Anti inflamasi adalah obat yang dapat menghilangkan radang yang
disebabkan bukan karena mikroorganisme (non infeksi). Gejala inflamasi dapat
disertai dengan gejala panas, kemerahan, bengkak, nyeri/sakit, fungsinya
terganggu. Proses inflamasi meliputi kerusakan mikrovaskuler, meningkatnya
permeabilitas vaskuler dan migrasi leukosit ke jaringan radang, dengan gejala
panas, kemerahan, bengkak, nyeri/sakit, fungsinya terganggu. Mediator yang
dilepaskan antara lain histamin, bradikinin, leukotrin, Prostaglandin dan PAF.
Obat-obat anti inflamasi adalah golongan obat yang memiliki aktivitas menekan
atau mengurangi peradangan. Obat ini terbagi atas-dua golongan, yaitu golongan
anti inflamasi non steroid (AINS) dan anti inflamasi steroid (AIS). Kedua
golongan obat ini selain berguna untuk mengobati juga memiliki efek samping
yang dapat menimbulkan reaksi toksisitas kronis bagi tubuh (Katzung, 1992).
Anti-InflamasiDibedakanmenjadi
2 (dua) Golonganyaitusbb:
1.
Anti-Inflamasi Non-Steroid
A.
Golongan Non-steroid
B.
MenurutwaktuParuh
2.
Anti-Inflamasiteroid
A.
Golongan Steroid
B.
MasaKerjaObat
1.
ATI-INFLAMASI NON-STEROID
Obat
anti-inflamasi non streoid (OAINS) merupakan kelompok obat yang paling banyak
dikonsumsi di seluruh dunia untuk mendapatkan efek analgetika, antipiretika,
dan anti-inflamasi.9 OAINS merupakan pengobatan dasar untuk mengatasi
peradangan-peradangan di dalam dan sekitar sendi seperti lumbago, artralgia,
osteoartritis, artritis reumatoid, dan gout artritis. Disamping itu, OAINS juga
banyak pada penyakit-penyakit non-rematik, seperti kolik empedu dan saluran
kemih, trombosis serebri, infark miokardium, dan dismenorea.
OAINS merupakan suatu kelompok obat yang heterogen, bahkan beberapa obat sangat berbeda secara kimia. Walaupun demikian, obat-obat ini mempunyai banyak persamaan dalam efek terapi maupun efek samping.
OAINS merupakan suatu kelompok obat yang heterogen, bahkan beberapa obat sangat berbeda secara kimia. Walaupun demikian, obat-obat ini mempunyai banyak persamaan dalam efek terapi maupun efek samping.
A. OBAT ANTI
–INFLAMASI NON-STEROID DI BAGILAGI MENJADI BEBERAPA GOLONGAN YAITU :
1)
golongan salisilat
diantaranya
:aspirin/asam asetilsalisilat, metil salisilat,
magnesium salisilat, salisil salisilat, dan salisilamid,
2)
golongan asam arilalkanoat
diantaranya : diklofenak,
indometasin, proglumetasin, dan oksametasin,
3)
golongan profen/asam 2-arilpropionat
diantaranya : ibuprofen,
alminoprofen, fenbufen, indoprofen, naproxen, dan ketorolac
4) golonganasam fenamat/asam N-arilantranilat
diantaranya : asam mefenamat, asam
flufenamat, dan asam tolfenamat,
5)
golongan turunan pirazolidin
Diantaranya : fenilbutazon, ampiron,
metamizol, dan fenazon,
6)
golongan oksikam
Diantaranya : piroksikam, dan meloksikam,
7)
golongan penghambat COX-2
(celecoxib,
lumiracoxib),
8)
golongan sulfonanilida
(nimesulide), serta
9)
golongan lain:
(licofelone dan
asam lemak omega 3).
B. MENURUT WAKTU PARUH KERJA AINS (ANTI-INFLAMASI NON-STEROID)
YAITU :
a)
AINS dengan waktu paruh pendek (3-5 jam), yaitu aspirin, asam flufenamat, asam
meklofenamat, asam mefenamat, asam niflumat, asam tiaprofenamat, diklofenak,
indometasin, karprofen, ibuprofen, dan ketoprofen.
b)
AINS dengan waktu paruh sedang (5-9 jam), yaitu fenbufen dan piroprofen.
c)
AINS dengan waktu paruh tengah (kira-kira 12 jam), yaitu diflunisal dan
naproksen.
d)
AINS dengan waktu paruh panjang (24-45 jam), yaitu piroksikam dan tenoksikam.
AINS dengan waktu paruh sangat panjang (lebih dari 60
jam), yaitu fenilbutazon dan oksifenbutazon.
2.
OBAT ANTI INFLAMASI STEROID
Obat ini merupakan antiinflamasi
yang sangat kuat. Karena Obat-obat ini menghambat enzim phospholipase A2
sehingga tidak terbentuk asam arakidonat. Asam arakidonat tidak terbentuk
berarti prostaglandin juga tidak akan terbantuk. Namun, obat anti inflamasi golongan
ini tidak boleh digunakan seenaknya. Karena efek sampingnya besar. Bisa
menyebabkan moon face, hipertensi,
osteoporosis dll.
Senyawa teroid adalah senyawa
golongan lipid yang memiliki stuktur kimia tertentu yang memiliki tiga cincin
sikloheksana dan satu cincin siklopentana. Suatu molekul steroid yang
dihasilkan secara alami oleh korteks adrenal tubuh dikenal dengan nama senyawa
kortikosteroid.
A. Kortikosteroid sendiri digolongkan menjadi dua
berdasarkan aktifitasnya, yaitu:
1). Glukokortikoid
2). mineralokortikoid
mineralokortikosteroid memiliki retensi garam.
Pada manusia, glukortikoid alami yang utama adalah kortisol atau hidrokortison,
sedangkan mineralokortikoid utama adalah aldosteron. Selain steroid alami,
telah banyak disintetis glukokortikoid sintetik, yang termasuk golongan obat
yang penting karena secara luas digunakan terutama untuk pengobatan
penyakit-penyakit inflasi. Contoh antara lain adalah deksametason, prednison,
metil prednisolon, triamsinolon dan betametason (Ikawati, 2006).
Aldosteron adalah hormon
steroid dari golongan mineralkortikoid
yang disekresi dari bagian terluar zona glomerulosa
pada bagian kortekskelenjaradrenal, yang berpengaruh terhadap tubulus distal
dan collecting ducts dari ginjal sehingga terjadi peningkatan penyerapan kembali partikelair, ion, garam oleh ginjal dan sekresipotasium pada saat yang bersamaan. Hal ini menyebabkan
peningkatan volume dan tekanan darah.
Kortikosteroid bekerja dengan
mempengaruhi kecepatan sintetis protein. Molekul hormon memasuki sel melewati
membran plasma secara difusi pasif. Hanya di jaringan target hormon ini
bereaksi dengan reseptor protein yang spesifik dalam sitoplasma sel dan
membentuk kompleks reseptor-steroid. Kompleks ini mengalami perubahan
komformasi, lalu bergerak menuju nukleus dan berikatan dengan kromatin. Ikatan
ini menstimulasi transkripsi RNA dan sintetis protein spesifik.
Induksi sintetis protein ini yang
akan menghasilkan efek fisiologik steroid (Darmansjah, 2005).
B. Berdasarkan masa
kerjanya golongan kortikosteroid dibagi menjadi :
1.Kortikosteroid kerja singkat dengan masa paruh <
12 jam, yang termasuk golongan ini adalah kortisol/hidrokortison, kortison,
kortikosteron, fludrokortison
2. Kortikosteroid kerja sedang dengan masa paruh 12 – 36
jam, yaitu metilprednisolon, prednison, prednisolon, dan triamsinolon.
3. Kortikosteroid kerja lama dengan masa paruh >36
jam, adalah parametason, betametason dan deksametason.
BAB II
MEKANISME
KERJA ANTI INFLAMASI
1. MAKANISME KERJA AINS
(ANTI-INFLAMASI NON-STERIOD)
a)
Asam mefenamat dan Meklofenamat.
Asam mefenamat digunakan sebagai analgetika dan
anti-inflamasi, asam mefenamat kurang efektif dibandingkan dengan aspirin.
Meklofenamat digunakan sebagai obat anti-inflamasi pada reumatoid dan
osteoartritis. Asam mefenamat dan meklofenamat merupakan golongan antranilat.
Asam mefenamat terikat kuat pada pada protein plasma. Dengan demikian interaksi
dengan oabt antikoagulan harus diperhatikan.
Efek samping terhadap saluran cerna sering timbul
misalnya dispepsia, diare sampai diare berdarah dan gejala iritasi terhadap
mukosa lambung. Dosis asam mefenamat adalah 2-3 kali 250-500 mg sehari.
Sedangakan dosis meklofenamat untuk terapi penyakit sendi adalah 240-400 mg
sehari. Karena efek toksisnya di Amerika Serikat obat ini tidak dianjurkan
kepada anak dibawah 14 tahun dan ibu hamil dan pemberian tidak melebihi 7 hari.
b) Diklofenak
Diklofenak merupakan derivat asam fenilasetat.
Absorpsi obat ini melalui saluran cerna berlangsung lengkap dan cepat. Obat ini
terikat pada protein plasma 99% dan mengalami efek metabolisma lintas pertama (first-pass) sebesar 40-50%. Walaupun
waktu paruh singkat 1-3 jam, dilklofenakl diakumulasi di cairan sinoval yang
menjelaskan efek terapi di sendi jauh lebih panjang dari waktu paruh obat
tersebut.
Efek samping yang lazim ialah mual, gastritis, eritema
kulit dan sakit kepala sama seperti semua AINS, pemakaian obat ini harus
berhati-hati pada pasien tukak lambung. Pemakaian selama kehamilan tidak
dianjurkan. Dosis orang dewasa 100-150 mg sehari terbagi dua atau tiga dosis.
c)
Ibuprofen
Ibuprofen merupakan derivat asam propionat yang
diperkenalkan pertama kali dibanyak negara. Obat ini bersifat analgesik dengan
daya efek anti-inflamasi yang tidak terlalu kuat. Efek analgesiknya sama
seperti aspirin, sedangkan efek anti-inflamasinya terlihat pada dosis 1200-2400
mg sehari. Absorpsi ibuprofen cepat melalui lambung dan kadar maksimum dalam
plasma dicapai dicapai setelah 1-2 jam. 90% ibuprofen terikat dalam protein
plasma, ekskresinya berlangsung cepat dan lengkap.
Pemberian bersama warfarin harus waspada dan pada obat
anti hipertensi karena dapat mengurangi efek antihipertensi, efek ini mungkin
akibat hambatan biosintesis prostaglandin ginjal. Efek samping terhadap saluran
cerna lebih ringan dibandingkan dengan aspirin. Ibuprofen tidak dianjurkan
diminum wanita hamil dan menyusui. Ibuprofen dijual sebagai obat generik bebas
dibeberapa negara yaitu inggris dan amerika karena tidak menimbulkan efek
samping serius pada dosis analgesik dan relatif lama dikenal.
d) Fenbufen
Berbeda dengan AINS lainnya, fenbufen merupakan suatu pro-drug. Jadi fenbufen bersifat
inaktif dan metabolit aktifnya adalah asam 4-bifenil-asetat. Zat ini memiliki
waktu paruh 10 jam sehingga cukup diberikan 1-2 kali sehari. Absorpsi obat
melalui lambung dan kadar puncak metabolit aktif dicapai dalam 7.5 jam. Efek
samping obat ini sama seperti AINS lainnya, pemakaian pada pasien tukak lambung
harus berhati-hati. Pada gangguan ginjal dosis harus dikurangi. Dosis untuk
reumatik sendi adalah 2 kali 300 mg sehari dan dosis pemeliharaan 1 kali 600 mg
sebelum tidur.
e)
Indometasin
Merupakan derivat indol-asam asetat. Obat ini sudah
dikenal sejak 1963 untuk pengobatan artritis reumatoid dan sejenisnya. Walaupun
obat ini efektif tetapi karena toksik maka penggunaan obat ini dibatasi.
Indometasin memiliki efek anti-inflamasi sebanding dengan aspirin, serta
memiliki efek analgesik perifer maupun sentral. In vitro indometasin menghambat enzim siklooksigenase, seperti
kolkisin.
Absorpsi pada pemberian oral cukup baik 92-99%. Indometasin
terikat pada protein plasma dan metabolisme terjadi di hati. Di ekskresi
melalui urin dan empedu, waktu paruh 2- 4 jam. Efek samping pada dosis terapi
yaitu pada saluran cerna berupa nyeri abdomen, diare, perdarahan lambung dan
pankreatis. Sakit kepala hebat dialami oleh kira-kira 20-25% pasien dan
disertai pusing. Hiperkalemia dapat terjadi akibat penghambatan yang kuat
terhadap biosintesis prostaglandin di ginjal.
Karena toksisitasnya tidak dianjurka pada anak, wanita
hamil, gangguan psikiatrik dan pada gangguan lambung. Penggunaanya hanya bila
AINS lain kurang berhasil. Dosis lazim indometasin yaitu 2-4 kali 25 mg sehari,
untuk mengurangi reumatik di malam hari 50-100 mg sebelum tidur.
f)
Piroksikam dan Meloksikam
Piroksikam merupakan salah satu AINS dengan struktur baru
yaitu oksikam, derivat asam enolat. Waktu paruh dalam plasma 45 jam sehingga
diberikan sekali sehari. Absorpsi berlangsung cepat di lambung, terikat 99%
pada protein plasma. Frekuensi kejadian efek samping dengan piroksikam mencapai
11-46% dan 4-12%. Efek samping adalah gangguan saluran cerna, dan efek lainnya
adalah pusing, tinitus, nyeri kepala dan eritema kulit. Piroksikam tidak
dianjurkan pada wanita hamil, pasien tukak lambung dan yang sedang minum
antikoagulan. Dosis 10-20 mg sehari.
Meloksikam cenderung menghambat KOKS-2 dari pada KOKS-1.
Efek samping meloksikam terhadap saluran cerna kurang dari piroksikam.
g)
Salisilat
Asam asetil salisilat yang lebih dikenal dengan asetosal
atau aspirin adalah analgesik antipiretik dan anti inflamasi yang sangat luas
digunakan. Struktur kimia golongan salisilat.
Asam salisilat sangat iritatif, sehingga hanya digunakan
sebagai obat luar. Derivatnya yang dapat dipakai secara sistemik adalah ester
salisilat dengan substitusi pada gugus hidroksil, misalnya asetosal. Untuk
memperoleh efek anti-inflamasi yang baik dalam kadar plasma perlu dipertahankan
antara 250-300 mg/ml. Pada pemberian oral sebagian salisilat diabsorpsi dengan
cepat dalam bentuk utuh di lambung. Kadar tertinggi dicapai kira-kira 2 jam
setelah pemberian. Setelah diabsorpsi salisilat segera menyebar ke jaringan
tubuh dan cairan transeluler sehingga ditemukan dalam cairan sinoval. Efek
samping yang paling sering terjadi adalah induksi tukak lambung atau tukak
peptik, efek samping lain adalah gangguan fungsi trombosit akibat penghambatan
biosintesa tromboksan.
h) Diflunsial
Obat ini merupakan derivat difluorofenil dari asam
salisilat, bersifat analgetik dan anti inflamasi tetapi hampir tidak bersifat
antipiretik. Kadar puncak yang dicapai 2-3 jam. 99% diflunsial terikat albumin
plasma dan waktu paruh berkisar 8-12 jam. Indikasi untuk nyeri sedang sampai
ringan dengan dosis awal 250-500 mg tipa 8-12 jam. Untuk osteoartritis
dosis awal 2 kali 250-500 mg sehari. Efek samping lebih ringan dari
asetosal.
i)
Fenilbutazon dan Oksifenbutazon
Fenilbitazon dan oksifenbutazon merupakan derivat
pirazolon. Dengan adanya AINS yang lebih aman, fenilbutazon dan oksifenbutazon
tidak lagi dianjurkan digunakan sebagai anti-inflamasi kecuali obat lain tidak
efektif.
