Selasa, 14 Januari 2014

inflam



Anti inflamasi adalah obat yang dapat menghilangkan radang yang disebabkan bukan karena mikroorganisme (non infeksi). Gejala inflamasi dapat disertai dengan gejala panas, kemerahan, bengkak, nyeri/sakit, fungsinya terganggu. Proses inflamasi meliputi kerusakan mikrovaskuler, meningkatnya permeabilitas vaskuler dan migrasi leukosit ke jaringan radang, dengan gejala panas, kemerahan, bengkak, nyeri/sakit, fungsinya terganggu. Mediator yang dilepaskan antara lain histamin, bradikinin, leukotrin, Prostaglandin dan PAF. Obat-obat anti inflamasi adalah golongan obat yang memiliki aktivitas menekan atau mengurangi peradangan. Obat ini terbagi atas-dua golongan, yaitu golongan anti inflamasi non steroid (AINS) dan anti inflamasi steroid (AIS). Kedua golongan obat ini selain berguna untuk mengobati juga memiliki efek samping yang dapat menimbulkan reaksi toksisitas kronis bagi tubuh (Katzung, 1992).
Anti-InflamasiDibedakanmenjadi 2 (dua) Golonganyaitusbb:
1.      Anti-Inflamasi Non-Steroid
A.    Golongan Non-steroid
B.     MenurutwaktuParuh
2.      Anti-Inflamasiteroid
A.    Golongan Steroid
B.     MasaKerjaObat

1.      ATI-INFLAMASI NON-STEROID
Obat anti-inflamasi non streoid (OAINS) merupakan kelompok obat yang paling banyak dikonsumsi di seluruh dunia untuk mendapatkan efek analgetika, antipiretika, dan anti-inflamasi.9 OAINS merupakan pengobatan dasar untuk mengatasi peradangan-peradangan di dalam dan sekitar sendi seperti lumbago, artralgia, osteoartritis, artritis reumatoid, dan gout artritis. Disamping itu, OAINS juga banyak pada penyakit-penyakit non-rematik, seperti kolik empedu dan saluran kemih, trombosis serebri, infark miokardium, dan dismenorea.
OAINS merupakan suatu kelompok obat yang heterogen, bahkan beberapa obat sangat berbeda secara kimia. Walaupun demikian, obat-obat ini mempunyai banyak persamaan dalam efek terapi maupun efek samping.

A.  OBAT ANTI –INFLAMASI NON-STEROID DI BAGILAGI  MENJADI BEBERAPA GOLONGAN YAITU :
1)      golongan salisilat
diantaranya :aspirin/asam asetilsalisilat, metil salisilat, magnesium salisilat, salisil salisilat, dan salisilamid,
2)      golongan asam arilalkanoat
diantaranya : diklofenak, indometasin, proglumetasin, dan oksametasin,
3)      golongan profen/asam 2-arilpropionat
diantaranya : ibuprofen, alminoprofen, fenbufen, indoprofen, naproxen, dan ketorolac
4)      golonganasam fenamat/asam N-arilantranilat
diantaranya : asam mefenamat, asam flufenamat, dan asam tolfenamat,
5)      golongan turunan pirazolidin
Diantaranya : fenilbutazon, ampiron, metamizol, dan fenazon,
6)      golongan oksikam
Diantaranya : piroksikam, dan meloksikam,
7)      golongan penghambat COX-2
 (celecoxib, lumiracoxib),
8)      golongan sulfonanilida (nimesulide), serta
9)      golongan lain:
 (licofelone dan asam lemak omega 3).
B.        MENURUT WAKTU PARUH KERJA AINS (ANTI-INFLAMASI NON-STEROID) YAITU :
a)      AINS dengan waktu paruh pendek (3-5 jam), yaitu aspirin, asam flufenamat, asam meklofenamat, asam mefenamat, asam niflumat, asam tiaprofenamat, diklofenak, indometasin, karprofen, ibuprofen, dan ketoprofen.
b)     AINS dengan waktu paruh sedang (5-9 jam), yaitu fenbufen dan piroprofen.
c)      AINS dengan waktu paruh tengah (kira-kira 12 jam), yaitu diflunisal dan naproksen.
d)     AINS dengan waktu paruh panjang (24-45 jam), yaitu piroksikam dan tenoksikam.
AINS dengan waktu paruh sangat panjang (lebih dari 60 jam), yaitu fenilbutazon dan oksifenbutazon.



2.      OBAT  ANTI INFLAMASI STEROID

Obat ini merupakan antiinflamasi yang sangat kuat. Karena Obat-obat ini menghambat enzim phospholipase A2 sehingga tidak terbentuk asam arakidonat. Asam arakidonat tidak terbentuk berarti prostaglandin juga tidak akan terbantuk. Namun, obat anti inflamasi golongan ini tidak boleh digunakan seenaknya. Karena efek sampingnya besar. Bisa menyebabkan moon face, hipertensi, osteoporosis dll.
Senyawa teroid adalah senyawa golongan lipid yang memiliki stuktur kimia tertentu yang memiliki tiga cincin sikloheksana dan satu cincin siklopentana. Suatu molekul steroid yang dihasilkan secara alami oleh korteks adrenal tubuh dikenal dengan nama senyawa kortikosteroid.
A.        Kortikosteroid sendiri digolongkan menjadi dua berdasarkan aktifitasnya, yaitu:
1).        Glukokortikoid
2).        mineralokortikoid
 mineralokortikosteroid memiliki retensi garam. Pada manusia, glukortikoid alami yang utama adalah kortisol atau hidrokortison, sedangkan mineralokortikoid utama adalah aldosteron. Selain steroid alami, telah banyak disintetis glukokortikoid sintetik, yang termasuk golongan obat yang penting karena secara luas digunakan terutama untuk pengobatan penyakit-penyakit inflasi. Contoh antara lain adalah deksametason, prednison, metil prednisolon, triamsinolon dan betametason (Ikawati, 2006).
Aldosteron adalah hormon steroid dari golongan mineralkortikoid yang disekresi dari bagian terluar zona glomerulosa pada bagian kortekskelenjaradrenal, yang berpengaruh terhadap tubulus distal dan collecting ducts dari ginjal sehingga terjadi peningkatan penyerapan kembali partikelair, ion, garam oleh ginjal dan sekresipotasium pada saat yang bersamaan. Hal ini menyebabkan peningkatan volume dan tekanan darah.
Kortikosteroid bekerja dengan mempengaruhi kecepatan sintetis protein. Molekul hormon memasuki sel melewati membran plasma secara difusi pasif. Hanya di jaringan target hormon ini bereaksi dengan reseptor protein yang spesifik dalam sitoplasma sel dan membentuk kompleks reseptor-steroid. Kompleks ini mengalami perubahan komformasi, lalu bergerak menuju nukleus dan berikatan dengan kromatin. Ikatan ini menstimulasi transkripsi RNA dan sintetis protein spesifik.
Induksi sintetis protein ini yang akan menghasilkan efek fisiologik steroid (Darmansjah, 2005).


B.        Berdasarkan masa kerjanya golongan kortikosteroid dibagi menjadi :
1.Kortikosteroid kerja singkat dengan masa paruh < 12 jam, yang termasuk golongan ini adalah kortisol/hidrokortison, kortison, kortikosteron, fludrokortison
2. Kortikosteroid kerja sedang dengan masa paruh 12 – 36 jam, yaitu metilprednisolon, prednison, prednisolon, dan triamsinolon.
3.      Kortikosteroid kerja lama dengan masa paruh >36 jam, adalah parametason, betametason dan deksametason.



























BAB II
MEKANISME KERJA ANTI INFLAMASI

1.      MAKANISME KERJA AINS (ANTI-INFLAMASI NON-STERIOD)

a)      Asam mefenamat dan Meklofenamat.
Asam mefenamat digunakan sebagai analgetika dan anti-inflamasi, asam mefenamat kurang efektif dibandingkan dengan aspirin. Meklofenamat digunakan sebagai obat anti-inflamasi pada reumatoid dan osteoartritis. Asam mefenamat dan meklofenamat merupakan golongan antranilat. Asam mefenamat terikat kuat pada pada protein plasma. Dengan demikian interaksi dengan oabt antikoagulan harus diperhatikan.
Efek samping terhadap saluran cerna sering timbul misalnya dispepsia, diare sampai diare berdarah dan gejala iritasi terhadap mukosa lambung. Dosis asam mefenamat adalah 2-3 kali 250-500 mg sehari. Sedangakan dosis meklofenamat untuk terapi penyakit sendi adalah 240-400 mg sehari. Karena efek toksisnya di Amerika Serikat obat ini tidak dianjurkan kepada anak dibawah 14 tahun dan ibu hamil dan pemberian tidak melebihi 7 hari.
b)     Diklofenak
Diklofenak merupakan derivat asam fenilasetat.  Absorpsi obat ini melalui saluran cerna berlangsung lengkap dan cepat. Obat ini terikat pada protein plasma 99% dan mengalami efek metabolisma lintas pertama (first-pass) sebesar 40-50%. Walaupun waktu paruh singkat 1-3 jam, dilklofenakl diakumulasi di cairan sinoval yang menjelaskan efek terapi di sendi jauh lebih panjang dari waktu paruh obat tersebut.
Efek samping yang lazim ialah mual, gastritis, eritema kulit dan sakit kepala sama seperti semua AINS, pemakaian obat ini harus berhati-hati pada pasien tukak lambung. Pemakaian selama kehamilan tidak dianjurkan. Dosis orang dewasa 100-150 mg sehari terbagi dua atau tiga dosis.



c)           Ibuprofen
Ibuprofen merupakan derivat asam propionat yang diperkenalkan pertama kali dibanyak negara. Obat ini bersifat analgesik dengan daya efek anti-inflamasi yang tidak terlalu kuat. Efek analgesiknya sama seperti aspirin, sedangkan efek anti-inflamasinya terlihat pada dosis 1200-2400 mg sehari. Absorpsi ibuprofen cepat melalui lambung dan kadar maksimum dalam plasma dicapai dicapai setelah 1-2 jam. 90% ibuprofen terikat dalam protein plasma, ekskresinya berlangsung cepat dan lengkap.
Pemberian bersama warfarin harus waspada dan pada obat anti hipertensi karena dapat mengurangi efek antihipertensi, efek ini mungkin akibat hambatan biosintesis prostaglandin ginjal. Efek samping terhadap saluran cerna lebih ringan dibandingkan dengan aspirin. Ibuprofen tidak dianjurkan diminum wanita hamil dan menyusui. Ibuprofen dijual sebagai obat generik bebas dibeberapa negara yaitu inggris dan amerika karena tidak menimbulkan efek samping serius pada dosis analgesik dan relatif lama dikenal.
d)     Fenbufen
Berbeda dengan AINS lainnya, fenbufen merupakan suatu pro-drug. Jadi fenbufen bersifat inaktif dan metabolit aktifnya adalah asam 4-bifenil-asetat. Zat ini memiliki waktu paruh 10 jam sehingga cukup diberikan 1-2 kali sehari. Absorpsi obat melalui lambung dan kadar puncak metabolit aktif dicapai dalam 7.5 jam. Efek samping obat ini sama seperti AINS lainnya, pemakaian pada pasien tukak lambung harus berhati-hati. Pada gangguan ginjal dosis harus dikurangi. Dosis untuk reumatik sendi adalah 2 kali 300 mg sehari dan dosis pemeliharaan 1 kali 600 mg sebelum tidur.
e)      Indometasin
Merupakan derivat indol-asam asetat. Obat ini sudah dikenal sejak 1963 untuk pengobatan artritis reumatoid dan sejenisnya. Walaupun obat ini efektif tetapi karena toksik maka penggunaan obat ini dibatasi. Indometasin memiliki efek anti-inflamasi sebanding dengan aspirin, serta memiliki efek analgesik perifer maupun sentral. In vitro indometasin menghambat enzim siklooksigenase, seperti kolkisin.
Absorpsi pada pemberian oral cukup baik 92-99%. Indometasin terikat pada protein plasma dan metabolisme terjadi di hati. Di ekskresi melalui urin dan empedu, waktu paruh 2- 4 jam. Efek samping pada dosis terapi yaitu pada saluran cerna berupa nyeri abdomen, diare, perdarahan lambung dan pankreatis. Sakit kepala hebat dialami oleh kira-kira 20-25% pasien dan disertai pusing. Hiperkalemia dapat terjadi akibat penghambatan yang kuat terhadap biosintesis prostaglandin di ginjal.
Karena toksisitasnya tidak dianjurka pada anak, wanita hamil, gangguan psikiatrik dan pada gangguan lambung. Penggunaanya hanya bila AINS lain kurang berhasil. Dosis lazim indometasin yaitu 2-4 kali 25 mg sehari, untuk mengurangi reumatik di malam hari 50-100 mg sebelum tidur.
f)       Piroksikam dan Meloksikam
Piroksikam merupakan salah satu AINS dengan struktur baru yaitu oksikam, derivat asam enolat. Waktu paruh dalam plasma 45 jam sehingga diberikan sekali sehari. Absorpsi berlangsung cepat di lambung, terikat 99% pada protein plasma. Frekuensi kejadian efek samping dengan piroksikam mencapai 11-46% dan 4-12%. Efek samping adalah gangguan saluran cerna, dan efek lainnya adalah pusing, tinitus, nyeri kepala dan eritema kulit. Piroksikam tidak dianjurkan pada wanita hamil, pasien tukak lambung dan yang sedang minum antikoagulan. Dosis 10-20 mg sehari.
Meloksikam cenderung menghambat KOKS-2 dari pada KOKS-1. Efek samping meloksikam terhadap saluran cerna kurang dari piroksikam.
g)      Salisilat
Asam asetil salisilat yang lebih dikenal dengan asetosal atau aspirin adalah analgesik antipiretik dan anti inflamasi yang sangat luas digunakan. Struktur kimia golongan salisilat.
Asam salisilat sangat iritatif, sehingga hanya digunakan sebagai obat luar. Derivatnya yang dapat dipakai secara sistemik adalah ester salisilat dengan substitusi pada gugus hidroksil, misalnya asetosal. Untuk memperoleh efek anti-inflamasi yang baik dalam kadar plasma perlu dipertahankan antara 250-300 mg/ml. Pada pemberian oral sebagian salisilat diabsorpsi dengan cepat dalam bentuk utuh di lambung. Kadar tertinggi dicapai kira-kira 2 jam setelah pemberian. Setelah diabsorpsi salisilat segera menyebar ke jaringan tubuh dan cairan transeluler sehingga ditemukan dalam cairan sinoval. Efek samping yang paling sering terjadi adalah induksi tukak lambung atau tukak peptik, efek samping lain adalah gangguan fungsi trombosit akibat penghambatan biosintesa tromboksan.
h)     Diflunsial
Obat ini merupakan derivat difluorofenil dari asam salisilat, bersifat analgetik dan anti inflamasi tetapi hampir tidak bersifat antipiretik. Kadar puncak yang dicapai 2-3 jam. 99% diflunsial terikat albumin plasma dan waktu paruh berkisar 8-12 jam. Indikasi untuk nyeri sedang sampai ringan dengan dosis awal 250-500 mg  tipa 8-12 jam. Untuk osteoartritis dosis awal 2 kali 250-500 mg  sehari. Efek samping lebih ringan dari asetosal.
i)        Fenilbutazon dan Oksifenbutazon
Fenilbitazon dan oksifenbutazon merupakan derivat pirazolon. Dengan adanya AINS yang lebih aman, fenilbutazon dan oksifenbutazon tidak lagi dianjurkan digunakan sebagai anti-inflamasi kecuali obat lain tidak efektif.
Derivat pirazolon ini memiliki khasiat antiflogistik yang lebih kuat dari pada kerja analgetiknya jadi golongan ini hanya digunakan sebagai obat rematik. Fenilbutazon dimasukan secara diam-diam dengan maksud untuk mengobati keadaan lesu dan letih, otot-otot lemah dan nyeri.  Efek samping derivat pirazolon dapat menyebabkan agranulositosis, anemia aplastik, dan trombositopenia.
2.      Mekanisme Kerja Anti Inflamasi  Steroid
Ø  KortikostiroidKerjaSingkat
Ø  Jika sistemik steroids telah ditetapkan untuk satu bulan atau kurang, efek samping yang serius jarang. Namun masalah yang mungkin timbul berikut:
· Gangguan tidur
· Meningkatkan nafsu makan
· Meningkatkan berat badan
· Efek psikologis, termasuk peningkatan atau penurunan energi

Jarang tetapi lebih mencemaskan dari efek samping penggunaan singkat dari kortikosteroids termasuk: mania, kejiwaan, jantung, ulkus peptik, diabetes dan nekrosis aseptik yang pinggul
.
Ø  Kortikosteroid kerja sedang
a)      Metilprednisolon
            adalah suatu glukokortikoid sintetis yang memiliki efek antiinflamasi, antialergi dan anti shock yang sangat kuat, di samping sebagai antirematik. Tidak menimbulkan efek retensi natrium dan dapat diterima oleh tubuh dengan baik.




b)     Adrenokortikoid
Sebagai adrenokortikoid, metilprednisolon berdifusi melewati membran dan membentuk komplek dengan reseptor sitoplasmik spesifik. Komplek tersebut kemudian memasuki inti sel, berikatan dengan DNA, dan menstimulasi rekaman messenger RNA (mRNA) dan selanjutnya sintesis protein dari berbagai enzim akan bertanggung jawab pada efek sistemik adrenokortikoid.
 Bagaimanapun, obat ini dapat menekan perekaman mRNA di beberapa sel (contohnya: limfosit).
Efek Glukokortikoid
Anti-inflamasi (steroidal)
Glukokortikoid menurunkan atau mencegah respon jaringan terhadap proses inflamasi, karena itu menurunkan gejala inflamasi tanpa dipengaruhi penyebabnya.
Glukokortikoid menghambat akumulasi sel inflamasi, termasuk makrofag dan leukosit pada lokasi inflamasi. Metilprednisolon juga menghambat fagositosis, pelepasan enzim lisosomal, sintesis dan atau pelepasan beberapa mediator kimia inflamasi. Meskipun mekanisme yang pasti belum diketahui secara lengkap, kemungkinan efeknya melalui blokade faktor penghambat makrofag (MIF), menghambat lokalisasi makrofag: reduksi atau dilatasi permeabilitas kapiler yang terinflamasi dan mengurangi lekatan leukosit pada endotelium kapiler, menghambat pembentukan edema dan migrasi leukosit; dan meningkatkan sintesis lipomodulin (macrocortin), suatu inhibitor fosfolipase A2-mediasi pelepasan asam arakhidonat dari membran fosfolipid, dan hambatan selanjutnya terhadap sintesis asam arakhidonat-mediator inflamasi derivat (prostaglandin, tromboksan dan leukotrien). Kerja immunosupresan juga dapat mempengaruhi efek antiinflamasi.

c)      Immunosupresan
Mekanisme kerja immunosupresan belum dimengerti secara lengkap tetapi kemungkinan dengan pencegahan atau penekanan sel mediasi (hipersensitivitas tertunda) reaksi imun seperti halnya tindakan yang lebih spesifik yang mempengaruhi respon imun, Glukokortikoid mengurangi konsentrasi limfosit timus (T-limfosit), monosit, dan eosinofil. Metilprednisolon juga menurunkan ikatan immunoglobulin ke reseptor permukaan sel dan menghambat sintesis dan atau pelepasan interleukin, sehingga T-limfosit blastogenesis menurun dan mengurangi perluasan respon immun primer. Glukokortikoid juga dapat menurunkan lintasan kompleks immun melalui dasar membran, konsentrasi komponen pelengkap dan immunoglobulin.
d)     Prednison
Prednisone adalah hormon kortikosteroid (glukokortikoid). Ini mengurangi respon sistem kekebalan Anda terhadap berbagai penyakit untuk mengurangi gejala seperti pembengkakan dan reaksi alergi tipe. Hal ini digunakan untuk mengobati kondisi seperti radang sendi, gangguan darah, masalah pernapasan, kanker tertentu, masalah mata, penyakit sistem kekebalan tubuh, dan penyakit kulit.
Efek utamanya sebagai glukokortikoid. Glukokortikoid alami (hidrokortison dan kortison), umumnya digunakan dalam terapi pengganti (replacement therapy) dalam kondisi defisiensi adrenokortikal. Sedangkan analog sintetiknya (prednison) terutama digunakan karena efek imunosupresan dan anti radangnya yang kuat. Glukokortikoid menyebabkan berbagai efek metabolik. Glukokortikoid bekerja melalui interaksinya dengan protein reseptor spesifik yang terdapat di dalam sitoplasma sel-sel jaringan atau organ sasaran, membentuk kompleks hormon-reseptor. Kompleks hormon-reseptor ini kemudian akan memasuki nukleus dan menstimulasi ekspresi gen-gen tertentu yang selanjutnya memodulasi sintesis protein tertentu. Protein inilah yang akan mengubah fungsi seluler organ sasaran, sehingga diperoleh, misalnya efek glukoneogenesis, meningkatnya asam lemak, redistribusi lipid, meningkatnya reabsorpsi natrium, meningkatnya reaktivitas pembuluh terhadap zat vasoaktif , dan efek anti radang. Apabila terapi prednison diberikan lebih dari 7 hari, dapat terjadi penekanan fungsi adrenal, artinya tubuh tidak dapat mensintesis kortikosteroid alami dan menjadi tergantung pada prednison yang diperoleh dari luar. Oleh sebab itu jika sudah diberikan lebih dari 7 hari, penghentian terapi prednison tidak boleh dilakukan secara tiba-tiba, tetapi harus bertahap dan perlahan-lahan. Pengurangan dosis bertahap ini dapat dilakukan selama beberapa hari, jika pemberian terapinya hanya beberapa hari, tetapi dapat memerlukan berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan jika terapi yang sudah diberikan merupakan terapi jangka panjang. Penghentian terapi secara tiba-tiba dapat menyebabkan krisis Addisonian, yang dapat membawa kematian. Untuk pasien yang mendapat terapi kronis, dosis berseling hari kemungkinan dapat mempertahankan fungsi kelenjar adrenal, sehingga dapat mengurangi efek samping ini. Pemberian prednison per oral diabsorpsi dengan baik. Prednison dimetabolisme di dalam hati menjadi prednisolon, hormon kortikosteroid yang aktif.
Ø  Kortikosteroid kerja lama
a)      Deksametason
Deksametason adalah suatu glukokortikoid sintetis yang memiliki efek antiinflamasi, antialergi dan anti shock yang sangat kuat, di samping sebagai antirematik. Tidak menimbulkan efek retensi natrium dan dapat diterima oleh tubuh dengan baik.
Mengurangi inflamasi dengan menekan migrasi neutrofil, mengurangi produksi mediator inflamasi, dan menurunkan permeabilitas kapiler yang semula tinggi dan menekan respon imun.


b)     Betametason
Betametasonadalahglukokortikoidsintetik yang mempunyaiefeksebagaiantiinflamasidanimunosupresan.Karenaefekretensinatriumnya (sifatmineralokortikosteroid) sangatsedikit, makabiladigunakanuntukpengobataninsufisiensiadrenokortikal, betametasonharusdikombinasikandengansuatumineralokortikoid.
Efekantiinflamasiterjadikarenabetametasonmenstabilkanleukositlisosomal, mencegahpelepasanhidrolaseperusakasamdarileukosit, menghambatakumulasimakrofagpadadaerahradang, mengurangidayapelekatanleukositpadakapilerendotelium, mengurangipermeabilitasdindingkapilerdanterjadinya edema, melawanaktivitashistamindanpelepasankinindarisubstrat, mengurangiproliferasi fibroblast, mengendapkankolagendanmekanismelainnya. Durasiaktivitasantiinflamasisejalandengandurasipenekanan HPA (Hipotalamik-Pituitari-Adrenal) aksis.Obatdapatmengurangiaktivitasdan volume limfatik, menghasilkanlimpositopenia, menurunkankonsentrasiimunologireaktivitasjaringaninteraksi antigen-antibodisehinggamenekanresponimun.
Betametasonjugamenstimulasisel-seleritroiddarisumsumtulang; memperpanjangmasahiduperitrositdan platelet darah; menghasilkanneutrofiliadaneosinopenia; meningkatkankatabolisme protein, glukoneogenesisdanpenyebarankembalilemakdariperiferkedaerahpusattubuh.Jugamengurangiabsorbsi intestinal danmenambahekskresikalsiummelaluiginjal.Deksklorfeniraminmaleatadalahantihistaminderivatpropilamin.Deksklorfeniraminmenghambataksifarmakologishistaminsecarakompetitif (antagonishistaminreseptor H1).















BAB IV
A.    INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI MASING-MASING GOLONGAN ANTI-INFLAMASI (Non-Steroid & Steroid)
1.     GolinganSalisilat
a)      ASPIRIN 
§  Indikasi:
Meringankan rasa sakit, nyeri otot dan sendi, demam, nyeri karena haid, migren, sakit kepala dan sakit gigi tingkat ringan hingga agak berat..
§  Kontra indikasi:
Tukak lambung dan peka terhadap derivet asam salisilat, penderita asma dan alergi, penderita yang pernah atau sering mengalami pendarahan di bawah kulit, penderita hemofilia;, anak-anak di bawah umur 16 tahun.

b)     METIL SALISILAT
Metilsalisilatmerupakansalahsatuturunandariasamsalisilat.Senyawainidapatdigunakansebagaiantiiritandankarminatifdanjugapadarematik.
Metilsalisilatdapatdibuatmelaluiesterifikasiasamsalisilat.Penggunaanzatinidalampengobatandidasarkanpadakenyataanbahwaasamsalisilatitubermanfaatterhadapresponfisiologi .
§  Indikasi:
Menghilangan nyeri, rasa sakit, reumatisme, fibrositis, neuralgia (nyeri pada saraf), nyeri otot, otot kaku dan keseleo ringan.
§  Kontra Indikasi:
Hindari kontak dengan mata dan jangan digunakan pada luka kulit terbuka.
c)      MAGNESIUM SALISILAT
Magnesiumsalisilatadalah obatanti-inflamasi non-steroid (NSAID) dalam kelompokobat yang disebutsalisilat(sa-LIS-il-ates). Obat inibekerja dengan mengurangizat dalamtubuhyang menyebabkannyeri, demam, dan peradangan.

Magnesiumsalisilatdigunakan untukmengurangi rasa sakit, bengkak, dankekakuan sendiyang disebabkan oleharthritis.
§  Indikasi:
Nyeri ringan sampai sedang,gangguan inflamasi termasuk :a(rtritis reumatiod,osteoartritis), demam.
§  Kontraindikasi:
Hipersensitifitas terhadap aspirin atau agens anti inflamasi non-steroid lain, (sensitivitas silang lebih sdikit dari pada spirin).

2.     Golonganasamarilalkanot
a)      DIKLOFENAK
obatantiinflamasi nonsteroidsistemikdigunakansebagaikaliumatau natriumgaramdalam pengobatankondisi peradanganrematikdannonrheumaticdansebagai garamkaliumuntuk menghilangkan rasa sakitdandi
§  Indikasi:
Pengobatan akut dan kronis gejala-gejala reumatoid artritis, osteoartritis dan ankilosing spondilitis.
§  Kontra Indikasi:
- Penderita yang hipersensitif terhadap diklofenak atau yang menderita asma, urtikaria atau alergi pada pemberian aspirin atau NSAIA lain.
- Penderita tukak lambung.
b)     INDOMETASIN
merupakan derivat indol. Indometasin memiliki efek antiinflamasi dan analgesik-antipiretik Walaupun lebih toksik dari aspirin, tapi efektivitasnya juga lebih tinggi.Indometasin termasuk golongan obat NSAIDs yaitu golongan obat yang terutama bekerja perifer, memiliki aktivitas penghambat radang dengan mekanisme kerja menghambat biosintesis prostaglandin melalui penghambatan aktivitas enzim siklooksigenase.
§ Indikasi                                                                                                                                    
Indometasin dapat digunakan untuk mengontrol rasa nyeri pada uveitis dan postoperative ophthalmic procedure. Digunakan juga sebagai antipyretic padaHodgkins`s disease, dan seperti aspirin, indometasin dapat menunda labor (kerja)dengan menekan (suppressing) kontraksi uterus.
§ Kontra Indikasi
o   Karena toksisitasnya, indometasin tidak dianjurkan diberikan pada anak,wanita hamil, penderita gangguan psikiatris, dan penderita penyakit lambung. Penggunaan kini dianjurkan hanya bila AINS lain kurang berhasil misalnya padaspondilitis ankilosa, arthritis pirai akut dan osteoatritis tungkai.

c)      PROGLUMETASIN
§  Indikasi:
Nyeri danperadangan yang terkait denganmuskuloskeletaldangangguan sendi
§  Kontra indikasi :
Neonatus denganinfeksi yang tidak diobati, gangguan ginjalyang signifikan ataunecrotisingenterocolitis. Bayi yangpendarahan, trombositopeniaataumemilikicacatkoagulasi.


3.     GOLONGAN PROFEN/ASAM 2-ARIPROPIONAT
a)      Ibuprofen
Ibuprofenadalah obatyang digunakan untuk:
     meringankannyeri ringan sampai sedang, sepertisakit gigi, sakit kepala dan nyeriperiode
     meringankan rasa sakitdan peradangan(kemerahan dan bengkak) yang disebabkan oleh penyakit rematik(kondisi yang mempengaruhi sendi) dan gangguanmuskuloskeletal(kondisi yang mempengaruhitulang dan otot), seperti rheumatoid arthritisdanosteoarthritis
     mengendalikandemam(suhu tinggi)
     meringankan rasa sakit danbengkak akibatkeseleodanstrain, seperticedera olahraga.

§  Indikasi :
·         Meredakan demam.
·         Mengurangi rasa nyeri pada sakit kepala, sakit gigi, nyeri otot, nyeri setelah operasi pada gigi dan dismenore.
·         Terapi simptomatik rematoid artritis dan osteoarthritis.
§  konrtaindikasi
Ibuprofen sebaiknya tidak diberikan pada penderita :
·         Penderita yang hipersensitif terhadap asetosal (aspirin) atau obat antiinflamasi non steroid lainnya, dan wanita hamil trimester 3.
·         Penderita dengan syndroma nasal polyps, angioedema dan reaksi bronkospasme terhadap asetosal (aspirin) atau antiinflamasi non steroid yang lain.
·         Dapat menyebabkan reaksi anafilaktik.
b)     ALMINOPROFEN
§  Indikasi :
nyeri dan peradangan yang terkait dengan muskuloskeletal dan ganagguan sendi
§  kontra indikasi :
Hipersensitif terhadap aspirin / NSAID,hati yang berat insufisiensi ginjal,aktif / riwayat ulkus pektikum.


c)      FENBUFEN
adalah obatanti-inflamasi non-steroid digunakan terutamauntuk mengobatiperadangan padaosteoarthritis, ankylosingspondylitis, dantendinitis. Hal ini juga dapatdigunakan untuk meredakansakit punggung, keseleo, dan patah tulang. Fenbufentersedia sebagaikapsul atautabletyang dijualdengannama merekCepal, Cinopal, Cybufen, Lederfen, danReugast. Fenbufenbertindakdengan mencegahsiklooksigenasedari memproduksiprostaglandinyangbisamenyebabkan peradangan.
§  Indikasi :
Nyeri dan peradangan yang terkait w / muskuloskeletal dan gangguan sendi.
§  Kontraindikasi :
Hipersensitivitas terhadap aspirin atau NSAID lainnya . Anak berusia < 14 tahun . laktasi
Tindakan Pencegahan :
Khusus Perempuan dan pasien dengan rheumatoid arthritis seronegatif . Gangguan ginjal , jantung atau hati , orang tua dan kehamilan . Hentikan segera jika ruam berkembang.
Reaksi efek samping obat :
gangguan GI , ruam kulit , gangguan CNS , eritema multiforme , photosensitivity , hematuria , gagal ginjal ( jarang ) , eosinofilia paru atau alveolitis alergi dan aplastik . Anemia hemolitik.
4.     GOLONGAN ASAM/FENAMAT N-ARILANTRANILAT
a)      Asam Mefenamat:
Obat Penghilang Nyeri Sakit Gigi Berlubang Paling Ampuh, Obat Sakit Gigi Berlubang,
Maksud obat disini adalah obat generik atau obat yang bisa di beli.


§  Indikasi
Indikasi Asam Mefenamat adalah untuk menghilangkan nyeri akut dan kronik, ringan sampai sedang sehubungan dengan sakit kepala, sakit gigi, dismenore primer, termasuk nyeri karena trauma, nyeri sendi, nyeri otot, nyeri sehabis operasi, dan nyeri pada persalinan.
§  Kontraindikasi
·         Pada penderita tukak lambung, radang usus, gangguan ginjal, asma dan hipersensitif terhadap asam mefenamat.
·         Pemakaian secara hati-hati pada penderita penyakit ginjal atau hati dan peradangan saluran cerna.
5.     GOLONGAN TURUNANPIRAZOLIDIN

a)      Fenilbutazon (Phenylbutazone)

§  Indikasi:
Untuk ankylosing spondylitis aktif, arthritis gout akut, rheumatoid arthritis aktif, osteoarthritis akut. Digunakan pada penderita dimana pengobatan lain termasuk AINS lain tidak memberikan hasil.
§  Kontraindikasi:
-     Udem, dekompensasi jantung, ulkus lambung, riwayat diskrasia darah, anak berusia kurang dari 14 tahun, kerusakan ginjal dan hati, hipersensitif terhadap Fenilbutazon.
-     Penderita dengan hipertensi, penyakit jantung, penyakit ginjal, dan gangguan fungsi hati sehubungan dengan sifatnya yang menyebabkan retensi air dan natrium
b)     Metamizol

§  Indiakasi:  
Untuk meringankan rasa sakit,terutama nyeri kolik operasi.
§  kontrindikasi

Penderita hipersensitif terhadap Metamizole Na.

Wanita hamil dan menyusui.

Penderita dengan tekanan darah sistolik < 100 mmHg.

Bayi di bawah 3 buian atau dengan berat badan kurang dari 5 kg.

6.     Golongan Oksikam
a)      Piroksikam
§  Indikasi
Artritis reumatoid, osteoartritis, ankylosing spondylitis, kelainan muskuloskeletal akut, gout akut
§  KontraIndikasi
·         Ulkus peptikum,
·         riwayat serangan asma,
·         rinitis, angioedema atau urtikaria (biduran/kaligata) yang dipicu oleh Aspirin.
·         Riwayat polip hidung.
b)     Meloksikam
§  Indikasi:
Osteoarthritis dan Rheumatoid Arthritis.
§  Kontra Indikasi:
·         Pasien yang hipersensitif terhadap Meloxicam, Aspirin atau obat-obat Anti inflamasi Non Steroid lainnya.
·         Penderita dengan penyakit ginjal berat.
·         Wanita hamil dan menyusui.
·         Anak-anak.
·         Tukak lambung aktif selama 6 bulan terakhir atau memiliki riwayat penyakit tukak lambung yang berulang.
·         Gagal ginjal non-dialisis berat.
·         Perdarahan gangguan saluran pencernaan, perdarahan cerebrosvaskular atau perdarahan penyakit lainnya.




A.    DOSIS DAN PEMBERIAN OBAT
NAMA OBAT
DOSIS DAN PEMBERIAN
ASPIRIN

-Dewasa : 1 tablet, 3 kali sehari (bila perlu)
-Anak-anak di atas 5 tahun: ½ - 1 tablet, 3 kali sehari (bila perlu)
DIKLOFENAK
-Osteoartritis : 2 - 3 kali sehari 50 mg atau 2
kali sehari 75 mg.
- Reumatoid artritis : 3 - 4 kali sehari 50 mg atau 2 kali sehari 75 mg.
- Ankilosing spondilitis : 4 kali sehari 25 mg ditambah 25 mg saat akan tidur.
Tablet harus ditelan utuh dengan air, sebelum makan.
IBUPROVEN
Dewasa : 200 – 400 mg , 3 – 4 kali sehari.
FENIBUTAZON
-     Untuk arthritis rheumatoid aktif, osteoarthritis akut dan ankylosing spondylitis aktif : 300 - 600 mg sehari dalam 3 - 4 kali dosis bagi, selanjutnya diturunkan sesuai kebutuhan dengan dosis 200 - 300 mg sehari dalam dosis bagi.
Jika tidak ada respon pemberian obat harus dihentikan.
-     Arthritis gout akut : dosis  awal 500- 800 mg sehari dalam 2 - 3 dosis bagi untuk 1 - 3 hari, selanjutnya diberikan 200 - 400 mg sehari, sampai 7 hari.

PIROKSIKAM
·         Artritis reumatoid, osteoartritis, ankylosing spondylitis : 20 mg sekali sehari.
·         Kelainan muskuloskeletal akut : 40 mg sehari selama 2 hari dalam dosis tunggal atau dalam dosis terbagi, kemudian 20 mg sehari selama 7-14 hari.
·         Gout akut : diawali dengan 40 mg sehari sebagai dosis tunggal kemudian 40 mg dalam dosis tunggal atau dosis terbagi selama 4-6 hari.
·         Tidak diindikasikan untuk penanganan jangka panjang gout.


MELOKSIKAM
Pemberian oral:
Pada osteoarthritis: 7,5 mg satu kali sehari, jika diperlukan dosis dapat ditingkatkan hingga 15 mg satu kali sehari.

Pada rheumatoid arthritis: 15 mg satu kali sehari, dapat dikurangi sampai 7,5 mg/hari tergantung respon klinis.

Untuk pasien dengan resiko tinggi diberikan dosis awal 7,5 mg satu kali sehari.

Untuk pasien penderita gagal ginjal dosis tidak lebih dari 7,5 mg satu kali sehari..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar