritem multiforme, mual, muntah, diare, stomatitis, glositits, hemoglobinuria nocturnal.

6.      Makrolid
a.     Eritromisin
Indikasi: infeksi saluran nafas, infeksi kulit & jaringan lunak, pneumonia (radang parenkim paru), gonore, infeksi lain yang disebabkan oleh bakteri yang rentan terhadap Eritromisin, sebagai alternative untuk pasien yang alergi penisilin untuk pengobatan enteritis kampilobakter, pneumonia, penyakit legionaire, sifilis, uretritis non gonokokus, protatitis kronik, akne vulgaris, dan rpofilaksis difetri dan pertusis.
Kontraindikasi : Hipersensitivitas.
b.     Azitromisin
Indikasi: infeksi saluran napas, otitis media, infeksi klamida daerah genital tanpa komplikasi.
Kontraindikasi : Hipersensitivitas terhadap antibiotik makrolida.
c.     Klaritromisin
Indikasi : infeksi saluran napas, infeksi ringan dan sedang pada kulit dan jaringan lunak; terapi tambahan untuk eradikasi helicobacter pylori pada tukak duodenum.
Kontraindikasi : Hipersensitivitas.

    
 2.4      DOSIS DAN PEMBERIAN ANTIBIOTIK

NAMA
DOSIS



1.1 Amoxicillin
Dewasa dan anak >20 kg 250-500mg,anak<20kg:30-75mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis IV,IM,oral


1.2 Ampicillin
Dewasa dan anak >20 kg 250-500mg,anak<20kg:50-100kgBB/hari dibagi dalam 4 dosis IV,IM,oral


2. Sefalosporin


2.1 Cefadroksil
25-50mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis oral

2.2 Cefiksim
3-6mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis oral

2.3 Cefotaksim
50-100mg/kgBB/hari dibagi dalam 2-4 dosis IV

2.4 Ceftriakson
50-75mg/kgBB/hari dibagi dalam dosis IV/IM

2.5 Ceftazidin
30-100mg/kgBB/hari dibagi dalam 2-3 dosis IV/IM

2.6 Cefuroksim
50-100mg/kgBB/hari dibagi dalam 3-4 dosis IV

3. Makrolid


3.1 Spiramisin
50-75mg/kgBB/hari dibagi dalam 2-3 dosis

3.2 Eritromisin
30-50mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 dosis

4. Kloramfenikol
25-50mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis oral/IV

4.1 Tiamfenikol
50mg/kgBB/hari dibagi dalam 3-4 dosis oral

5.Kuinolon


5.1 Ciprofloksasin
10-20mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis


Tidak ada komentar:

Posting Komentar