Derivat pirazolon ini memiliki khasiat antiflogistik yang
lebih kuat dari pada kerja analgetiknya jadi golongan ini hanya digunakan
sebagai obat rematik. Fenilbutazon dimasukan secara diam-diam dengan maksud
untuk mengobati keadaan lesu dan letih, otot-otot lemah dan nyeri. Efek
samping derivat pirazolon dapat menyebabkan agranulositosis, anemia aplastik,
dan trombositopenia.
2.
Mekanisme Kerja Anti
Inflamasi Steroid
Ø KortikostiroidKerjaSingkat
Ø Jika sistemik steroids telah ditetapkan untuk satu
bulan atau kurang, efek samping yang serius jarang. Namun masalah yang mungkin
timbul berikut:
· Gangguan tidur
· Meningkatkan nafsu makan
· Meningkatkan berat badan
· Efek psikologis, termasuk peningkatan atau penurunan energi
· Gangguan tidur
· Meningkatkan nafsu makan
· Meningkatkan berat badan
· Efek psikologis, termasuk peningkatan atau penurunan energi
Jarang tetapi lebih mencemaskan dari efek samping penggunaan singkat dari kortikosteroids termasuk: mania, kejiwaan, jantung, ulkus peptik, diabetes dan nekrosis aseptik yang pinggul.
Ø
Kortikosteroid kerja sedang
a)
Metilprednisolon
adalah suatu glukokortikoid sintetis yang memiliki
efek antiinflamasi, antialergi dan anti shock yang sangat kuat, di samping
sebagai antirematik. Tidak menimbulkan efek retensi natrium dan dapat diterima
oleh tubuh dengan baik.
b)
Adrenokortikoid
Sebagai adrenokortikoid, metilprednisolon berdifusi
melewati membran dan membentuk komplek dengan reseptor sitoplasmik spesifik.
Komplek tersebut kemudian memasuki inti sel, berikatan dengan DNA, dan
menstimulasi rekaman messenger RNA (mRNA) dan selanjutnya sintesis protein dari
berbagai enzim akan bertanggung jawab pada efek sistemik adrenokortikoid.
Bagaimanapun,
obat ini dapat menekan perekaman mRNA di beberapa sel (contohnya: limfosit).
Efek Glukokortikoid
Anti-inflamasi (steroidal)
Glukokortikoid menurunkan atau mencegah respon
jaringan terhadap proses inflamasi, karena itu menurunkan gejala inflamasi
tanpa dipengaruhi penyebabnya.
Glukokortikoid menghambat akumulasi sel inflamasi,
termasuk makrofag dan leukosit pada lokasi inflamasi. Metilprednisolon juga
menghambat fagositosis, pelepasan enzim lisosomal, sintesis dan atau pelepasan
beberapa mediator kimia inflamasi. Meskipun mekanisme yang pasti belum
diketahui secara lengkap, kemungkinan efeknya melalui blokade faktor penghambat
makrofag (MIF), menghambat lokalisasi makrofag: reduksi atau dilatasi
permeabilitas kapiler yang terinflamasi dan mengurangi lekatan leukosit pada
endotelium kapiler, menghambat pembentukan edema dan migrasi leukosit; dan
meningkatkan sintesis lipomodulin (macrocortin),
suatu inhibitor fosfolipase A2-mediasi pelepasan asam arakhidonat dari
membran fosfolipid, dan hambatan selanjutnya terhadap sintesis asam
arakhidonat-mediator inflamasi derivat (prostaglandin, tromboksan dan
leukotrien). Kerja immunosupresan juga dapat mempengaruhi efek antiinflamasi.
c)
Immunosupresan
Mekanisme kerja immunosupresan belum dimengerti secara
lengkap tetapi kemungkinan dengan pencegahan atau penekanan sel mediasi
(hipersensitivitas tertunda) reaksi imun seperti halnya tindakan yang lebih
spesifik yang mempengaruhi respon imun, Glukokortikoid mengurangi konsentrasi
limfosit timus (T-limfosit), monosit, dan eosinofil. Metilprednisolon juga
menurunkan ikatan immunoglobulin ke reseptor permukaan sel dan menghambat
sintesis dan atau pelepasan interleukin, sehingga T-limfosit blastogenesis
menurun dan mengurangi perluasan respon immun primer. Glukokortikoid juga dapat
menurunkan lintasan kompleks immun melalui dasar membran, konsentrasi komponen
pelengkap dan immunoglobulin.
d)
Prednison
Prednisone adalah
hormon kortikosteroid (glukokortikoid). Ini mengurangi respon sistem kekebalan
Anda terhadap berbagai penyakit untuk mengurangi gejala seperti pembengkakan
dan reaksi alergi tipe. Hal ini digunakan untuk mengobati kondisi seperti
radang sendi, gangguan darah, masalah pernapasan, kanker tertentu, masalah
mata, penyakit sistem kekebalan tubuh, dan penyakit kulit.
Efek utamanya sebagai
glukokortikoid. Glukokortikoid alami (hidrokortison dan kortison), umumnya
digunakan dalam terapi pengganti (replacement therapy) dalam kondisi defisiensi
adrenokortikal. Sedangkan analog sintetiknya (prednison) terutama digunakan
karena efek imunosupresan dan anti radangnya yang kuat. Glukokortikoid
menyebabkan berbagai efek metabolik. Glukokortikoid bekerja melalui
interaksinya dengan protein reseptor spesifik yang terdapat di dalam sitoplasma
sel-sel jaringan atau organ sasaran, membentuk kompleks hormon-reseptor.
Kompleks hormon-reseptor ini kemudian akan memasuki nukleus dan menstimulasi
ekspresi gen-gen tertentu yang selanjutnya memodulasi sintesis protein
tertentu. Protein inilah yang akan mengubah fungsi seluler organ sasaran,
sehingga diperoleh, misalnya efek glukoneogenesis, meningkatnya asam lemak,
redistribusi lipid, meningkatnya reabsorpsi natrium, meningkatnya reaktivitas
pembuluh terhadap zat vasoaktif , dan efek anti radang. Apabila terapi
prednison diberikan lebih dari 7 hari, dapat terjadi penekanan fungsi adrenal,
artinya tubuh tidak dapat mensintesis kortikosteroid alami dan menjadi
tergantung pada prednison yang diperoleh dari luar. Oleh sebab itu jika sudah
diberikan lebih dari 7 hari, penghentian terapi prednison tidak boleh dilakukan
secara tiba-tiba, tetapi harus bertahap dan perlahan-lahan. Pengurangan dosis
bertahap ini dapat dilakukan selama beberapa hari, jika pemberian terapinya
hanya beberapa hari, tetapi dapat memerlukan berminggu-minggu atau bahkan
berbulan-bulan jika terapi yang sudah diberikan merupakan terapi jangka
panjang. Penghentian terapi secara tiba-tiba dapat menyebabkan krisis
Addisonian, yang dapat membawa kematian. Untuk pasien yang mendapat terapi kronis,
dosis berseling hari kemungkinan dapat mempertahankan fungsi kelenjar adrenal,
sehingga dapat mengurangi efek samping ini. Pemberian prednison per oral
diabsorpsi dengan baik. Prednison dimetabolisme di dalam hati menjadi
prednisolon, hormon kortikosteroid yang aktif.
Ø
Kortikosteroid kerja lama
a)
Deksametason
Deksametason adalah
suatu glukokortikoid sintetis yang memiliki efek antiinflamasi, antialergi dan
anti shock yang sangat kuat, di samping sebagai antirematik. Tidak menimbulkan
efek retensi natrium dan dapat diterima oleh tubuh dengan baik.
Mengurangi inflamasi
dengan menekan migrasi neutrofil, mengurangi produksi mediator inflamasi, dan
menurunkan permeabilitas kapiler yang semula tinggi dan menekan respon imun.
b)
Betametason
Betametasonadalahglukokortikoidsintetik yang
mempunyaiefeksebagaiantiinflamasidanimunosupresan.Karenaefekretensinatriumnya
(sifatmineralokortikosteroid) sangatsedikit,
makabiladigunakanuntukpengobataninsufisiensiadrenokortikal,
betametasonharusdikombinasikandengansuatumineralokortikoid.
Efekantiinflamasiterjadikarenabetametasonmenstabilkanleukositlisosomal,
mencegahpelepasanhidrolaseperusakasamdarileukosit,
menghambatakumulasimakrofagpadadaerahradang,
mengurangidayapelekatanleukositpadakapilerendotelium, mengurangipermeabilitasdindingkapilerdanterjadinya
edema, melawanaktivitashistamindanpelepasankinindarisubstrat,
mengurangiproliferasi fibroblast, mengendapkankolagendanmekanismelainnya.
Durasiaktivitasantiinflamasisejalandengandurasipenekanan HPA
(Hipotalamik-Pituitari-Adrenal) aksis.Obatdapatmengurangiaktivitasdan volume
limfatik, menghasilkanlimpositopenia,
menurunkankonsentrasiimunologireaktivitasjaringaninteraksi
antigen-antibodisehinggamenekanresponimun.
Betametasonjugamenstimulasisel-seleritroiddarisumsumtulang;
memperpanjangmasahiduperitrositdan platelet darah;
menghasilkanneutrofiliadaneosinopenia; meningkatkankatabolisme protein,
glukoneogenesisdanpenyebarankembalilemakdariperiferkedaerahpusattubuh.Jugamengurangiabsorbsi
intestinal danmenambahekskresikalsiummelaluiginjal.Deksklorfeniraminmaleatadalahantihistaminderivatpropilamin.Deksklorfeniraminmenghambataksifarmakologishistaminsecarakompetitif
(antagonishistaminreseptor H1).
BAB IV
A. INDIKASI DAN
KONTRAINDIKASI MASING-MASING GOLONGAN
ANTI-INFLAMASI (Non-Steroid & Steroid)
1.
GolinganSalisilat
a) ASPIRIN
§
Indikasi:
Meringankan rasa sakit, nyeri otot dan sendi, demam, nyeri karena haid, migren, sakit kepala dan sakit gigi tingkat ringan hingga agak berat..
Meringankan rasa sakit, nyeri otot dan sendi, demam, nyeri karena haid, migren, sakit kepala dan sakit gigi tingkat ringan hingga agak berat..
§
Kontra indikasi:
Tukak lambung dan peka terhadap derivet asam salisilat, penderita asma dan alergi, penderita yang pernah atau sering mengalami pendarahan di bawah kulit, penderita hemofilia;, anak-anak di bawah umur 16 tahun.
Tukak lambung dan peka terhadap derivet asam salisilat, penderita asma dan alergi, penderita yang pernah atau sering mengalami pendarahan di bawah kulit, penderita hemofilia;, anak-anak di bawah umur 16 tahun.
b)
METIL SALISILAT
Metilsalisilatmerupakansalahsatuturunandariasamsalisilat.Senyawainidapatdigunakansebagaiantiiritandankarminatifdanjugapadarematik.
Metilsalisilatdapatdibuatmelaluiesterifikasiasamsalisilat.Penggunaanzatinidalampengobatandidasarkanpadakenyataanbahwaasamsalisilatitubermanfaatterhadapresponfisiologi .
§ Indikasi:
Menghilangan nyeri, rasa sakit, reumatisme,
fibrositis, neuralgia (nyeri pada saraf), nyeri otot, otot kaku dan keseleo
ringan.
§ Kontra Indikasi:
Hindari kontak dengan mata dan jangan digunakan
pada luka kulit terbuka.
c)
MAGNESIUM SALISILAT
Magnesiumsalisilatadalah obatanti-inflamasi non-steroid (NSAID) dalam
kelompokobat yang disebutsalisilat(sa-LIS-il-ates). Obat
inibekerja dengan mengurangizat dalamtubuhyang menyebabkannyeri, demam, dan peradangan.
Magnesiumsalisilatdigunakan untukmengurangi
rasa sakit, bengkak, dankekakuan sendiyang disebabkan oleharthritis.
§ Indikasi:
Nyeri ringan sampai sedang,gangguan inflamasi
termasuk :a(rtritis reumatiod,osteoartritis), demam.
§ Kontraindikasi:
Hipersensitifitas terhadap aspirin atau agens
anti inflamasi non-steroid lain, (sensitivitas silang lebih sdikit dari pada
spirin).
2. Golonganasamarilalkanot
a)
DIKLOFENAK
obatantiinflamasi nonsteroidsistemikdigunakansebagaikaliumatau natriumgaramdalam pengobatankondisi peradanganrematikdannonrheumaticdansebagai garamkaliumuntuk menghilangkan rasa sakitdandi
obatantiinflamasi nonsteroidsistemikdigunakansebagaikaliumatau natriumgaramdalam pengobatankondisi peradanganrematikdannonrheumaticdansebagai garamkaliumuntuk menghilangkan rasa sakitdandi
§ Indikasi:
Pengobatan akut dan kronis gejala-gejala reumatoid artritis, osteoartritis dan ankilosing spondilitis.
Pengobatan akut dan kronis gejala-gejala reumatoid artritis, osteoartritis dan ankilosing spondilitis.
§ Kontra Indikasi:
- Penderita yang
hipersensitif terhadap diklofenak atau yang menderita asma, urtikaria atau
alergi pada pemberian aspirin atau NSAIA lain.
- Penderita tukak lambung.
- Penderita tukak lambung.
b)
INDOMETASIN
merupakan
derivat indol. Indometasin memiliki efek antiinflamasi dan
analgesik-antipiretik Walaupun lebih toksik dari aspirin, tapi efektivitasnya juga
lebih tinggi.Indometasin
termasuk golongan obat NSAIDs yaitu golongan obat yang terutama bekerja
perifer, memiliki aktivitas penghambat radang dengan mekanisme kerja menghambat
biosintesis prostaglandin melalui penghambatan aktivitas enzim siklooksigenase.
§
Indikasi
Indometasin dapat
digunakan untuk mengontrol rasa nyeri pada uveitis dan postoperative ophthalmic
procedure. Digunakan juga sebagai antipyretic padaHodgkins`s disease, dan
seperti aspirin, indometasin dapat menunda labor (kerja)dengan menekan
(suppressing) kontraksi uterus.
§
Kontra Indikasi
o
Karena toksisitasnya,
indometasin tidak dianjurkan diberikan pada anak,wanita hamil, penderita
gangguan psikiatris, dan penderita penyakit lambung. Penggunaan kini dianjurkan
hanya bila AINS lain kurang berhasil misalnya padaspondilitis ankilosa,
arthritis pirai akut dan osteoatritis tungkai.
c) PROGLUMETASIN
§ Indikasi:
Nyeri danperadangan yang terkait
denganmuskuloskeletaldangangguan sendi
§ Kontra indikasi :
Neonatus denganinfeksi yang tidak diobati, gangguan ginjalyang
signifikan ataunecrotisingenterocolitis. Bayi
yangpendarahan, trombositopeniaataumemilikicacatkoagulasi.
3.
GOLONGAN PROFEN/ASAM
2-ARIPROPIONAT
a) Ibuprofen
Ibuprofenadalah obatyang digunakan untuk:
meringankannyeri
ringan sampai sedang, sepertisakit gigi, sakit kepala dan nyeriperiode
meringankan rasa sakitdan peradangan(kemerahan dan bengkak) yang disebabkan oleh penyakit rematik(kondisi yang mempengaruhi sendi) dan gangguanmuskuloskeletal(kondisi yang mempengaruhitulang dan otot), seperti rheumatoid arthritisdanosteoarthritis
mengendalikandemam(suhu tinggi)
meringankan rasa sakit danbengkak akibatkeseleodanstrain, seperticedera olahraga.
meringankan rasa sakitdan peradangan(kemerahan dan bengkak) yang disebabkan oleh penyakit rematik(kondisi yang mempengaruhi sendi) dan gangguanmuskuloskeletal(kondisi yang mempengaruhitulang dan otot), seperti rheumatoid arthritisdanosteoarthritis
mengendalikandemam(suhu tinggi)
meringankan rasa sakit danbengkak akibatkeseleodanstrain, seperticedera olahraga.
§
Indikasi :
·
Meredakan demam.
·
Mengurangi rasa nyeri
pada sakit kepala, sakit gigi, nyeri otot, nyeri setelah operasi pada gigi dan
dismenore.
·
Terapi simptomatik
rematoid artritis dan osteoarthritis.
§
konrtaindikasi
Ibuprofen sebaiknya tidak diberikan pada penderita :
·
Penderita yang
hipersensitif terhadap asetosal (aspirin) atau obat antiinflamasi non steroid
lainnya, dan wanita hamil trimester 3.
·
Penderita dengan
syndroma nasal polyps, angioedema dan reaksi bronkospasme terhadap asetosal
(aspirin) atau antiinflamasi non steroid yang lain.
·
Dapat menyebabkan
reaksi anafilaktik.
b)
ALMINOPROFEN
§ Indikasi :
nyeri dan peradangan yang terkait dengan muskuloskeletal dan ganagguan sendi
nyeri dan peradangan yang terkait dengan muskuloskeletal dan ganagguan sendi
§ kontra indikasi :
Hipersensitif terhadap aspirin / NSAID,hati yang berat insufisiensi
ginjal,aktif / riwayat ulkus pektikum.
c) FENBUFEN
adalah obatanti-inflamasi
non-steroid digunakan terutamauntuk mengobatiperadangan
padaosteoarthritis, ankylosingspondylitis, dantendinitis. Hal ini juga dapatdigunakan
untuk meredakansakit punggung, keseleo, dan patah tulang. Fenbufentersedia
sebagaikapsul atautabletyang dijualdengannama merekCepal, Cinopal, Cybufen, Lederfen,
danReugast. Fenbufenbertindakdengan
mencegahsiklooksigenasedari memproduksiprostaglandinyangbisamenyebabkan
peradangan.
§ Indikasi :
Nyeri dan peradangan yang terkait w /
muskuloskeletal dan gangguan sendi.
§ Kontraindikasi :
Hipersensitivitas terhadap aspirin atau NSAID
lainnya . Anak berusia < 14 tahun . laktasi
Tindakan Pencegahan :
Khusus Perempuan dan pasien dengan rheumatoid
arthritis seronegatif . Gangguan ginjal , jantung atau hati , orang tua dan
kehamilan . Hentikan segera jika ruam berkembang.
Reaksi efek samping obat :
Reaksi efek samping obat :
gangguan GI , ruam kulit , gangguan CNS ,
eritema multiforme , photosensitivity , hematuria , gagal ginjal ( jarang ) ,
eosinofilia paru atau alveolitis alergi dan aplastik . Anemia hemolitik.
4.
GOLONGAN ASAM/FENAMAT
N-ARILANTRANILAT
a) Asam Mefenamat:
Obat Penghilang Nyeri
Sakit Gigi Berlubang Paling Ampuh, Obat Sakit Gigi Berlubang,
Maksud obat disini
adalah obat generik atau obat yang bisa di beli.
§ Indikasi
Indikasi Asam
Mefenamat adalah untuk menghilangkan nyeri akut dan kronik, ringan sampai
sedang sehubungan dengan sakit kepala, sakit gigi, dismenore primer, termasuk
nyeri karena trauma, nyeri sendi, nyeri otot, nyeri sehabis operasi, dan nyeri
pada persalinan.
§ Kontraindikasi
·
Pada penderita tukak
lambung, radang usus, gangguan ginjal, asma dan hipersensitif terhadap asam
mefenamat.
·
Pemakaian secara
hati-hati pada penderita penyakit ginjal atau hati dan peradangan saluran
cerna.
5.
GOLONGAN
TURUNANPIRAZOLIDIN
a) Fenilbutazon (Phenylbutazone)
§ Indikasi:
Untuk ankylosing spondylitis aktif, arthritis gout akut, rheumatoid arthritis aktif, osteoarthritis akut. Digunakan pada penderita dimana pengobatan lain termasuk AINS lain tidak memberikan hasil.
Untuk ankylosing spondylitis aktif, arthritis gout akut, rheumatoid arthritis aktif, osteoarthritis akut. Digunakan pada penderita dimana pengobatan lain termasuk AINS lain tidak memberikan hasil.
§ Kontraindikasi:
-
Udem, dekompensasi jantung, ulkus lambung, riwayat diskrasia darah, anak
berusia kurang dari 14 tahun, kerusakan ginjal dan hati, hipersensitif terhadap
Fenilbutazon.
- Penderita dengan
hipertensi, penyakit jantung, penyakit ginjal, dan gangguan fungsi hati
sehubungan dengan sifatnya yang menyebabkan retensi air dan natrium
b)
Metamizol
§
Indiakasi:
Untuk meringankan
rasa sakit,terutama nyeri kolik operasi.
§
kontrindikasi
|
Penderita
hipersensitif terhadap Metamizole Na.
|
|
|
Wanita hamil dan
menyusui.
|
|
|
Penderita dengan
tekanan darah sistolik < 100 mmHg.
|
|
|
Bayi di bawah 3
buian atau dengan berat badan kurang dari 5 kg.
|
6. Golongan Oksikam
a)
Piroksikam
§ Indikasi
Artritis reumatoid,
osteoartritis, ankylosing spondylitis, kelainan muskuloskeletal akut, gout akut
§ KontraIndikasi
·
Ulkus peptikum,
·
riwayat serangan
asma,
·
rinitis, angioedema
atau urtikaria (biduran/kaligata) yang dipicu oleh Aspirin.
·
Riwayat polip hidung.
b)
Meloksikam
§
Indikasi:
Osteoarthritis dan Rheumatoid Arthritis.
Osteoarthritis dan Rheumatoid Arthritis.
§
Kontra Indikasi:
·
Pasien yang hipersensitif
terhadap Meloxicam, Aspirin atau obat-obat Anti inflamasi Non Steroid lainnya.
·
Penderita dengan
penyakit ginjal berat.
·
Wanita hamil dan
menyusui.
·
Anak-anak.
·
Tukak lambung aktif
selama 6 bulan terakhir atau memiliki riwayat penyakit tukak lambung yang
berulang.
·
Gagal ginjal
non-dialisis berat.
·
Perdarahan gangguan
saluran pencernaan, perdarahan cerebrosvaskular atau perdarahan penyakit
lainnya.
A.
DOSIS DAN PEMBERIAN
OBAT
|
NAMA OBAT
|
DOSIS DAN PEMBERIAN
|
|
ASPIRIN |
-Dewasa
: 1 tablet, 3 kali sehari (bila perlu)
-Anak-anak di atas 5 tahun: ½ - 1 tablet, 3 kali sehari (bila perlu) |
|
DIKLOFENAK
|
-Osteoartritis : 2 - 3 kali sehari 50 mg atau 2
kali sehari 75 mg.
- Reumatoid artritis : 3 - 4 kali sehari 50 mg atau 2 kali sehari 75 mg. - Ankilosing spondilitis : 4 kali sehari 25 mg ditambah 25 mg saat akan tidur. Tablet harus ditelan utuh dengan air, sebelum makan. |
|
IBUPROVEN
|
Dewasa : 200 – 400
mg , 3 – 4 kali sehari.
|
|
FENIBUTAZON
|
- Untuk arthritis
rheumatoid aktif, osteoarthritis akut dan ankylosing spondylitis aktif : 300
- 600 mg sehari dalam 3 - 4 kali dosis bagi, selanjutnya diturunkan sesuai
kebutuhan dengan dosis 200 - 300 mg sehari dalam dosis bagi.
Jika tidak ada respon pemberian obat harus dihentikan.
- Arthritis gout
akut : dosis awal 500- 800 mg sehari dalam 2 - 3 dosis bagi untuk 1 - 3
hari, selanjutnya diberikan 200 - 400 mg sehari, sampai 7 hari.
|
|
PIROKSIKAM
|
·
Artritis reumatoid,
osteoartritis, ankylosing spondylitis : 20 mg sekali sehari.
·
Kelainan
muskuloskeletal akut : 40 mg sehari selama 2 hari dalam dosis tunggal atau
dalam dosis terbagi, kemudian 20 mg sehari selama 7-14 hari.
·
Gout akut : diawali
dengan 40 mg sehari sebagai dosis tunggal kemudian 40 mg dalam dosis tunggal
atau dosis terbagi selama 4-6 hari.
·
Tidak diindikasikan
untuk penanganan jangka panjang gout.
|
|
MELOKSIKAM
|
Pemberian oral:
Pada osteoarthritis: 7,5 mg satu kali sehari, jika diperlukan dosis dapat ditingkatkan hingga 15 mg satu kali sehari. Pada rheumatoid arthritis: 15 mg satu kali sehari, dapat dikurangi sampai 7,5 mg/hari tergantung respon klinis. Untuk pasien dengan resiko tinggi diberikan dosis awal 7,5 mg satu kali sehari. Untuk pasien penderita gagal ginjal dosis tidak lebih dari 7,5 mg satu kali sehari.. |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar