Selasa, 14 Januari 2014

anhip



Beberapa definisi anti hipertensi menurut :
1.       Priyanto, 2010
Anti hipertensi adalah obat untuk menurunkan tekanan darah tinggi. Hipertensi adalah suatu keadaan medis di mana terjadi peningkatan tekanan darah melebihi normal.Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sehingga tekanan sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan diastolik lebih besar dari 90 mmHg.
2.       Anti hipertensi adalah obat untuk menurunkan tekanan darah tinggi. Hipertensi adalah suatu keadaan medis di mana terjadi peningkatan tekanan darah melebihi normal. Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sehingga tekanan sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan diastolik lebih besar dari 90 mmHg.

A.                KLASIFIKASI HIPERTENSI BERDASARKAN ETIOLOGINYA
Berdasarkan etiologinya hipertensi dibagi menjadi :
1.        Hipertensi Esensial
Hipertensi esensial atau hipertensi primer atau idiopatik adalah hipertensi tanpa kelainan dasar patologi yang jelas. Lebih dari 90% kasus merupakan hipertensi esensial. Penyebabnya multifaktorial meliputi faktor genetik dan lingkungan. Faktor genetik mempengaruhi kepekaan terhadap natrium, kepekaan terhadap stress, reaktivitas pembuluh darah terhadap vasokonstriktor, resistensi insulin dan lain-lain. Sedangkan yang termasuk faktor lingkungan antara lain diet, kebiasaan merokok, stress emosi, obesitas dan lain-lain.

2.      Hipertensi Sekunder
Meliputi 5-10% kasus hipertensi. Termasuk dalam kelompok ini antara lain hipertensi akibat penyakit ginjal (hipertensi renal), hipertensi endokrin, kelainan syaraf pusat, obat-obatan dan lain-lain.
Hipertensi renal dapat berupa hipertensi renovaskular, misalnya pada stenosis arteri renalis, vaskulitis intrarenal, dan hipertensi akibat lesi parenkim ginjal seperti pada glomerulonefritis, pielonefritis, penyakit ginjal polikistik, nefropati diabetik dan lain-lain.
Hipertensi endokrin antara lain akibat kelainan korteks adrenal (hiper -aldosteronisme primer, sindrom cushing), tumor medulla adrenal (feokromositoma), hipertiroidisme, hiperparatiroidisme, dan lain-lain.
Penyakit yang dapat menimbulkan hipertensi antara lain koarktasioaorta, kelainan neurologik (tumor otak, ensefalitis), stress akut, polisitemia dan lain-lain. Beberapa obat seperti kontrasepsi hormonal, kortikosteroid, simpatomimetik, amin (efedrin, fenilpropanolamin, fenilefrin, amfetamin), kokain, siklosporin dan eritropoetin, juga dapat menyebabkan hipertensi.


B.                KLASIFIKASI OBAT ANTI HIPERTENSI BERDASARKAN PADA TEMPAT REGULASI UTAMA ATAU TITIK TANGKAP KERJANYA
Berdasarkan pada tempat regulasi utama atau titik tangkap kerjanya, obat anti hipertensi di bagi menjadi 5 macam yaitu :
1.        DIURETIK
Diuretik bekerja meningkatkan ekskresi natrium, air dan klorida sehingga menurunkan volume darah dan cairan ekstraseluler. Akibatnya terjadi penurunan curah jantung dan tekanan darah. Selain mekanisme tersebut, beberapa diuretik juga menurunkan resistensi perifel sehingga menambah efek hipotensinya.
Khasiat anti hipertensi diuretik :
adalah berawal dari efeknya meningkatkan ekskresi natrium, klorida, dan air, sehingga mengurangi volume plasma dan cairan ekstrasel. Tekanan darah turun akibat berkurangnya curah jantung, sedangkan resistensi perifer tidak berubah pada awal terapi. Pada pemberian kronik, volume plasma kembali tetapi masih kira-kira 5% dibawah nilai sebelum pengobatan. Curah jantung kembali mendekati normal. Tekanan darah  tetap turun karena sekarang resistensi perifer menurun. Vasodilatasi perifer yang terjadi kemudian tampaknya bukan efek langsung tiazid tetapi karena adanya penyesuaian pembuluh darah perifer terhadap pengurangan volume plasma yang terus-menerus. Kemungkinan lain adalah berkurangnya volume cairan interstisial berakibat berkurangnya kekakuan dinding pembuluh darah dan bertambahnya daya lentur (compliance) vaskular.






Diuretik dibagi menjadi 3, yaitu:
a). Diuretik Golongan Tiazid
Menghambat reabsorpsi natrium dan klorida pada pars asendens ansa henle tebal, yang menyebabkan diuresis ringan. Suplemen kalium mungkin diperlukan karena efeknya yang boros kalium.

Farmakokinetik :
Diabsorpsi dengan baik dalam gastrointestinal. Hidroklorotiazid memiliki kakuatan ikat protein yang lebih lemah dibandingkan dengan furosemid. Waktu paruh tiazid lebih panjang dibandingkan diuretik loop. Untuk alasan ini, tiazid harus diberikan pada pagi hari untuk menghindari nokturia (berkemiih di malam hari)

Farmakodinamik :
Tiazid bekerja langsung pada arteriol, menyebabkan vasodilatasi sehingga dapat menurunkan tekanan darah. Awal kerja dari hidrotiazid timbul dalam waktu 2 jam. Konsentrasi puncak berbeda-beda. Tiazid terbagi dalam 3 kelompok sesuai dengan lama  kerjanya, tiazid kerja pendek (klorotiazid, hidroklorotiazid) memiliki kerja kurang dari 12 jam, tiazid kerja menengah (bendroflumetiazid, benztiazid, sikotiazid)  lama kerjanya antara 12-24 jam dan yang bekerja lama (metiltiazid, politiazid, triklormetiazid)  memiliki kerja lebih dari 24 jam.

Efek Samping dan Reaksi yang merugikan :
Ketidakseimbangan elektrolit (hipokalemia, hipokalsemia, hipomagnesia dan kehilangan bikarbonat), hiperglisemia, hiperuresemia, dan hiperlipidemia. Tiazid mempengaruhi metabolisme karbohidrat dan biasa terjadi hiperglikemia terutama pada klien yang memiliki kadar gula darah tinggi atau di atas batas normal.

Kontraindikasi :
Tiazid menjadi kontraindikasi untuk dipakai pada penderita gagal ginjal.

Interaksi Obat :
Penggunaan dengan digoksin akan menimbulkan efek yang serius, tiazid dapat menyebabkan hipokalemia yang menguatkan kerja digoksin dan dapat terjadi keracunan digitalis.

Terdapat beberapa obat yang termasuk golongan tiazid antara lain :
                                                     i.   HIDROKLOROTIAZID  (HCT)
Pengertian : merupakan prototipe golongan tiazid dan di anjurkan untuk sebagian besar kasus hipertensi ringan dan sedang dan dalam kombinasi dengan berbagai antihipertensi lain. Dalam dosis yang ekuipoten berbagai golongan tiazid memiliki efek samping yang kurang lebih sama.
Golongan tiazid umumnya kurang efektif pada gangguan fungsi ginjal dapat memperburuk fungsi ginjal dan pada pemakaian lama menyebabkan hiperlipidemia (peningkatan kolesterol, LDL dan trigliserida). Efek hipotensif tiazid baru terlihat setelah 2-3 hari dan mencapai maksimum setelah 2-4 minggu.
Sediaan obat : Tablet
Mekanisme kerja : mendeplesi (mengosongkan) simpanan natrium sehingga volume darah, curah jantung dan tahanan vaskuler perifer menurun. Dan menghambat reabsorpsi natrium dan klorida dalam pars asendens ansa henle tebal dan awal tubulus distal. Hilangnya K+, Na+, dan Cl- menyebabkan peningkatan pengeluaran urin 3x. Hilangnya natrium menyebabkan turunnya GFR.
Farmakokinetik : diabsorbsi dengan baik oleh saluran cerna. Di distribusi keseluruh ruang ekstrasel dan hanya ditimbun dalam jaringan ginjal.
Indikasi : digunakan untuk mengurangi edema akibat gagal jantung, cirrhosis hati, gagal ginjal kronis, hipertensi, Obat awal yang ideal untuk hipertensi, edema kronik, hiperkalsuria idiopatik. Digunakan untuk menurunkan pengeluaran urin pada diabetes inspidus (GFR rendah menyebabkan peningkatan reabsorpsi dalam nefron proksimal, hanya berefek pada diet rendah garam)
Kontraindikasi : hypokalemia, hypomagnesemia, hyponatremia, hipertensi pada kehamilan, hiperurisemia, hiperkalsemia, oliguria, anuria, kelemahan, penurunan aliran plasenta, alergi sulfonamide, gangguan saluran cerna.
Dosis : Dewasa 25 – 50 mg/hr
Anak 0,5    1,0 mg/kgBB/ 12 – 24 jam

                                                   ii.   INDAPAMID
Pengertian : Memiliki kelebihan karena masih efektif pada pasien gangguan fungsi ginjal, bersifat netral pada metabolisme lemak dan efektif mergresi hipertrofi ventrikel. Obat ini dapat mengurangi sympathetic outflow dari sistem saraf autonom.
Penggunaan : Sampai sekarang tiazid merupakan obat utama dalam terapi hipertensi. Berbagai penelitian besar membuktikan bahwa diuretik terbukti paling efektif dalam menurunkan resiko kardiovakuler.
Efek samping : Tiazid dalam dosis tinggi dapat menyebabkan hipokalemia yang dapat berbahaya pada pasien yang mendapat digitalis. Efek samping ini dapat dihindari bila tiazid diberikan dalam dosis rendah atau kombinasi dengan obat lain seperti diuretik hemat kalium, atau penghambat enzim konvensi angiotensin (ACE- inhibitor).
Tiazid dapat menyebabkan hiponatremia dan hipomagnesimia serta hiperkalesemia.
Tiazid dapat menghambat ekskresi asam urat dari ginjal dan pada pasien hipererusemia dapat mencetuskan serangan gout akut.
Untuk menghindari efek metabolik ini tiazid harus digunakan dalam dosis rendah dan dilakukan pengaturan diet. Tedensi hiperkalsemia oleh tiazid dilaporkan dapat mengurangi resiko osteoporosis.
Tiazid dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL dan trigliserida.pada penderita DM , tiazid dapat menyebabkan hiperglikemia karena mengurangi sekresi insulin. Pada pasien pria, gangguan fungsi seksual merupakan efek samping tiazid yang kadang-kadang cukup mengganggu.

b). Diuretik Kuat (Loop Diuretics, Ceiling Diuretics)
Diuretik kuat bekerja di ansa henle asenden bagian epitel tebal dengan cara menghambat ko transport Na+ ,K+,Cl- dan menghambat resorpsi air dan elektrolit.
Mula kerjanya lebih cepat dan efek diuretiknya lebih kuat daripada golongan tiazid, diuretik kuat jarang digunakan sebagai anti hipertensi kecuali pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal (kreatinin serum >2,5 mg/dl) atau gagal jantung.

Farmakokinetik :
Cepat diabsorbsi di saluran percernaan. Berikatan dengan protein sangat tinngi dengan waktu paruh yang bervariasi dari 30 menit sampai 1.5 jam.

Farmakodinamik :
Memiliki efek saluretik yang besar (kehilangan natrium) dan dapat menyebabkan dieresis cepat. Waktu awal kerja dari diuretics loop terjadi setelah 30-60 menit.

Efek samping dan Reaksi yang merugikan :
Efek samping yang sering dijumpai adalah ketidakseimbangan elektrolit dan cairan seperti hipokalsemia dan hipokloremia. Hipotensi ortostatik dapat timbul. Trombositopenia, gangguan kulit dan tulis sementara jarang terlihat.
Interaksi Obat:  interaksi obat yang paling utama adalah dengan preparat digitalis. Jika klien memakai digoksin dengan diuretik kuat dapat terjadi keracunan digitalis. Klien ini memerlukan tambahan kalium melalui makanan atau obat.

Yang termasuk dalam golongan diuretik kuat antara lain :
i.        FUROSEMIDE
Nama paten : Cetasix, farsix, furostic, impungsn, kutrix, Lasix, salurix, uresix.
Sediaan obat : Tablet,capsul, injeksi.
Mekanisme kerja : mengurangi reabsorbsi aktif NaCl dalam lumen tubuli ke dalam intersitium pada ascending limb of henle dan menghambat reabsorpsi klorida dalam pars asendens ansa henle tebal. K+ banyak hilang ke dalam urin.
 Indikasi : Diuretik yang dipilih untuk pasien dengan GFR rendah dan kedaruratan hipertensi. Juga edema, edema paru dan untuk mengeluarkan banyak cairan. Kadangkala digunakan untuk menurunkan kadar kalium serum. Edema paru akut, edema yang disebabkan penyakit jantung kongesti, sirosis hepatis, nefrotik sindrom, hipertensi.
 Kontraindikasi : wanita hamil dan menyusui
 Efek samping : pusing. Lesu, kaku otot, hipotensi, mual, diare. Hiponatremia, hipokalemia, dehidrasi, hiperglikemia, hiperurisemia, hipokalsemia, ototoksisitas, alergi sulfonamide, hipomagnesemia, alkalosis hipokloremik, hipovolemia.
 Interaksi obat : indometasin menurunkan efek diuretiknya, efek ototoksit meningkat bila diberikan bersama aminoglikosid. Tidak boleh diberikan bersama asam etakrinat. Toksisitas silisilat meningkat bila diberikan bersamaan.
 Dosis : Dewasa 40 mg/hr
              Anak 2 – 6 mg/kgBB/hr




ii.      ASAM ETAKRINAT (ETHACRYNAT)
Indikasi : per oral untuk edema, IV untuk edema paru.
Efek samping : paling ototoksi, lebih banyak gangguan saluran cerna, kecil kemungkinan menyebabkan alkalosisseperti furosemid.

c). Diuretik Hemat Kalium
Diuretik hemat kalium lebih lemah dari tiazid dan diuretics loop, dipakai untuk diuretik ringan atau dalam kombinasi dengan obat antihipertensi. Obat ini bekerja pada tubulus distal ginjal untuk meningkatkan ekskresi natrium dan air dan retensi kalium.
Obat ini mengganggu pompa natrium kalium yang dikontrol oleh aldosteron hormon mineralokotikoid (natrium ditahan dan kalium diekskresi). Kalium direabsorpsi dan natrium diekskresi.
Spironolakton adalah antagonis aldosteron yang ditemukan pada 1958,  merupakan sebuah diuretik hemat kalium pertama. Antagonis aldosteron menghambat pompa natrium kalium sehingga kalium ditahan dan natrium diekskresi.

Efek samping dan reaksi yang merugikan :
Efek samping utama adalah hiperkalemia. Hati-hati dalam memberikan obat ini pada klien yang fungsi ginjalnya buruk, karena 80-90 % dari kalium diekskresikan oleh ginjal. Urin harus sekurang-kurangnya 600 ml sehari. Klien tidak boleh memakai tambahan kalium kecuali jika kadar kalium dalam serum sangat rendah.
Meningkatkan ekskresi natrium dan air sambil menekan kalium. Obat-obat ini dipasarkan dalam gabungan diuretik boros-kalium untuk memperkecil ketidakseimbangan kalium.

Macam-macam obat diuretik Hemat Kalium :
i.        AMILORID (MIDAMOR)
Mekanisme kerja: secara langsung meningkatkan ekskresi Na+ dan menurunkan sekresi K+ dalam tubulus kontortus distal.
Indikasi : digunakan bersama diuretik lain karena efek hemat-K+ mengurangi efek hipokalemik. Dapat mengoreksi alkalosis metabolik.
Dosis: Awal: 5 (1x).
Maksimal: 10.
Frekuensi pemberian: 1-2x.
Sediaan : tablet 5 mg.
Efek samping : hiperkalemi, kekurangan natrium atau air. Pasien dengan diabetes mellitus dapat mengalami intoleransi glukosa.

ii.      SPIRONOLAKTON  (MIS. ALDACTONE)
Mekanisme kerja : antagonis aldosteron (aldosteron menyebabkan retensi Na+). Juga memiliki kerja serupa dengan amilorid.
Indikasi : digunakan dengan tiazid untuk edema (pada gagal jantung kongesif), sirosis, dan sindrom nefrotik. Juga digunakan untuk mengobati atau mendiagnosis hiperaldosteronisme
Kontraindikasi : anuria, insufisiensi ginjal berat, hiperkalemia. Hindari pada pasien diabetes.
Dosis : Awal: 25 (1x).
Maksimal: 100.
Frekuensi pemberian: 1-2x.
Sediaan : tablet 25mg; 100mg
Efek samping : seperti amilorid. Juga menyebabkan ketidakseimbangan endokrin (jerawat, kulit berminyak, hirsutisme, ginekomastia).

2.      PENGHAMBAT ADRENERGIK
Agonis adrenergik meningkatkan tekanan darah dengan merangsang jantung (reseptor ß1) dan/atau membuat konstriksi pembuluh darah perifer (reseptor α1). Pada pasien hipertensi, efek adrenergik dapat ditekan dengan menghambat pelepasan agonis adrenergik atau melakukan antagonisasi reseptor adrenergic.
Penghambat adrenergik ada 5 yaitu:
a). Penghambat Adrenoseptor Beta  (ß-bloker)
ß-bloker menurunkan TD berdiri dan berbaring sama kuat sehingga tidak menimbulkan hipotensi ortostatik. Penurunan tekanan darah oleh ß-bloker yang diberikan per oral berlangsung lambat.

Mekanisme antihipertensi
Mekanisme penurunan tekanan darah akibat pemberian ß-blocker dapat dikaitkan dengan hambatan reseptor ß1 antara lain:
·         Penurunan frekuensi denyut jantung dan kontraktilitas miokard sehingga menurunkan curah jantung
·         Hambatan sekresi renin di sel-sel jukstaglomerulus ginjal akibat penurunan produksi angiotensin II
·         Efek sentral yang mempengaruhi aktivitas saraf simpatis,perubahan pada sensivitas baroreseptor, perubahan aktivitas neuron adregenik perifer dan peningkatan biosintesis prostasiklin

Penggunaan
ß-blocker digunakan sebagai obat tahap pertama pada hipertensi ringan sampai sedang terutama pada pasien dengan penyakit jantung koroner.
Efektifitas antihipertensi berbagai ß-blocker tidak berbeda satu sama lain bila diberikan dalam dosis yang ekuipoten. Dari berbagai ß-blocker atenolol merupakan obat yang paling sering dipilih karena bersifat kardio-selektif dan penetrisinya ke SSP minimal, sehingga kurang menimbulkan efek samping sentral dan cukup diberikan sekali sehari. Dosis lazim adalah 50-100 mg per oral sekali sehari.
Metoprolol diberikan 2 kali sehari dan kurang kardio selektif dibanding dengan atenolol, dosisnya 50-100 mg dua kali sehari.
Labetolol dan karvedilil memiliki efek vasodilatasi karena selain menghambat reseptor ß, obat ini juga menghambat reseptor ά.

Efek samping, perhatian dan kontraindikasi
ß-blocker dapat menyebabkan bradikardi,blokade AV ,hambatan nodus SA dan menurunkan kekuatan kontraksi miokard. ß-blocker merupakan obat yang baik untuk hipertensi dengan angina stabil kronik,tapi dapat memperberat gejala angina Prinzmetal (angina variant) sehingga pemberiannya pada pasien hipertensi dengan angina harus memperhatikan perbedaan kedua jenis angina.
Efek sentral berupa depresi, mimpi buruk, halusinasi dapat terjadi dengan ß-blocker yang lipofilik seperti propanorol dan oksprenolol.

Macam-macam obat penghambat Adrenoseptor Beta  (ß-bloker), antara lain :
i.        ATENOLOL (BETA BLOKER)
Golongan ini merupakan obat yang dipakai dalam upaya pengontrolan tekanan darah bekerja dengan melalui proses memperlambat kerja jantung dan memperlebar pembuluh darah.
Nama paten : Betablok, Farnomin, Tenoret, Tenoretic, Tenormin, internolol.
 Sediaan obat : Tablet
Mekanisme kerja : pengurahan curah jantung disertai vasodilatasi perifer, efek pada reseptor adrenergic di SSP, penghambatan sekresi renin akibat aktivasi adrenoseptor di ginjal.
 Indikasi : hipertensi ringan – sedang, aritmia
Kontraindikasi : gangguan konduksi AV, gagal jantung tersembunyi, bradikardia, syok kardiogenik, anuria, asma, diabetes.
Efek samping : nyeri otot, tangan kaki rasa dingin, lesu, gangguan tidur, kulit kemerahan, impotensi.
Interaksi obat : efek hipoglikemia diperpanjang bila diberikan bersama insulin. Diuretik tiazid meningkatkan kadar trigliserid dan asam urat. Iskemia perifer berat bila diberi bersama alkaloid ergot.
Dosis : 2 x 40 – 80 mg/hr

ii.      METOPROLOL (BETA BLOKER)
Nama paten : Cardiocel, Lopresor, Seloken, Selozok
Sediaan obat : Tablet
Mekanisme kerja : pengurangan curah jantung yang diikuti vasodilatasi perifer, efek pada reseptor adrenergic di SSP, penghambatan sekresi renin akibat aktivasi adrenoseptor beta 1 di ginjal.
Farmakokinetik : diabsorbsi dengan  baik oleh saluran cerna. Waktu paruhnya pendek, dan dapat diberikan beberapa kali sehari.
Farmakodinamik : penghambat adrenergik beta menghambat perangsangan simpatik, sehingga menurunkan denyut jantung dan tekanan darah. Penghambat beta dapat menembus barrier plasenta dan dapat masuk ke ASI.
Indikasi : hipertensi, miokard infard, angina pektoris
Kontraindikasi : bradikardia sinus, blok jantung tingkat II dan III, syok kardiogenik, gagal jantung tersembunyi.
Efek samping : lesu, kaki dan tangan dingin, insomnia, mimpi buruk, diare.
Interaksi obat : reserpine meningkatkan efek antihipertensinya
Dosis : 50 – 100 mg/kg

iii.    PROPRANOLOL (BETA BLOKER)
Nama paten : Blokard, Inderal, Prestoral
Sediaan obat : Tablet
Mekanisme kerja : tidak begitu jelas, diduga karena menurunkan curah jantung, menghambat pelepasan renin di ginjal, menghambat tonus simpatetik di pusat vasomotor otak.
Farmakokinetik : diabsorbsi dengan  baik oleh saluran cerna. Waktu paruhnya pendek, dan dapat diberikan beberapa kali sehari. Sangat mudah berikatan dengan protein dan akan bersaing dengan obat – obat lain yang juga sangat mudah berikatan dengan protein.
Farmakodinamik : penghambat adrenergic beta menghambat perangsangan simpatik, sehingga menurunkan denyut jantung dan tekanan darah. Penghambat beta dapat menembus barrier plasenta dan dapat masuk ke ASI.
Indikasi : hipertensi, angina pectoris, aritmia jantung, migren, stenosis subaortik hepertrofi, miokard infark, feokromositoma
Kontraindikasi : syok kardiogenik, asma bronkial, brikadikardia dan blok jantung tingkat II dan III, gagal jantung kongestif. Hati – hati pemberian pada penderita biabetes mellitus, wanita haminl dan menyusui.
Efek samping : bradikardia, insomnia, mual, muntah, bronkospasme, agranulositosis, depresi.
Interaksi obat : hati – hati bila diberikan bersama dengan reserpine karena menambah berat hipotensi dan kalsium antagonis karena menimbulkan penekanan kontraktilitas miokard. Henti jantung dapat terjadi bila diberikan bersama haloperidol. Fenitoin, fenobarbital, rifampin meningkatkan kebersihan obat ini. Simetidin menurunkan metabolism propranolol. Etanolol menurukan absorbsinya.
Dosis : dosis awal 2 x 40 mg/hr, diteruskan dosis pemeliharaan.
b). Penghambat Adrenoseptor Alfa (ά-bloker)
ά-bloker yang selektif memblok adrenoseptor ά1 berguna untuk pengobatan hipertensi. ά - bloker yang nonselektif juga menghambat adrenoseptor  ά 2 di ujung saraf adrenergik sehingga meningkatkan penglepasan NE.

Mekanisme antihipertensi:
Hambatan reseptor ά1 menyebabkan vasodilatasi di arteriol dan venula sehingga menurunkan resitensi perifer. Venodilatasi menyebabkan aliran balik vena berkurang dan selanjutnya menurunkan curah jantung.
Alfa bloker memiliki beberapa keunggulan antara lain efek positif terhadap lipid darah (menurunkan LDL, dan trigliserida dan meningkatkan HDL) dan mengurangi resitensi insulin, sehigga cocok untuk pasien hipertensi dengan dislipedimia dan diabetes mellitus.

Efek samping:
Hipotensi ortostatik sering terjadi pada pemberian dosis awal atau pada peningkatan dosis (fenomena dosis pertama) terutama dengan obat yang kerjanya singkat seperti prazosin.
Palpitasi,takikardi,sakit kepala, mulut kering, diare udem perifer, hidung tersumbat dan lain-lain.







Macam-macam obat Penghambat adrenoseptor alfa (ά-bloker), antara lain :
i.        KLONIDIN (ALFA ANTAGONIS)
Nama paten : Catapres, dixarit
Sediaan obat : Tablet, injeksi.
Mekanisme kerja : menghambat perangsangan saraf adrenergic di SSP.
                                      Indikasi : hipertensi, migren
Kontraindikasi : wanita hamil, penderita yang tidak patuh.
Efek samping : mulut kering, pusing mual, muntah, konstipasi.
Interaksi obat : meningkatkan efek antihistamin, andidepresan, antipsikotik, alcohol. Betabloker meningkatkan efek antihipertensinya.
Dosis : 150 – 300 mg/hr.
c). Adrenolitik Sentral
Yang paling sering digunakan metildopa, klonidin, guanfasin, guanabensminoksidin, rimedin.
Macam-macam obat adrenolitik sentral, antara lain :
i.        METILDOPA
Mekanisme kerja: merupakan prodrug yang dalam SSP menggantikan kedudukan DOPA dalam sintesis ketekolamin dengan hasil akhir ά-metilnorepinefrin. Efek anti hipertensinya diduga disebabkan karena stimulasi reseptor ά-2 di sentral sehingga mengurangi sinyal simpatis ke perifer.
Efek maksimal tercapai setelah 6-8 jam setelah pemberian oral atau i.v.
Penggunaan: merupakan antihipertensi tahap ke dua. Efektif bila di kombinasikan dengan diuretik. Dosis efektif minimal 2x 125 mg perhari dan dosis maksimal 3 g perhari.

Efek samping:
Sedasi, hipotensi postural,pusing mulut kering dan sakit kepala, depresi gangguan tidur, impotensi, kecemasan, penglihatan kabur dan hidung tersumbat.
Nama Dagang: Dopamet (Alpharma), Medopa (Armoxindo), Tensipas (Kalbe Farma), Hyperpax (Soho)
Indikasi: Hipertensi, bersama dengan diuretika, krisis hipertensi jika tidak diperlukan efek segera.
Kontraindikasi: depresi, penyakit hati aktif, feokromositoma, porfiria, dan hipersensitifitas.
Efek samping: mulut kering, sedasi, depresi, mengantuk, diare, retensi cairan, kerusakan hati, anemia hemolitika, sindrom mirip lupus eritematosus, parkinsonismus, ruam kulit, dan hidung tersumbat
Peringatan: mempengaruhi hasil uji laboratorium, menurunkan dosis awal pada gagal ginjal, disarqankan untuk melaksanakan hitung darah dan uji fungsi hati, riwayat depresi.
Dosis dan aturan pakai: oral 250mg 2 kali sehari setelah makan, dosis maksimal 4g/hari, infus intravena 250-500 mg diulangi setelah enam jam jika diperlukan.

ii.      KLONIDIN
Bekerja pada reseptor ά-2 di SSP dengan efek penurunan simpathetic outflow. Efek hipotensif klonidin terjadi karena penurunan resistensi perifer dan curah jantung.
Penggunaan: sebagai obat ke dua atau ketiga bila penurunan TD dengan diuretik belum optimal. Dosis 0,075 mg dua kali sehari dan dapat ditingkatkan sampai 0,6 mg/hari.

Efek samping: mulut kering dan sedasi terjadi pada 50% pasien berkurang setrelah beberapa minggu pengobatan. Efek sentral berupa mimpi buruk, insomnia, cemas dan depresi.klonidin jg dapat menyebabkan rebound hipertension bila obat dihentikan secara mendadak.

iii.    GUANFASIN dan GUANABENZ
Sifat-sifat farmakologik dan efek sampingnya mirip dengan klonidin. Efek antihipertensi guanabenz mencapai maksimal setelah 2-4 jam setelah pemberian per oral dan menghilang 10 jam kemudian. Bioavailabilitasnya tinggi,waktu paruh sekitar 6 jam dan sebagian besar obat dimetabolisme.
Guanfasin mempunyai waktu paruh relatif panjang (14-18jam). Obat ini dieliminasi terutama melalui ginjal dalam bentuk utuh dan metabolik. Dosis pemberiannya 0,5-3 mg/hari,sebaiknya diberikan sebelum tidur


iv.    MOKSONIDIN DAN RILMEDIN
Mempunyai struktur yang mirip klonidin tapi 600 kali lebih selektif terhadap reseptor imidazolin I1 dibandingkan dengan klonidin.






d). Penghambat Saraf Adrenergik
Macam-macam obat penghambat saraf adrenergik, antara lain :
i.        RESERPIN
Merupakan obat pertama yang diketahui dapat menghambat SSP. Pemberian reserpin mengakibatkan penurunan curah jantung dan resistensi perifer.

Penggunaan: pemakaian reserpin dibatasi oleh sering timbulnya efek samping sentral namun dalam dosis rendah dan dalam kombinasi dengan diuretik merupakan obat yang efektif dengan efek samping yang relatif rendah. Dosis harian dimulai dengan 0,05 mg sekali sehari bersama diuretik dan jangan melebihi 0,25 mg/hari.

Efek samping: biasanya bersifat sentral seperti letargi, mimpi buruk, depresi mental, kingesti nasal, hiperasiditas lambung dan eksaserbesi ulkus peptikum, muntah.

ii.      GUANETIDIN DAN GUANADREL
Guanetidin bekerja pada neuron adrenergik perifer. Obat ini ditransport secara aktif ke dalam vesikel saraf dan menggeser neropinefrin ke luar vesikel.
Guanetidin menurunkan TD dengan cara menurunkan curah jantung dan resistensi perifer.
Dosis lazim berkisar antara 10-50 mg sekali sehari. Obat ini tidak dapat menembus sawar darah otak sehingga tidak menimbulakan efek samping sentral.

e). Penghambat Ganglion
Macam-macam obat penghambat ganglion, antara lain :
i.        TRIMETAFAN
Merupakan satu satunya penghambat ganglion yang digunakan di klinik.kerjanya cepat dan singkat dan digunakan untuk menurunkan TD dengan segera pada hipertensi darurat terutama aneurisma aorta disekan akut, untuk menghasilkan hipotensi yang terkendali selama opersai besar. Obat ini diberikan secara IV dengan dosis 0,3-5 mg/menit
Efek hipotensi terjadi dalam 3-5 menit dan menghilang 15 menit setelah penghentian tetesan infus.
Efek samping yang terjadi berkaitan dengan hambatan ganglion seperti ileus paralitik dan paralisis kandung kemuh,mulut kering penglihatan kabur dan hipotensi ortostatik,pembebasan histamin dari sel mast sehingga dapat menimbulakan alergi.



3.      VASOLIDATOR
Vasolidator berfungsi untuk mengendurkan otot polos arteri, menyebabkan mereka untuk membesar dan dengan demikian mengurangi resistensi terhadap aliran darah.

Macam-macam obat vasilidator, antara lain :
i.        HIDRALAZIN
Nama paten : Aproseline
Sediaan obat : Tablet
Mekanisme kerja : merelaksasi otot polos arteriol sehingga resistensi perifer menurun, meningkatkan denyut jantung.
Indikasi : hipertensi, gagal jantung.
Kontraindikasi : gagal ginjal, penyakit reumatik jantung.
Efek samping : sakit kepala, takikardia, gangguan saluran cerna, muka merah, kulit kemerahan.
Interaksi obat : hipotensi berat terjadi bila diberikan bersama diazodsid.
Dosis : 50 mg/hr, dibagi 2 – 3 dosis.

ii.      DIAZOKSID (HYPERSTAT)
Mekanisme kerja : menurunkan resistensi vascular perifer, mungkin dengan mengantagonis kalsium. Juga meningkatkan kadar glukosa serum dengan menekan pelepasan insulin dan meningkatkan pelepasan glukosa hati.
Indikasi : kontrol jangka pendek hipertensi berat di rumah sakit. Hipoglikemia akibat hiperinsulinisme yang refrakter terhadap bentuk pengobatan lain.
Efek tak diinginkan : retensi air dan natrium dan efek kardiovaskular yang disebabkannya. Hiperglikemia, gangguan saluran cerna, hirsurisme, efek samping skstrapiramidal.

iii.    MINOKSIDIL
Bekerja membuka kanal kalium sensitif ATP dengan akibat terjadinya effluks kalium dan hiperpolarisasi membran yang diikuti oleh relaksasi otot polos pembuluh darah dan vasodilatasi.

Penggunaan: obat ini efektif pada hampir semua pasien dan berguna untuk terapi jangka panjang hipertensi berat terhadap kombinasi 3 obat yang terdiri dari diuretik, penghambat adrenergik dan vasodilator.minoksidil harus diberikan bersama diuretik dan penghambat adrenergik untuk mencegah retensi cairan dan mengontrol refleks simpatis.
Dosis dimulai dengan 1,25 mg satu atau dua kali sehari dan dapat ditingkatkan sampai 40mg/hari

Efek samping dan perhatian
Retensi cairan dan garam,efek samping karsiovaskular karena releks simpatis dan hipertrikosis.

iv.    NATRIUM NITROPRUSID
Merupakan donor NO yang bekerja dengan mengaktifkan guanilat siklase dan meningkatkan konversi GTP mejadi GMP –siklik pada otot polos pembuluh darah.
Nitroprusid diberikan sebagai infus IV.

Penggunaan: nitroprusid merupakan obat yang kerjanya paling cepat dan efektif untuk mengatasi hipertensi darurat apapun penyebabnya. Dosis pemberian biasanya 0,5-10 ug/kg/menit, dosis rata-rata 3 ug/kg/menit menurunkan tekanan diastolik sebanyak 30-40%
Efek samping
Toksisitas yang akut merupakan akibat dari vasodilatasi berlebihan dan hipotensi.

4.       PENGHAMBAT ANGIOTENSIN- CONVERTING ENZIME (ACE-INHIBITOR) DAN ANTAGONIS RESEPTOR ANGIOTENSIN II (ANGITENSIN RECEPTOR BLOCKER, ARB)
a). Sistem Renin Angiotensin Aldosteron (SRAA)
Renin merupakan enzim proteolitik akan memecah angiotensinogen menjadi angiotensin I (A-I) mejadi angiotensin II (A-II).
Sistem RAA  tidak berperan aktif dalam mempertahankan homeostatis TD pada subjek dengan volume darah dan kadar natrium yang normal tetepi berperan penting dalam mempertahankan TD dan volume intravaskular sewaktu terdapat deplesi natrium dan cairan.
Angiotensin adalah suatu globulin yang disintesis dalam hati dan beredar dalam darah.
Renin berfungsi mengubah angiotensinomogen menjadi angiotensin I yang merupakan hormon yang belum aktif. selanjutnya angiotaensin I akan diubah oleh angiotensin converting enzym (ACE) menjadi angiotensin II yang memiliki efek vasokontriksi yang sagat kuat dan meransang sekresi aldosteron dari korteks adrenal.

Mekanisme kerja:  angiotensin II suatu oktapeptida yang merupakan komponen aktif dalam SRA dan bekerja pada sistem kardiovaskular dan neuro endokrin.



b). Penghambat Angiotensin Converting Enzyme (ACE-INHIBITOR)
Obat dalam golongan ini menghambat enzim pengubah angiotensin (ACE) yang nantinya akan menghambat pembentukan angiotensin II (vasokonstriktor) dan menghambat pelepasan aldosteron. Aldosteron meningkatkan retensi natrium dan ekskresi kalium. Jika aldosteron dihambat, natrium diekskresikan bersama-sama dengan air. Katopril, enalapril dan lisinopril adalah ketiga antagonis angiotensin.

Penggunaan:
ACE Inhibitor efektif untuk hipertensi ringan, sedang maupun berat. Bahkan beberapa diantarnya dapat digunkaan pada krisis hipertensi seperti kaptopril dan enalaprilat . Obat ini efektif pada sekitar 70 % pasien. Kombinasi dengan β-blocker memberikan efek aditif. Kombinasi dengan vasodilator lain, termasuk prazosin dan antagonis kalsium, memberi efek yang baik. Tetapi pemberian bersama penghambat edrenergik lain yang menghambat respons adrenergik α dan β (misalnya klonidin, metildopa, labetalol, atau kombinasi α dengan β blocker sebaiknya dihindari karena dapat menimbulkan hipotensi berat dan berkepanjangan.
ACE-Inhibitor terpilih untuk hipertensi dengan gagal jantung kongestif. Obat ini juga menujukkan efek positif terhadap lipid darah dan mengurangi resistensi insulin sehingga sangat baik untuk hipertensi pada diabetes, dislipidemia dan obesitas. Obat ini juga sering digunakan untuk mengurangi proteiunuria pada sindrom nefrotik dan nefropat DM. Selain itu ACE-inhibitor juga sangat baik untuk hipertensi dengan hipertrofi ventrikel kiri, penyakit jantung koroner dan lain-lain.

Farmakokinetik:
Kaptopril diabsorpsi dengan baik pada pemberian oral dan bioavailabilitas 70-75%. Pemberian bersama makanan akan mengurangi absorpsi sekitar 30 %, oleh karena itu obat ini harus diberikan 1 jam sebelum makan. Sebagian besar ACE-inhibitor mengalami metabolisme di hati, kecuali lisinopril yang tidak dimetabolisme. Eliminasi umumnya melalui ginjal, kecuali fosinopril yang mengalami eliminasi di ginjal dan bilier.

Efek samping:
Pada awal pemberian dapat menimbulkan hipotensi. Batuk kering merupakaan efek samping yang paling sering terjadi dengan insiden 5-20%, lebih sering pada wanita dan lebih sering terjadi pada malam hari, diduga efek samping ini ada kaitannya dengan peningkatan kadar bradikinin dan substansi P, dan / atau prostaglandin. Efek samping ini bergantung pada besarnya dosis dan bersifat reversibel bila obat dihentikan. Dapat menyebabkan hiperkalemia pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal atau pada pasien yang juga mendapati diuretic hemat kalsium, AINS, suplemen kalium atau β-blocker.

Perhatian dan Kontraindikasi:
ACE Inhibitor dikontraindikasikan pada wanita hamil karena bersifat teratogenik. Pemberian pada ibu menyusui juga kontraindikasi karena ACE inhibitor diekskresi melalui ASI dan berakibat buruk terhadap fungsi ginjal bayi.Pemberian bersama diuretic hemat kalium dapat menimulkan hiperkalemia. Pemberian bersama antasida akan mengurangi absorpsi, sedangkan kombinasi dengan AINS akan mengurangi efek antihipertensinya dan menambah resiko hiperkalemia.

Macam-macam obat, antara lain :
i.        KAPTOPRIL
 Nama paten : Capoten
Sediaan obat : Tablet
Mekanisme kerja : menghambat enzim konversi angiotensin sehingga menurunkan angiotensin II yang berakibat menurunnya pelepasan renin dan aldosterone.
Indikasi : hipertensi, gagal jantung.
Kontraindikasi : hipersensivitas, hati – hati pada penderita dengan riwayat angioedema dan wanita menyusui.
Efek samping : batuk, kulit kemerahan, konstipasi, hipotensi, dyspepsia, pandangan kabur, myalgia.
Interaksi obat :  hipotensi bertambah bila diberikan bersama diuretika. Tidak boleh diberikan bersama dengan vasodilator seperti nitrogliserin atau preparat nitrat lain. Indometasin dan AINS lainnya menurunkan efek obat ini. Meningkatkan toksisitas litium.
Dosis : 2 – 3 x 25 mg/hr.

ii.      LISINOPRIL
Nama paten : Zestril
Sediaan obat : Tablet
Mekanisme kerja : menghambat enzim konversi angiotensin sehingga perubahan angiotensin I menjadi angiotensin II terganggu, mengakibatkan menurunnya aktivitas vasopressor dan sekresi aldosterone.
Indikasi : hipertensi
Kontraindikasi : penderita dengan riwayat angioedema, wanita hamil, hipersensivitas.
Efek samping : batuk, pusing, rasa lelah, nyeri sendi, bingung, insomnia, pusing.
Interaksi obat : efek hipotensi bertambah bila diberikan bersama diuretic. Indomitasin meningkatkan efektivitasnya. Intoksikasi litium meningkat bila diberikan bersama.
Dosis : awal 10 mg/hr

iii.    RAMIPRIL
Nama paten : Triatec
Sediaan obat : Tablet
Mekanisme kerja : menghambat enzim konversi angiotensin sehingga perubahan angiotensin I menjadi angiotensin II terganggu, mengakibatkan menurunnya aktivitas vasopressor dan sekresi aldosterone.
Indikasi : hipertensi
Kontraindikasi : penderita dengan riwayat angioedema, hipersensivitas. Hati – hati pemberian pada wanita hamil dan menyusui.
Efek samping : batuk, pusing, sakit kepala, rasa letih, nyeri perut, bingung, susah tidur.
Interaksi obat : hipotensi bertambah bila diberikan bersama diuretika. Indometasin menurunkan efektivitasnya. Intoksitosis litiumm meningkat.
Dosis : awal 2,5 mg/hr


c). Antagonis reseptor angiotensin II
Sifatnya mirip penghambat ACE, bedanya adalah obat-obat golongan ini tidak menghambat pemecahan bradikin dan kinin-kinin lainnya, sehingga tampaknya tidak menimbulkan batuk kering parsisten yang biasanya mengganggu terapi dengan penghambat ACE. Karena itu, obat-obat golongan ini merupakan alternatif yang berguna untuk pasien yang harus menghentikan penghambat ACE akibat batuk yang parsisten.






5.       ANTAGONIS KALSIUM
Menurunkan kontraksi otot polos jantung dan atau arteri dengan mengintervensi influks kalsium yang dibutuhkan untuk kontraksi. Penghambat kalsium memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam menurunkan denyut jantung. Volume sekuncup dan resistensi perifer.

Macam-macam obat antagonis kalsium, antara lain :
i.           DILTIAZEM (KALSIUM ANTAGONIS)                                                                                   
 Nama paten : Farmabes, Herbeser, Diltikor.
Sediaan obat : Tablet, kapsul
Mekanisme kerja : menghambat asupan, pelepasan atau kerja kalsium melalui slow cannel calcium.
Indikasi : hipertensi, angina pectoris, MCI, penyakit vaskuler perifer.
Kontraindikasi : wanita hamil dan menyusui, gagal jantung.
Efek samping : bradikardia, pusing, lelah, edema kaki, gangguan saluran cerna.
Interaksi obat : menurunkan denyut jantung bila diberikan bersama beta bloker. Efek terhadap konduksi jantung dipengaruhi bila diberikan bersama amiodaron dan digoksin. Simotidin meningkatkan efeknya.
Dosis : 3 x 30 mg/hr sebelum makan

ii.      NIFEDIPIN (ANTAGONIS KALSIUM)
 Nama paten : Adalat, Carvas, Cordalat, Coronipin, Farmalat, Nifecard, Vasdalat.
Sediaan obat : Tablet, kaplet
Mekanisme kerja : menurunkan resistensi vaskuler perifer, menurunkan spasme arteri coroner.
Indikasi : hipertensi, angina yang disebabkan vasospasme coroner, gagal jantung refrakter.
 Kontraindikasi : gagal jantung berat, stenosis berat, wanita hamil dan menyusui.
Efek samping : sakit kepala, takikardia, hipotensi, edema kaki.
Interaksi obat : pemberian bersama beta bloker menimbulkan hipotensi berat atau eksaserbasi angina. Meningkatkan digitalis dalam darah. Meningkatkan waktu protombin bila diberikan bersama antikoagulan. Simetidin meningkatkan kadarnya dalam plasma.
                   DOSIS : 3 X 10 MG/HR

iii.    VERAPAMIL (ANTAGONIS KALSIUM)
Nama paten : Isoptil
Sediaan obat : Tablet, injeksi
Mekanisme kerja : menghambat masuknya ion Ca ke dalam sel otot jantung dan vaskuler sistemik sehingga menyebabkan relaksasi arteri coroner, dan menurunkan resistensi perifer sehingga menurunkan penggunaan oksigen.
Indikasi : hipertensi, angina pectoris, aritmia jantung, migren.
Kontraindikasi : gangguan ventrikel berat, syok kardiogenik, fibrilasi, blok jantung tingkat II dan III, hipersensivitas.
Efek samping : konstipasi, mual, hipotensi, sakit kepala, edema, lesu, dipsnea, bradikardia, kulit kemerahan.
Interaksi obat : pemberian bersama beta bloker bias menimbulkan efek negative pada denyut, kondiksi dan kontraktilitas jantung. Meningkatkan kadar digoksin dalam darah. Pemberian bersama antihipertensi lain menimbulkan efek hipotensi berat. Meningkatkan kadar karbamazepin, litium, siklosporin. Rifampin menurunkan efektivitasnya. Perbaikan kontraklitas jantung bila diberi bersama flekaind dan penurunan tekanan darah yang berate bila diberi bersama kuinidin. Fenobarbital nemingkatkan kebersihan obat ini.
Dosis : 3 x 80 mg/hr


C.   NAMA OBAT ANTI HIPERTENSI YANG BEREDAR DI PASARAN
Tabel (Deuritik)
Golongan
Obat
Merek dagang
Indikasi
Kontraindikasi
Efek tak diharapkan
Tiazid
Hydrodiuril
Ideal untuk hipertensi, dan edema-kronik
Ibu hamil, anuria
Hipokalemia,
Hiperglikemi,Oliguria, anuria, hiperkalsemia
Loop diuretic
Lasik (furosemid)
Untuk darurat hipertensi, edema, dan edema paru
Kekurangan elektrolit, anuria
Dehidrasi, hipokalemia, hiperglikemi, hipovolemia
Antagonis reseptor aldosteron
Midamor (amilorid)
Dapat mengoreksi alkalosis metabolik
Hiperkalemia berat dengan suplemen kalsium
Hiperkalemia, kekurangan natrium atau air

Tabel  (Simpatolitik)
Golongan
Obat
Merek dagang
Indikasi
Kontraindikasi
Efek tak diharapkan
α – blocker
Klonidin (Catapresan)
Baik untuk hipertensi
Bradikardi,hipotensi,sindrom simpul sinus
Mulut kering, hipotensi, bradikardi, sedasi
β – blocker
Atenolol (Tenormin)
Baik untuk hipertensi ringan dan sedang
Diabetes berat, bradikardi, gagal jantung, asma
Depresi dan sedasi susunan saraf pusat










Tabel  (Penghambat Angiotensin)
Golongan
Obat
Merek
Dagang
Indikasi
Kontraindikasi
Efek tak diharapkan
 ACE inhibitor
Kaptopril
(Capoten)
Hipertensi dengan renin tinggi,

Hipotensi, pusing, ruam, takikardi
 ARB
Losartan  (Lozaar)
Hipertensi esensial
Gangguan fungsiginjal, anak-anak, kehamilan, masa menyusui
Vertigo, ruam kulit, gangguan ortostatik

Tabel  (Vasodilatator)
Golongan
Obat
Merek dagang
Indikasi
Kontraindikasi
Efek tak diharapkan
Hidralazin
Apresoline
Hipertensi sedang
Penyakit jantung iskemik
Retensi cairan, palpitasi, refleks takikardi
Monoksidil
Loniten
Hipertensi yang belum terkontrol
Penyakit jantung iskemik
Lesi otot jantung, hidralazin, hirsutisme,
Nitroprusid
Nipride
Krisis hipertensi

Hipotensi berat, hepatotoksisitas


D.                KOMPLIKASI HIPERTENSI DAN FAKTOR RESIKO KARDIOVASKULAR
Hipertensi lama dan atau berat dapat menimbulkan komplikasi berupa kerusakan organ (target organ damage) pada jantung, otak, ginjal, mata dan pembuluh darah perifer.
Pada jantung dapat terjadi hipertropi ventrikel kiri sampai gagal jantung, pada otak dapat terjadi strok karena pecahnya pembuluh darah serebral dan pada ginjal dapat menyebabkan penyakit ginjal kronik sampai gagal ginjal. Pada mata dapat terjadi retinopati hipertensif berupa bercak-bercak perdarahan pada retina dan edema papil nervus optikus. Selain itu, hipertensi merupakan faktor resiko terjadinya aterosklerosis dengan akibat penyakit jantung koroner (angina pectoris sampai infark miokard) dan strok iskemik. Hipertensi yang sangat berat juga dapat menimbulkan aneurism aorta dan robeknya lapisan intima aorta (dissectin aneurisma).
Pengendalian berbagai faktor resiko pada hipertensi sangatlah penting untuk mencegah komplikasi kardiovaskuler. Faktor resiko yang dapat dmodifikasi antara lain tekanan darah, kelainan metabolik (diabetes mellitus, lipid darah, asam urat dan obesitas), merokok, alcohol dan inaktivitas, sedangkan yang tidak dapat dimodifikasi antara lain usia, jenis kelamin dan faktor genetik.
E.                 TUJUAN DAN STRATEGI PENGOBATAN HIPERTENSI
Tujuan pengobatan hipertensi adalah untuk menurunkan mortalitas dan morbiditas kardiovaskuler. Penurunan tekanan sistolik harus menjadi perhatian utama, karena pada umumnya tekanan diastolik akan terkontrol bersamaan dengan terkontrolnya tekanan sistolik. Target tekanan darah bila tanpa kelainan penyerta adalah <140/90 mmHg, sedangkan pada pasien dengan Diabetes mellitus atau kelainan ginjal, tekanan darah harus diturunkan di bawah 130/80 mmHg.
Terdapat hubungan yang nyata antara tekanan darah dengan kejadian kardiovaskular. Untuk individu berusia di atas 40 tahun, tiap peningkatan tekanan darah sebesar 20/10 mmHg meningkatkan resiko kejadian kardiovaskular dua kali lipat. Hal ini berlaku pada rentang tekanan darah 115/75 sampai 185/155 mmHg.
Strategi pengobatan hipertensi harus dimulai dengan perubahan gaya hidup (lifestyle modification) berupa diet rendah garam, berhenti merokok, mengurangi konsumsi alkohol, aktivitas fisik ang teratur dan penurunan berat badan bagi pasien dengan berat badan lebih. Selain dapat menurunkan tekanan darah, perubahan gaya hidup juga terbukti meningkatkan efektivitas obat antihipertensi dan menurunkan resiko kardiovasular.
Untuk hipertensi tingkat 1 tanpa faktor resiko dan tanpa target organ damage (TOD), perubahan pola hidup dapat dicoba sampai 12 bulan. Sedangkan bila disertai kelainan penyerta (compelling indications) seperti gagal jantung, pasca infark miokard, penyakit jantung koroner, diabetes mellitus dan riwayat stroke, maka terapi armakologi harus di mulai lebih dini mulai dari hipertensi tingkat 1. Bahkan untuk pasien dengan kelainan ginjal atau diabetes, pengobatan dimulai pada tahap prehipertensi dengan target TD <130/80 mmHg.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar