Beberapa
definisi anti hipertensi menurut :
1.
Priyanto, 2010
Anti hipertensi adalah
obat untuk menurunkan tekanan darah tinggi. Hipertensi adalah suatu keadaan
medis di mana terjadi peningkatan tekanan darah melebihi normal.Hipertensi
adalah peningkatan tekanan darah sehingga tekanan sistolik lebih dari 140 mmHg
dan tekanan diastolik lebih besar dari 90 mmHg.
2.
Anti hipertensi adalah
obat untuk menurunkan tekanan darah tinggi. Hipertensi adalah suatu keadaan
medis di mana terjadi peningkatan tekanan darah melebihi normal. Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sehingga
tekanan sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan diastolik lebih besar dari 90
mmHg.
A.
KLASIFIKASI
HIPERTENSI BERDASARKAN ETIOLOGINYA
Berdasarkan
etiologinya hipertensi dibagi menjadi :
1.
Hipertensi
Esensial
Hipertensi esensial atau hipertensi primer atau
idiopatik adalah hipertensi tanpa kelainan dasar patologi yang jelas. Lebih
dari 90% kasus merupakan hipertensi esensial. Penyebabnya multifaktorial
meliputi faktor genetik dan lingkungan. Faktor genetik mempengaruhi kepekaan
terhadap natrium, kepekaan terhadap stress, reaktivitas pembuluh darah terhadap
vasokonstriktor, resistensi insulin dan lain-lain. Sedangkan yang termasuk
faktor lingkungan antara lain diet, kebiasaan merokok, stress emosi, obesitas
dan lain-lain.
2.
Hipertensi
Sekunder
Meliputi 5-10% kasus hipertensi. Termasuk dalam
kelompok ini antara lain hipertensi akibat penyakit ginjal (hipertensi renal),
hipertensi endokrin, kelainan syaraf pusat, obat-obatan dan lain-lain.
Hipertensi renal dapat berupa hipertensi renovaskular,
misalnya pada stenosis arteri renalis, vaskulitis intrarenal, dan hipertensi
akibat lesi parenkim ginjal seperti pada glomerulonefritis, pielonefritis,
penyakit ginjal polikistik, nefropati diabetik dan lain-lain.
Hipertensi endokrin antara lain
akibat kelainan korteks adrenal (hiper -aldosteronisme primer, sindrom
cushing), tumor medulla adrenal (feokromositoma), hipertiroidisme,
hiperparatiroidisme, dan lain-lain.
Penyakit yang dapat menimbulkan
hipertensi antara lain koarktasioaorta, kelainan neurologik (tumor otak,
ensefalitis), stress akut, polisitemia dan lain-lain. Beberapa obat seperti
kontrasepsi hormonal, kortikosteroid, simpatomimetik, amin (efedrin,
fenilpropanolamin, fenilefrin, amfetamin), kokain, siklosporin dan
eritropoetin, juga dapat menyebabkan hipertensi.
B.
KLASIFIKASI
OBAT ANTI HIPERTENSI BERDASARKAN PADA TEMPAT REGULASI UTAMA ATAU TITIK TANGKAP
KERJANYA
Berdasarkan
pada tempat regulasi utama atau titik tangkap kerjanya, obat anti hipertensi di
bagi menjadi 5 macam yaitu :
1.
DIURETIK
Diuretik bekerja meningkatkan ekskresi
natrium, air dan klorida sehingga menurunkan volume darah dan cairan
ekstraseluler. Akibatnya terjadi penurunan curah jantung dan tekanan darah.
Selain mekanisme tersebut, beberapa diuretik juga menurunkan resistensi perifel
sehingga menambah efek hipotensinya.
Khasiat anti hipertensi diuretik :
adalah
berawal dari efeknya meningkatkan ekskresi natrium, klorida, dan air, sehingga
mengurangi volume plasma dan cairan ekstrasel. Tekanan darah turun akibat
berkurangnya curah jantung, sedangkan resistensi perifer tidak berubah pada
awal terapi. Pada pemberian kronik, volume plasma kembali tetapi masih
kira-kira 5% dibawah nilai sebelum pengobatan. Curah jantung kembali mendekati
normal. Tekanan darah tetap turun karena
sekarang resistensi perifer menurun. Vasodilatasi perifer yang terjadi kemudian
tampaknya bukan efek langsung tiazid tetapi karena adanya penyesuaian pembuluh
darah perifer terhadap pengurangan volume plasma yang terus-menerus.
Kemungkinan lain adalah berkurangnya volume cairan interstisial berakibat
berkurangnya kekakuan dinding pembuluh darah dan bertambahnya daya lentur
(compliance) vaskular.
Diuretik
dibagi menjadi 3, yaitu:
a). Diuretik Golongan Tiazid
Menghambat reabsorpsi natrium dan klorida pada pars
asendens ansa henle tebal, yang menyebabkan diuresis ringan. Suplemen kalium
mungkin diperlukan karena efeknya yang boros kalium.
Farmakokinetik :
Diabsorpsi dengan baik dalam
gastrointestinal. Hidroklorotiazid memiliki kakuatan ikat protein yang lebih
lemah dibandingkan dengan furosemid. Waktu paruh tiazid lebih panjang
dibandingkan diuretik loop. Untuk alasan ini, tiazid harus diberikan pada pagi
hari untuk menghindari nokturia (berkemiih di malam hari)
Farmakodinamik :
Tiazid bekerja langsung pada
arteriol, menyebabkan vasodilatasi sehingga dapat menurunkan tekanan darah.
Awal kerja dari hidrotiazid timbul dalam waktu 2 jam. Konsentrasi puncak
berbeda-beda. Tiazid terbagi dalam 3 kelompok sesuai dengan lama kerjanya, tiazid kerja pendek (klorotiazid,
hidroklorotiazid) memiliki kerja kurang dari 12 jam, tiazid kerja menengah
(bendroflumetiazid, benztiazid, sikotiazid)
lama kerjanya antara 12-24 jam dan yang bekerja lama (metiltiazid,
politiazid, triklormetiazid) memiliki
kerja lebih dari 24 jam.
Efek Samping dan Reaksi yang merugikan :
Ketidakseimbangan elektrolit
(hipokalemia, hipokalsemia, hipomagnesia dan kehilangan bikarbonat),
hiperglisemia, hiperuresemia, dan hiperlipidemia. Tiazid mempengaruhi
metabolisme karbohidrat dan biasa terjadi hiperglikemia terutama pada klien
yang memiliki kadar gula darah tinggi atau di atas batas normal.
Kontraindikasi :
Tiazid menjadi kontraindikasi untuk
dipakai pada penderita gagal ginjal.
Interaksi Obat :
Penggunaan dengan digoksin akan
menimbulkan efek yang serius, tiazid dapat menyebabkan hipokalemia yang
menguatkan kerja digoksin dan dapat terjadi keracunan digitalis.
Terdapat
beberapa obat yang termasuk golongan tiazid antara lain :
i. HIDROKLOROTIAZID (HCT)
Pengertian : merupakan prototipe golongan
tiazid dan di anjurkan untuk sebagian besar kasus hipertensi ringan dan sedang
dan dalam kombinasi dengan berbagai antihipertensi lain. Dalam dosis yang
ekuipoten berbagai golongan tiazid memiliki efek samping yang kurang lebih
sama.
Golongan tiazid umumnya kurang efektif pada gangguan fungsi ginjal dapat
memperburuk fungsi ginjal dan pada pemakaian lama menyebabkan hiperlipidemia
(peningkatan kolesterol, LDL dan trigliserida). Efek hipotensif tiazid baru
terlihat setelah 2-3 hari dan mencapai maksimum setelah 2-4 minggu.
Sediaan obat :
Tablet
Mekanisme kerja :
mendeplesi (mengosongkan) simpanan natrium sehingga volume darah, curah jantung
dan tahanan vaskuler perifer menurun. Dan menghambat reabsorpsi natrium dan
klorida dalam pars asendens ansa henle tebal dan awal tubulus distal. Hilangnya
K+, Na+, dan Cl- menyebabkan peningkatan pengeluaran urin 3x. Hilangnya natrium
menyebabkan turunnya GFR.
Farmakokinetik :
diabsorbsi dengan baik oleh saluran cerna. Di distribusi keseluruh ruang
ekstrasel dan hanya ditimbun dalam jaringan ginjal.
Indikasi : digunakan
untuk mengurangi edema akibat gagal jantung, cirrhosis hati, gagal ginjal
kronis, hipertensi, Obat awal yang ideal untuk hipertensi, edema kronik,
hiperkalsuria idiopatik. Digunakan untuk menurunkan pengeluaran urin pada
diabetes inspidus (GFR rendah menyebabkan peningkatan reabsorpsi dalam nefron
proksimal, hanya berefek pada diet rendah garam)
Kontraindikasi :
hypokalemia, hypomagnesemia, hyponatremia, hipertensi pada kehamilan,
hiperurisemia, hiperkalsemia, oliguria, anuria, kelemahan, penurunan aliran
plasenta, alergi sulfonamide, gangguan saluran cerna.
Dosis : Dewasa 25 – 50
mg/hr
Anak 0,5 – 1,0
mg/kgBB/ 12 – 24 jam
ii. INDAPAMID
Pengertian : Memiliki kelebihan karena masih efektif pada pasien gangguan fungsi ginjal,
bersifat netral pada metabolisme lemak dan efektif mergresi hipertrofi
ventrikel. Obat ini dapat mengurangi sympathetic
outflow dari sistem saraf autonom.
Penggunaan : Sampai sekarang tiazid merupakan obat utama dalam terapi hipertensi. Berbagai penelitian besar membuktikan bahwa diuretik terbukti paling
efektif dalam menurunkan resiko kardiovakuler.
Efek samping : Tiazid dalam dosis tinggi dapat menyebabkan hipokalemia yang dapat
berbahaya pada pasien yang mendapat digitalis. Efek samping ini dapat dihindari
bila tiazid diberikan dalam dosis rendah atau kombinasi dengan obat lain
seperti diuretik hemat kalium, atau penghambat enzim konvensi angiotensin (ACE- inhibitor).
Tiazid dapat menyebabkan hiponatremia dan hipomagnesimia serta
hiperkalesemia.
Tiazid dapat menghambat ekskresi asam urat dari ginjal dan pada pasien
hipererusemia dapat mencetuskan serangan gout akut.
Untuk menghindari efek metabolik ini tiazid harus digunakan dalam dosis
rendah dan dilakukan pengaturan diet. Tedensi hiperkalsemia oleh tiazid
dilaporkan dapat mengurangi resiko osteoporosis.
Tiazid dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL dan trigliserida.pada
penderita DM , tiazid dapat menyebabkan hiperglikemia karena mengurangi sekresi
insulin. Pada pasien pria, gangguan fungsi seksual merupakan efek samping
tiazid yang kadang-kadang cukup mengganggu.
b). Diuretik Kuat (Loop
Diuretics, Ceiling Diuretics)
Diuretik kuat bekerja di ansa
henle asenden bagian epitel tebal dengan cara menghambat ko transport Na+
,K+,Cl- dan menghambat resorpsi air dan elektrolit.
Mula kerjanya lebih cepat dan
efek diuretiknya lebih kuat daripada golongan tiazid, diuretik kuat jarang
digunakan sebagai anti hipertensi kecuali pada pasien dengan gangguan fungsi
ginjal (kreatinin serum >2,5 mg/dl) atau gagal jantung.
Farmakokinetik :
Cepat diabsorbsi di saluran
percernaan. Berikatan dengan protein sangat tinngi dengan waktu paruh yang
bervariasi dari 30 menit sampai 1.5 jam.
Farmakodinamik :
Memiliki efek saluretik yang besar
(kehilangan natrium) dan dapat menyebabkan dieresis cepat. Waktu awal kerja
dari diuretics loop terjadi setelah 30-60 menit.
Efek samping dan Reaksi yang merugikan :
Efek samping yang sering dijumpai
adalah ketidakseimbangan elektrolit dan cairan seperti hipokalsemia dan
hipokloremia. Hipotensi ortostatik dapat timbul. Trombositopenia, gangguan
kulit dan tulis sementara jarang terlihat.
Interaksi Obat: interaksi obat yang
paling utama adalah dengan preparat digitalis. Jika klien memakai digoksin
dengan diuretik kuat dapat terjadi keracunan digitalis. Klien ini memerlukan
tambahan kalium melalui makanan atau obat.
Yang termasuk
dalam golongan diuretik kuat antara lain :
i.
FUROSEMIDE
Nama paten :
Cetasix, farsix, furostic, impungsn, kutrix, Lasix,
salurix, uresix.
Sediaan obat
: Tablet,capsul, injeksi.
Mekanisme
kerja : mengurangi reabsorbsi aktif NaCl dalam lumen tubuli ke
dalam intersitium pada ascending limb of henle dan menghambat reabsorpsi
klorida dalam pars asendens ansa henle tebal. K+ banyak hilang ke dalam urin.
Indikasi : Diuretik
yang dipilih untuk pasien dengan GFR rendah dan kedaruratan hipertensi. Juga
edema, edema paru dan untuk mengeluarkan banyak cairan. Kadangkala digunakan
untuk menurunkan kadar kalium serum. Edema paru akut, edema yang disebabkan
penyakit jantung kongesti, sirosis hepatis, nefrotik sindrom, hipertensi.
Kontraindikasi : wanita hamil dan menyusui
Efek samping : pusing. Lesu, kaku otot, hipotensi,
mual, diare. Hiponatremia, hipokalemia, dehidrasi, hiperglikemia,
hiperurisemia, hipokalsemia, ototoksisitas, alergi sulfonamide, hipomagnesemia,
alkalosis hipokloremik, hipovolemia.
Interaksi obat : indometasin menurunkan efek
diuretiknya, efek ototoksit meningkat bila diberikan bersama aminoglikosid.
Tidak boleh diberikan bersama asam etakrinat. Toksisitas silisilat meningkat
bila diberikan bersamaan.
Dosis : Dewasa 40
mg/hr
Anak 2 – 6 mg/kgBB/hr
ii.
ASAM ETAKRINAT (ETHACRYNAT)
Indikasi : per oral untuk
edema, IV untuk edema paru.
Efek samping : paling
ototoksi, lebih banyak gangguan saluran cerna, kecil kemungkinan menyebabkan
alkalosisseperti furosemid.
c). Diuretik Hemat Kalium
Diuretik
hemat kalium lebih lemah dari tiazid dan diuretics loop, dipakai untuk diuretik
ringan atau dalam kombinasi dengan obat antihipertensi. Obat ini bekerja pada
tubulus distal ginjal untuk meningkatkan ekskresi natrium dan air dan retensi
kalium.
Obat
ini mengganggu pompa natrium kalium yang dikontrol oleh aldosteron hormon
mineralokotikoid (natrium ditahan dan kalium diekskresi). Kalium direabsorpsi
dan natrium diekskresi.
Spironolakton
adalah antagonis aldosteron yang ditemukan pada 1958, merupakan sebuah diuretik hemat kalium
pertama. Antagonis aldosteron menghambat pompa natrium kalium sehingga kalium
ditahan dan natrium diekskresi.
Efek samping dan reaksi yang
merugikan :
Efek
samping utama adalah hiperkalemia. Hati-hati dalam memberikan obat ini pada
klien yang fungsi ginjalnya buruk, karena 80-90 % dari kalium diekskresikan
oleh ginjal. Urin harus sekurang-kurangnya 600 ml sehari. Klien tidak boleh
memakai tambahan kalium kecuali jika kadar kalium dalam serum sangat rendah.
Meningkatkan
ekskresi natrium dan air sambil menekan kalium. Obat-obat ini dipasarkan dalam
gabungan diuretik
boros-kalium untuk memperkecil ketidakseimbangan kalium.
Macam-macam
obat diuretik Hemat Kalium :
i.
AMILORID (MIDAMOR)
Mekanisme kerja: secara langsung meningkatkan
ekskresi Na+ dan menurunkan sekresi K+ dalam tubulus
kontortus distal.
Indikasi : digunakan bersama diuretik lain
karena efek hemat-K+ mengurangi efek hipokalemik. Dapat mengoreksi
alkalosis metabolik.
Dosis: Awal: 5 (1x).
Maksimal:
10.
Frekuensi
pemberian: 1-2x.
Sediaan
: tablet 5 mg.
Efek samping : hiperkalemi, kekurangan natrium atau
air. Pasien dengan diabetes mellitus dapat mengalami intoleransi glukosa.
ii.
SPIRONOLAKTON (MIS.
ALDACTONE)
Mekanisme kerja : antagonis aldosteron (aldosteron
menyebabkan retensi Na+). Juga memiliki kerja serupa dengan
amilorid.
Indikasi : digunakan dengan tiazid untuk edema
(pada gagal jantung kongesif), sirosis, dan sindrom nefrotik. Juga digunakan
untuk mengobati atau mendiagnosis hiperaldosteronisme
Kontraindikasi : anuria, insufisiensi ginjal berat,
hiperkalemia. Hindari pada pasien diabetes.
Dosis : Awal: 25 (1x).
Maksimal:
100.
Frekuensi
pemberian: 1-2x.
Sediaan :
tablet 25mg; 100mg
Efek samping : seperti amilorid. Juga menyebabkan
ketidakseimbangan endokrin (jerawat, kulit berminyak, hirsutisme,
ginekomastia).
2.
PENGHAMBAT
ADRENERGIK
Agonis
adrenergik meningkatkan tekanan darah dengan merangsang jantung (reseptor ß1)
dan/atau membuat konstriksi pembuluh darah perifer (reseptor α1). Pada pasien
hipertensi, efek adrenergik dapat ditekan dengan menghambat pelepasan agonis
adrenergik atau melakukan antagonisasi reseptor adrenergic.
Penghambat adrenergik ada 5 yaitu:
a). Penghambat
Adrenoseptor Beta (ß-bloker)
ß-bloker
menurunkan TD berdiri dan berbaring sama kuat sehingga tidak menimbulkan
hipotensi ortostatik. Penurunan tekanan darah oleh ß-bloker yang diberikan per
oral berlangsung lambat.
Mekanisme
antihipertensi
Mekanisme
penurunan tekanan darah akibat pemberian ß-blocker dapat dikaitkan dengan
hambatan reseptor ß1 antara lain:
·
Penurunan frekuensi denyut
jantung dan kontraktilitas miokard sehingga menurunkan curah jantung
·
Hambatan sekresi renin di sel-sel
jukstaglomerulus ginjal akibat penurunan produksi angiotensin II
·
Efek sentral yang mempengaruhi
aktivitas saraf simpatis,perubahan pada sensivitas baroreseptor, perubahan
aktivitas neuron adregenik perifer dan peningkatan biosintesis prostasiklin
Penggunaan
ß-blocker
digunakan sebagai obat tahap pertama pada hipertensi ringan sampai sedang
terutama pada pasien dengan penyakit jantung koroner.
Efektifitas
antihipertensi berbagai ß-blocker tidak berbeda satu sama lain bila diberikan
dalam dosis yang ekuipoten. Dari berbagai ß-blocker atenolol merupakan
obat yang paling sering dipilih karena bersifat kardio-selektif dan
penetrisinya ke SSP minimal, sehingga kurang menimbulkan efek samping sentral
dan cukup diberikan sekali sehari. Dosis lazim adalah 50-100 mg per oral sekali
sehari.
Metoprolol diberikan 2
kali sehari dan kurang kardio selektif dibanding dengan atenolol, dosisnya
50-100 mg dua kali sehari.
Labetolol dan karvedilil
memiliki efek vasodilatasi karena selain menghambat reseptor ß, obat ini juga
menghambat reseptor ά.
Efek samping, perhatian
dan kontraindikasi
ß-blocker dapat
menyebabkan bradikardi,blokade AV ,hambatan nodus SA dan menurunkan kekuatan
kontraksi miokard. ß-blocker merupakan obat yang baik untuk hipertensi dengan
angina stabil kronik,tapi dapat memperberat gejala angina Prinzmetal (angina
variant) sehingga pemberiannya pada pasien hipertensi dengan angina harus
memperhatikan perbedaan kedua jenis angina.
Efek sentral
berupa depresi, mimpi buruk, halusinasi dapat terjadi dengan ß-blocker yang
lipofilik seperti propanorol dan oksprenolol.
Macam-macam
obat penghambat Adrenoseptor Beta (ß-bloker), antara lain :
i.
ATENOLOL (BETA BLOKER)
Golongan ini
merupakan obat yang dipakai dalam upaya pengontrolan tekanan darah bekerja
dengan melalui proses memperlambat kerja jantung dan memperlebar pembuluh
darah.
Nama paten : Betablok,
Farnomin, Tenoret, Tenoretic, Tenormin, internolol.
Sediaan obat : Tablet
Mekanisme
kerja : pengurahan curah jantung disertai vasodilatasi
perifer, efek pada reseptor adrenergic di SSP, penghambatan sekresi renin
akibat aktivasi adrenoseptor di ginjal.
Indikasi : hipertensi ringan – sedang, aritmia
Kontraindikasi
: gangguan konduksi AV, gagal jantung tersembunyi,
bradikardia, syok kardiogenik, anuria, asma, diabetes.
Efek samping
: nyeri otot, tangan kaki rasa dingin, lesu, gangguan
tidur, kulit kemerahan, impotensi.
Interaksi
obat : efek hipoglikemia diperpanjang bila diberikan bersama
insulin. Diuretik tiazid meningkatkan kadar trigliserid dan asam urat. Iskemia
perifer berat bila diberi bersama alkaloid ergot.
Dosis : 2 x 40 – 80
mg/hr
ii.
METOPROLOL (BETA BLOKER)
Nama paten : Cardiocel,
Lopresor, Seloken, Selozok
Sediaan obat
: Tablet
Mekanisme
kerja : pengurangan curah jantung yang diikuti vasodilatasi
perifer, efek pada reseptor adrenergic di SSP, penghambatan sekresi renin
akibat aktivasi adrenoseptor beta 1 di ginjal.
Farmakokinetik
: diabsorbsi dengan baik oleh saluran cerna.
Waktu paruhnya pendek, dan dapat diberikan beberapa kali sehari.
Farmakodinamik
: penghambat adrenergik beta menghambat perangsangan
simpatik, sehingga menurunkan denyut jantung dan tekanan darah. Penghambat beta dapat menembus barrier
plasenta dan dapat masuk ke ASI.
Indikasi : hipertensi,
miokard infard, angina pektoris
Kontraindikasi
: bradikardia sinus, blok jantung tingkat II dan III,
syok kardiogenik, gagal jantung tersembunyi.
Efek samping
: lesu, kaki dan tangan dingin, insomnia, mimpi buruk, diare.
Interaksi
obat : reserpine meningkatkan efek antihipertensinya
Dosis : 50 – 100
mg/kg
iii.
PROPRANOLOL (BETA BLOKER)
Nama paten : Blokard,
Inderal, Prestoral
Sediaan obat
: Tablet
Mekanisme
kerja : tidak begitu jelas, diduga karena menurunkan curah
jantung, menghambat pelepasan renin di ginjal, menghambat tonus simpatetik di
pusat vasomotor otak.
Farmakokinetik
: diabsorbsi dengan baik oleh saluran cerna. Waktu
paruhnya pendek, dan dapat diberikan beberapa kali sehari. Sangat mudah
berikatan dengan protein dan akan bersaing dengan obat – obat lain yang juga
sangat mudah berikatan dengan protein.
Farmakodinamik
: penghambat adrenergic beta menghambat perangsangan
simpatik, sehingga menurunkan denyut jantung dan tekanan darah. Penghambat beta
dapat menembus barrier plasenta dan dapat masuk ke ASI.
Indikasi : hipertensi,
angina pectoris, aritmia jantung, migren, stenosis subaortik hepertrofi,
miokard infark, feokromositoma
Kontraindikasi
: syok kardiogenik, asma bronkial, brikadikardia dan
blok jantung tingkat II dan III, gagal jantung kongestif. Hati – hati pemberian
pada penderita biabetes mellitus, wanita haminl dan menyusui.
Efek samping
: bradikardia, insomnia, mual, muntah, bronkospasme,
agranulositosis, depresi.
Interaksi
obat : hati – hati bila diberikan bersama dengan reserpine
karena menambah berat hipotensi dan kalsium antagonis karena menimbulkan
penekanan kontraktilitas miokard. Henti jantung dapat terjadi bila diberikan
bersama haloperidol. Fenitoin, fenobarbital, rifampin meningkatkan kebersihan
obat ini. Simetidin menurunkan metabolism propranolol. Etanolol menurukan
absorbsinya.
Dosis : dosis awal
2 x 40 mg/hr, diteruskan dosis pemeliharaan.
b). Penghambat Adrenoseptor Alfa (ά-bloker)
ά-bloker yang selektif memblok
adrenoseptor ά1 berguna untuk pengobatan hipertensi. ά - bloker yang
nonselektif juga menghambat adrenoseptor
ά 2 di ujung saraf adrenergik sehingga meningkatkan penglepasan NE.
Mekanisme
antihipertensi:
Hambatan reseptor ά1 menyebabkan
vasodilatasi di arteriol dan venula sehingga menurunkan resitensi perifer. Venodilatasi
menyebabkan aliran balik vena berkurang dan selanjutnya menurunkan curah
jantung.
Alfa bloker memiliki beberapa
keunggulan antara lain efek positif terhadap lipid darah (menurunkan LDL, dan
trigliserida dan meningkatkan HDL) dan mengurangi resitensi insulin, sehigga
cocok untuk pasien hipertensi dengan dislipedimia dan diabetes mellitus.
Efek samping:
Hipotensi
ortostatik sering terjadi pada pemberian dosis awal atau pada peningkatan dosis
(fenomena dosis pertama) terutama dengan obat yang kerjanya singkat seperti
prazosin.
Palpitasi,takikardi,sakit kepala,
mulut kering, diare udem perifer, hidung tersumbat dan lain-lain.
Macam-macam obat Penghambat
adrenoseptor alfa (ά-bloker), antara lain :
i.
KLONIDIN (ALFA ANTAGONIS)
Nama
paten : Catapres,
dixarit
Sediaan obat : Tablet, injeksi.
Mekanisme kerja : menghambat perangsangan saraf
adrenergic di SSP.
Indikasi : hipertensi, migren
Kontraindikasi
: wanita
hamil, penderita yang tidak patuh.
Efek samping : mulut kering, pusing mual, muntah, konstipasi.
Interaksi
obat : meningkatkan
efek antihistamin, andidepresan, antipsikotik, alcohol. Betabloker meningkatkan
efek antihipertensinya.
Dosis
: 150
– 300 mg/hr.
c). Adrenolitik Sentral
Yang paling sering digunakan metildopa, klonidin, guanfasin,
guanabensminoksidin, rimedin.
Macam-macam obat adrenolitik
sentral, antara lain :
i.
METILDOPA
Mekanisme kerja: merupakan
prodrug yang dalam SSP menggantikan kedudukan DOPA dalam sintesis ketekolamin
dengan hasil akhir ά-metilnorepinefrin. Efek anti hipertensinya diduga
disebabkan karena stimulasi reseptor ά-2 di sentral sehingga mengurangi sinyal
simpatis ke perifer.
Efek maksimal
tercapai setelah 6-8 jam setelah pemberian oral atau i.v.
Penggunaan: merupakan
antihipertensi tahap ke dua. Efektif bila di kombinasikan dengan diuretik. Dosis
efektif minimal 2x 125 mg perhari dan dosis maksimal 3 g perhari.
Efek samping:
Sedasi, hipotensi
postural,pusing mulut kering dan sakit kepala, depresi gangguan tidur,
impotensi, kecemasan, penglihatan kabur dan hidung tersumbat.
Nama
Dagang: Dopamet (Alpharma),
Medopa (Armoxindo), Tensipas (Kalbe Farma), Hyperpax (Soho)
Indikasi: Hipertensi, bersama dengan diuretika, krisis
hipertensi jika tidak diperlukan efek segera.
Kontraindikasi: depresi, penyakit hati aktif, feokromositoma,
porfiria, dan hipersensitifitas.
Efek samping: mulut kering, sedasi, depresi, mengantuk, diare,
retensi cairan, kerusakan hati, anemia hemolitika, sindrom mirip lupus
eritematosus, parkinsonismus, ruam kulit, dan hidung tersumbat
Peringatan: mempengaruhi hasil uji laboratorium, menurunkan dosis
awal pada gagal ginjal, disarqankan untuk melaksanakan hitung darah dan uji
fungsi hati, riwayat depresi.
Dosis dan aturan pakai: oral 250mg 2 kali sehari setelah makan, dosis
maksimal 4g/hari, infus intravena 250-500 mg diulangi setelah enam jam jika
diperlukan.
ii.
KLONIDIN
Bekerja pada
reseptor ά-2 di SSP dengan efek penurunan simpathetic outflow. Efek hipotensif
klonidin terjadi karena penurunan resistensi perifer dan curah jantung.
Penggunaan: sebagai obat
ke dua atau ketiga bila penurunan TD dengan diuretik belum optimal. Dosis 0,075
mg dua kali sehari dan dapat ditingkatkan sampai 0,6 mg/hari.
Efek samping: mulut kering
dan sedasi terjadi pada 50% pasien berkurang setrelah beberapa minggu pengobatan.
Efek sentral berupa mimpi buruk, insomnia, cemas dan depresi.klonidin jg dapat
menyebabkan rebound hipertension bila obat dihentikan secara mendadak.
iii.
GUANFASIN dan GUANABENZ
Sifat-sifat
farmakologik dan efek sampingnya mirip dengan klonidin. Efek antihipertensi
guanabenz mencapai maksimal setelah 2-4 jam setelah pemberian per oral dan
menghilang 10 jam kemudian. Bioavailabilitasnya tinggi,waktu paruh sekitar 6
jam dan sebagian besar obat dimetabolisme.
Guanfasin
mempunyai waktu paruh relatif panjang (14-18jam). Obat ini dieliminasi terutama
melalui ginjal dalam bentuk utuh dan metabolik. Dosis pemberiannya 0,5-3
mg/hari,sebaiknya diberikan sebelum tidur
iv.
MOKSONIDIN DAN RILMEDIN
Mempunyai
struktur yang mirip klonidin tapi 600 kali lebih selektif terhadap reseptor
imidazolin I1 dibandingkan dengan klonidin.
d). Penghambat Saraf Adrenergik
Macam-macam obat penghambat saraf
adrenergik, antara lain :
i.
RESERPIN
Merupakan obat pertama yang
diketahui dapat menghambat SSP. Pemberian reserpin mengakibatkan penurunan
curah jantung dan resistensi perifer.
Penggunaan: pemakaian
reserpin dibatasi oleh sering timbulnya efek samping sentral namun dalam dosis
rendah dan dalam kombinasi dengan diuretik merupakan obat yang efektif dengan
efek samping yang relatif rendah. Dosis harian dimulai dengan 0,05 mg sekali
sehari bersama diuretik dan jangan melebihi 0,25 mg/hari.
Efek samping: biasanya
bersifat sentral seperti letargi, mimpi buruk, depresi mental, kingesti nasal, hiperasiditas
lambung dan eksaserbesi ulkus peptikum, muntah.
ii.
GUANETIDIN DAN GUANADREL
Guanetidin bekerja pada neuron
adrenergik perifer. Obat ini ditransport secara aktif ke dalam vesikel saraf
dan menggeser neropinefrin ke luar vesikel.
Guanetidin menurunkan TD dengan
cara menurunkan curah jantung dan resistensi perifer.
Dosis lazim berkisar antara 10-50
mg sekali sehari. Obat ini tidak dapat menembus sawar darah otak sehingga tidak
menimbulakan efek samping sentral.
e). Penghambat Ganglion
Macam-macam obat penghambat ganglion,
antara lain :
i.
TRIMETAFAN
Merupakan satu satunya penghambat
ganglion yang digunakan di klinik.kerjanya cepat dan singkat dan digunakan
untuk menurunkan TD dengan segera pada hipertensi darurat terutama aneurisma
aorta disekan akut, untuk menghasilkan hipotensi yang terkendali selama opersai
besar. Obat ini diberikan secara IV dengan dosis 0,3-5 mg/menit
Efek hipotensi terjadi dalam 3-5
menit dan menghilang 15 menit setelah penghentian tetesan infus.
Efek samping yang terjadi
berkaitan dengan hambatan ganglion seperti ileus paralitik dan paralisis
kandung kemuh,mulut kering penglihatan kabur dan hipotensi
ortostatik,pembebasan histamin dari sel mast sehingga dapat menimbulakan
alergi.
3. VASOLIDATOR
Vasolidator
berfungsi untuk mengendurkan otot polos arteri, menyebabkan mereka untuk
membesar dan dengan demikian mengurangi resistensi terhadap aliran darah.
Macam-macam obat
vasilidator, antara lain :
i.
HIDRALAZIN
Nama
paten : Aproseline
Sediaan
obat : Tablet
Mekanisme
kerja : merelaksasi
otot polos arteriol sehingga resistensi perifer menurun, meningkatkan denyut
jantung.
Indikasi
: hipertensi,
gagal jantung.
Kontraindikasi : gagal ginjal, penyakit reumatik
jantung.
Efek
samping : sakit
kepala, takikardia, gangguan saluran cerna, muka merah, kulit kemerahan.
Interaksi
obat : hipotensi
berat terjadi bila diberikan bersama diazodsid.
Dosis
: 50
mg/hr, dibagi 2 – 3 dosis.
ii.
DIAZOKSID (HYPERSTAT)
Mekanisme
kerja : menurunkan resistensi vascular perifer, mungkin
dengan mengantagonis kalsium. Juga meningkatkan kadar glukosa serum dengan
menekan pelepasan insulin dan meningkatkan pelepasan glukosa hati.
Indikasi : kontrol
jangka pendek hipertensi berat di rumah sakit. Hipoglikemia akibat
hiperinsulinisme yang refrakter terhadap bentuk pengobatan lain.
Efek tak diinginkan : retensi
air dan natrium dan efek kardiovaskular yang disebabkannya. Hiperglikemia,
gangguan saluran cerna, hirsurisme, efek samping skstrapiramidal.
iii.
MINOKSIDIL
Bekerja membuka
kanal kalium sensitif ATP dengan akibat terjadinya effluks kalium dan
hiperpolarisasi membran yang diikuti oleh relaksasi otot polos pembuluh darah
dan vasodilatasi.
Penggunaan: obat ini
efektif pada hampir semua pasien dan berguna untuk terapi jangka panjang
hipertensi berat terhadap kombinasi 3 obat yang terdiri dari diuretik,
penghambat adrenergik dan vasodilator.minoksidil harus diberikan bersama
diuretik dan penghambat adrenergik untuk mencegah retensi cairan dan mengontrol
refleks simpatis.
Dosis dimulai dengan 1,25 mg satu atau dua kali sehari dan dapat
ditingkatkan sampai 40mg/hari
Efek samping dan perhatian
Retensi cairan
dan garam,efek samping karsiovaskular karena releks simpatis dan hipertrikosis.
iv.
NATRIUM NITROPRUSID
Merupakan donor
NO yang bekerja dengan mengaktifkan guanilat siklase dan meningkatkan konversi
GTP mejadi GMP –siklik pada otot polos pembuluh darah.
Nitroprusid
diberikan sebagai infus IV.
Penggunaan: nitroprusid
merupakan obat yang kerjanya paling cepat dan efektif untuk mengatasi
hipertensi darurat apapun penyebabnya. Dosis pemberian biasanya 0,5-10
ug/kg/menit, dosis rata-rata 3 ug/kg/menit menurunkan tekanan diastolik
sebanyak 30-40%
Efek samping
Toksisitas yang
akut merupakan akibat dari vasodilatasi berlebihan dan hipotensi.
4.
PENGHAMBAT ANGIOTENSIN-
CONVERTING ENZIME (ACE-INHIBITOR) DAN ANTAGONIS RESEPTOR ANGIOTENSIN II
(ANGITENSIN RECEPTOR BLOCKER, ARB)
a). Sistem
Renin Angiotensin Aldosteron (SRAA)
Renin merupakan
enzim proteolitik akan memecah angiotensinogen menjadi angiotensin I (A-I)
mejadi angiotensin II (A-II).
Sistem RAA tidak berperan aktif dalam mempertahankan
homeostatis TD pada subjek dengan volume darah dan kadar natrium yang normal
tetepi berperan penting dalam mempertahankan TD dan volume intravaskular
sewaktu terdapat deplesi natrium dan cairan.
Angiotensin
adalah suatu globulin yang disintesis dalam hati dan beredar dalam darah.
Renin berfungsi
mengubah angiotensinomogen menjadi angiotensin I yang merupakan hormon yang
belum aktif. selanjutnya angiotaensin I akan diubah oleh angiotensin converting
enzym (ACE) menjadi angiotensin II yang memiliki efek vasokontriksi yang sagat
kuat dan meransang sekresi aldosteron dari korteks adrenal.
Mekanisme kerja: angiotensin II suatu oktapeptida yang
merupakan komponen aktif dalam SRA dan bekerja pada sistem kardiovaskular dan
neuro endokrin.
b). Penghambat Angiotensin Converting
Enzyme (ACE-INHIBITOR)
Obat
dalam golongan ini menghambat enzim pengubah angiotensin (ACE) yang nantinya
akan menghambat pembentukan angiotensin II (vasokonstriktor) dan menghambat
pelepasan aldosteron. Aldosteron meningkatkan retensi natrium dan ekskresi
kalium. Jika aldosteron dihambat, natrium diekskresikan bersama-sama dengan
air. Katopril, enalapril dan lisinopril adalah ketiga antagonis angiotensin.
Penggunaan:
ACE
Inhibitor efektif untuk hipertensi ringan, sedang maupun berat. Bahkan beberapa
diantarnya dapat digunkaan pada krisis hipertensi seperti kaptopril dan
enalaprilat . Obat ini efektif pada sekitar 70 % pasien. Kombinasi dengan
β-blocker memberikan efek aditif. Kombinasi dengan vasodilator lain, termasuk
prazosin dan antagonis kalsium, memberi efek yang baik. Tetapi pemberian
bersama penghambat edrenergik lain yang menghambat respons adrenergik α dan β
(misalnya klonidin, metildopa, labetalol, atau kombinasi α dengan β blocker
sebaiknya dihindari karena dapat menimbulkan hipotensi berat dan berkepanjangan.
ACE-Inhibitor
terpilih untuk hipertensi dengan gagal jantung kongestif. Obat ini juga
menujukkan efek positif terhadap lipid darah dan mengurangi resistensi insulin
sehingga sangat baik untuk hipertensi pada diabetes, dislipidemia dan obesitas.
Obat ini juga sering digunakan untuk mengurangi proteiunuria pada sindrom
nefrotik dan nefropat DM. Selain itu ACE-inhibitor juga sangat baik untuk
hipertensi dengan hipertrofi ventrikel kiri, penyakit jantung koroner dan
lain-lain.
Farmakokinetik:
Kaptopril
diabsorpsi dengan baik pada pemberian oral dan bioavailabilitas 70-75%.
Pemberian bersama makanan akan mengurangi absorpsi sekitar 30 %, oleh karena
itu obat ini harus diberikan 1 jam sebelum makan. Sebagian besar ACE-inhibitor
mengalami metabolisme di hati, kecuali lisinopril yang tidak dimetabolisme.
Eliminasi umumnya melalui ginjal, kecuali fosinopril yang mengalami eliminasi
di ginjal dan bilier.
Efek samping:
Pada
awal pemberian dapat menimbulkan hipotensi. Batuk kering merupakaan efek
samping yang paling sering terjadi dengan insiden 5-20%, lebih sering pada
wanita dan lebih sering terjadi pada malam hari, diduga efek samping ini ada
kaitannya dengan peningkatan kadar bradikinin dan substansi P, dan / atau
prostaglandin. Efek samping ini bergantung pada besarnya dosis dan bersifat
reversibel bila obat dihentikan. Dapat menyebabkan hiperkalemia pada pasien
dengan gangguan fungsi ginjal atau pada pasien yang juga mendapati diuretic
hemat kalsium, AINS, suplemen kalium atau β-blocker.
Perhatian dan
Kontraindikasi:
ACE
Inhibitor dikontraindikasikan pada wanita hamil karena bersifat teratogenik.
Pemberian pada ibu menyusui juga kontraindikasi karena ACE inhibitor diekskresi
melalui ASI dan berakibat buruk terhadap fungsi ginjal bayi.Pemberian bersama
diuretic hemat kalium dapat menimulkan hiperkalemia. Pemberian bersama antasida
akan mengurangi absorpsi, sedangkan kombinasi dengan AINS akan mengurangi efek
antihipertensinya dan menambah resiko hiperkalemia.
Macam-macam
obat, antara lain :
i.
KAPTOPRIL
Nama
paten : Capoten
Sediaan obat : Tablet
Mekanisme kerja : menghambat enzim konversi angiotensin
sehingga menurunkan angiotensin II yang berakibat menurunnya pelepasan renin
dan aldosterone.
Indikasi : hipertensi, gagal jantung.
Kontraindikasi : hipersensivitas, hati – hati pada
penderita dengan riwayat angioedema dan wanita menyusui.
Efek samping : batuk, kulit kemerahan, konstipasi,
hipotensi, dyspepsia, pandangan kabur, myalgia.
Interaksi obat : hipotensi bertambah bila
diberikan bersama diuretika. Tidak boleh diberikan bersama dengan vasodilator
seperti nitrogliserin atau preparat nitrat lain. Indometasin dan AINS lainnya
menurunkan efek obat ini. Meningkatkan toksisitas litium.
Dosis : 2 – 3 x 25 mg/hr.
ii.
LISINOPRIL
Nama paten : Zestril
Sediaan obat : Tablet
Mekanisme kerja : menghambat enzim konversi
angiotensin sehingga perubahan angiotensin I menjadi angiotensin II terganggu,
mengakibatkan menurunnya aktivitas vasopressor dan sekresi aldosterone.
Indikasi : hipertensi
Kontraindikasi : penderita dengan riwayat angioedema,
wanita hamil, hipersensivitas.
Efek samping : batuk, pusing, rasa lelah, nyeri
sendi, bingung, insomnia, pusing.
Interaksi obat : efek hipotensi bertambah bila
diberikan bersama diuretic. Indomitasin meningkatkan efektivitasnya.
Intoksikasi litium meningkat bila diberikan bersama.
Dosis : awal 10 mg/hr
iii.
RAMIPRIL
Nama paten : Triatec
Sediaan obat : Tablet
Mekanisme kerja : menghambat enzim konversi
angiotensin sehingga perubahan angiotensin I menjadi angiotensin II terganggu,
mengakibatkan menurunnya aktivitas vasopressor dan sekresi aldosterone.
Indikasi : hipertensi
Kontraindikasi : penderita dengan riwayat angioedema,
hipersensivitas. Hati – hati pemberian pada wanita hamil dan menyusui.
Efek samping : batuk, pusing, sakit kepala, rasa
letih, nyeri perut, bingung, susah tidur.
Interaksi obat : hipotensi bertambah bila diberikan
bersama diuretika. Indometasin menurunkan efektivitasnya. Intoksitosis litiumm
meningkat.
Dosis : awal 2,5 mg/hr
c).
Antagonis reseptor angiotensin II
Sifatnya mirip penghambat ACE, bedanya adalah obat-obat golongan ini tidak menghambat pemecahan bradikin dan kinin-kinin lainnya, sehingga tampaknya tidak menimbulkan batuk kering parsisten yang biasanya mengganggu terapi dengan penghambat ACE. Karena itu, obat-obat golongan ini merupakan alternatif yang berguna untuk pasien yang harus menghentikan penghambat ACE akibat batuk yang parsisten.
Sifatnya mirip penghambat ACE, bedanya adalah obat-obat golongan ini tidak menghambat pemecahan bradikin dan kinin-kinin lainnya, sehingga tampaknya tidak menimbulkan batuk kering parsisten yang biasanya mengganggu terapi dengan penghambat ACE. Karena itu, obat-obat golongan ini merupakan alternatif yang berguna untuk pasien yang harus menghentikan penghambat ACE akibat batuk yang parsisten.
5. ANTAGONIS
KALSIUM
Menurunkan kontraksi otot polos
jantung dan atau arteri dengan mengintervensi influks kalsium yang dibutuhkan
untuk kontraksi. Penghambat kalsium memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam
menurunkan denyut jantung. Volume sekuncup dan resistensi perifer.
Macam-macam obat antagonis kalsium,
antara lain :
i.
DILTIAZEM (KALSIUM ANTAGONIS)
Nama paten : Farmabes,
Herbeser, Diltikor.
Sediaan obat
: Tablet, kapsul
Mekanisme
kerja : menghambat asupan, pelepasan atau kerja kalsium
melalui slow cannel calcium.
Indikasi : hipertensi,
angina pectoris, MCI, penyakit vaskuler perifer.
Kontraindikasi
: wanita hamil dan menyusui, gagal jantung.
Efek samping
: bradikardia, pusing, lelah, edema kaki, gangguan
saluran cerna.
Interaksi
obat : menurunkan denyut jantung bila diberikan bersama beta
bloker. Efek terhadap konduksi jantung dipengaruhi bila diberikan bersama
amiodaron dan digoksin. Simotidin meningkatkan efeknya.
Dosis : 3
x 30 mg/hr sebelum makan
ii.
NIFEDIPIN (ANTAGONIS KALSIUM)
Nama paten :
Adalat, Carvas, Cordalat, Coronipin, Farmalat,
Nifecard, Vasdalat.
Sediaan obat
: Tablet, kaplet
Mekanisme
kerja : menurunkan resistensi vaskuler perifer, menurunkan
spasme arteri coroner.
Indikasi : hipertensi,
angina yang disebabkan vasospasme coroner, gagal jantung refrakter.
Kontraindikasi
: gagal jantung berat, stenosis berat, wanita hamil dan
menyusui.
Efek samping
: sakit kepala, takikardia, hipotensi, edema kaki.
Interaksi
obat : pemberian bersama beta bloker menimbulkan hipotensi
berat atau eksaserbasi angina. Meningkatkan digitalis dalam darah. Meningkatkan
waktu protombin bila diberikan bersama antikoagulan. Simetidin meningkatkan
kadarnya dalam plasma.
DOSIS : 3 X 10 MG/HR
iii.
VERAPAMIL (ANTAGONIS KALSIUM)
Nama paten :
Isoptil
Sediaan obat
: Tablet, injeksi
Mekanisme
kerja : menghambat masuknya ion Ca ke dalam sel otot jantung
dan vaskuler sistemik sehingga menyebabkan relaksasi arteri coroner, dan
menurunkan resistensi perifer sehingga menurunkan penggunaan oksigen.
Indikasi : hipertensi,
angina pectoris, aritmia jantung, migren.
Kontraindikasi
: gangguan ventrikel berat, syok kardiogenik, fibrilasi,
blok jantung tingkat II dan III, hipersensivitas.
Efek samping
: konstipasi, mual, hipotensi, sakit kepala, edema,
lesu, dipsnea, bradikardia, kulit kemerahan.
Interaksi
obat : pemberian bersama beta bloker bias menimbulkan efek
negative pada denyut, kondiksi dan kontraktilitas jantung. Meningkatkan kadar
digoksin dalam darah. Pemberian bersama antihipertensi lain menimbulkan efek
hipotensi berat. Meningkatkan kadar karbamazepin, litium, siklosporin. Rifampin
menurunkan efektivitasnya. Perbaikan kontraklitas jantung bila diberi bersama
flekaind dan penurunan tekanan darah yang berate bila diberi bersama kuinidin.
Fenobarbital nemingkatkan kebersihan obat ini.
Dosis : 3 x 80 mg/hr
C.
NAMA OBAT ANTI HIPERTENSI YANG BEREDAR DI PASARAN
Tabel (Deuritik)
|
Golongan
Obat
|
Merek dagang
|
Indikasi
|
Kontraindikasi
|
Efek tak diharapkan
|
|
Tiazid
|
Hydrodiuril
|
Ideal
untuk hipertensi, dan edema-kronik
|
Ibu hamil,
anuria
|
Hipokalemia,
Hiperglikemi,Oliguria,
anuria, hiperkalsemia
|
|
Loop
diuretic
|
Lasik
(furosemid)
|
Untuk
darurat hipertensi, edema, dan edema paru
|
Kekurangan
elektrolit, anuria
|
Dehidrasi,
hipokalemia, hiperglikemi, hipovolemia
|
|
Antagonis
reseptor aldosteron
|
Midamor
(amilorid)
|
Dapat
mengoreksi alkalosis metabolik
|
Hiperkalemia
berat dengan suplemen kalsium
|
Hiperkalemia,
kekurangan natrium atau air
|
Tabel (Simpatolitik)
|
Golongan
Obat
|
Merek dagang
|
Indikasi
|
Kontraindikasi
|
Efek tak
diharapkan
|
|
α –
blocker
|
Klonidin
(Catapresan)
|
Baik untuk
hipertensi
|
Bradikardi,hipotensi,sindrom
simpul sinus
|
Mulut
kering, hipotensi, bradikardi, sedasi
|
|
β –
blocker
|
Atenolol
(Tenormin)
|
Baik untuk
hipertensi ringan dan sedang
|
Diabetes
berat, bradikardi, gagal jantung, asma
|
Depresi
dan sedasi susunan saraf pusat
|
Tabel
(Penghambat Angiotensin)
|
Golongan
Obat
|
Merek
Dagang
|
Indikasi
|
Kontraindikasi
|
Efek tak diharapkan
|
|
ACE inhibitor
|
Kaptopril
(Capoten)
|
Hipertensi dengan renin tinggi,
|
Hipotensi, pusing, ruam, takikardi
|
|
|
ARB
|
Losartan (Lozaar)
|
Hipertensi esensial
|
Gangguan fungsiginjal, anak-anak, kehamilan, masa
menyusui
|
Vertigo, ruam kulit, gangguan ortostatik
|
Tabel (Vasodilatator)
|
Golongan
Obat
|
Merek dagang
|
Indikasi
|
Kontraindikasi
|
Efek tak diharapkan
|
|
Hidralazin
|
Apresoline
|
Hipertensi sedang
|
Penyakit jantung iskemik
|
Retensi cairan, palpitasi, refleks takikardi
|
|
Monoksidil
|
Loniten
|
Hipertensi yang belum terkontrol
|
Penyakit jantung iskemik
|
Lesi otot jantung, hidralazin, hirsutisme,
|
|
Nitroprusid
|
Nipride
|
Krisis hipertensi
|
Hipotensi berat, hepatotoksisitas
|
D.
KOMPLIKASI
HIPERTENSI DAN FAKTOR RESIKO KARDIOVASKULAR
Hipertensi lama dan atau berat dapat menimbulkan
komplikasi berupa kerusakan organ (target
organ damage) pada jantung, otak, ginjal, mata dan pembuluh darah perifer.
Pada jantung dapat terjadi hipertropi ventrikel kiri
sampai gagal jantung, pada otak dapat terjadi strok karena pecahnya pembuluh
darah serebral dan pada ginjal dapat menyebabkan penyakit ginjal kronik sampai
gagal ginjal. Pada mata dapat terjadi retinopati hipertensif berupa
bercak-bercak perdarahan pada retina dan edema papil nervus optikus. Selain itu,
hipertensi merupakan faktor resiko terjadinya aterosklerosis dengan akibat
penyakit jantung koroner (angina pectoris sampai infark miokard) dan strok
iskemik. Hipertensi yang sangat berat juga dapat menimbulkan aneurism aorta dan
robeknya lapisan intima aorta (dissectin
aneurisma).
Pengendalian berbagai faktor resiko pada hipertensi
sangatlah penting untuk mencegah komplikasi kardiovaskuler. Faktor resiko yang
dapat dmodifikasi antara lain tekanan darah, kelainan metabolik (diabetes
mellitus, lipid darah, asam urat dan obesitas), merokok, alcohol dan
inaktivitas, sedangkan yang tidak dapat dimodifikasi antara lain usia, jenis
kelamin dan faktor genetik.
E.
TUJUAN
DAN STRATEGI PENGOBATAN HIPERTENSI
Tujuan pengobatan hipertensi adalah untuk menurunkan mortalitas
dan morbiditas kardiovaskuler. Penurunan tekanan sistolik harus menjadi
perhatian utama, karena pada umumnya tekanan diastolik akan terkontrol
bersamaan dengan terkontrolnya tekanan sistolik. Target tekanan darah bila
tanpa kelainan penyerta adalah <140/90 mmHg, sedangkan pada pasien dengan
Diabetes mellitus atau kelainan ginjal, tekanan darah harus diturunkan di bawah
130/80 mmHg.
Terdapat hubungan yang nyata antara tekanan darah
dengan kejadian kardiovaskular. Untuk individu berusia di atas 40 tahun, tiap
peningkatan tekanan darah sebesar 20/10 mmHg meningkatkan resiko kejadian
kardiovaskular dua kali lipat. Hal ini berlaku pada rentang tekanan darah
115/75 sampai 185/155 mmHg.
Strategi pengobatan hipertensi harus dimulai dengan
perubahan gaya hidup (lifestyle
modification) berupa diet rendah garam, berhenti merokok, mengurangi
konsumsi alkohol, aktivitas fisik ang teratur dan penurunan berat badan bagi
pasien dengan berat badan lebih. Selain dapat menurunkan tekanan darah,
perubahan gaya hidup juga terbukti meningkatkan efektivitas obat antihipertensi
dan menurunkan resiko kardiovasular.
Untuk hipertensi tingkat 1 tanpa faktor resiko dan
tanpa target organ damage (TOD),
perubahan pola hidup dapat dicoba sampai 12 bulan. Sedangkan bila disertai
kelainan penyerta (compelling indications) seperti gagal jantung, pasca infark
miokard, penyakit jantung koroner, diabetes mellitus dan riwayat stroke, maka
terapi armakologi harus di mulai lebih dini mulai dari hipertensi tingkat 1.
Bahkan untuk pasien dengan kelainan ginjal atau diabetes, pengobatan dimulai
pada tahap prehipertensi dengan target TD <130/80 mmHg.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar